Nyamannya Tidur Siang (Dengan Si Bayi)

Sumber: Facebook

Waktu belum punya anak, saya nggak terlalu getol tidur siang. Salah satu kegiatan yang menurut saya penting-ga penting. Kalau bablas tidur bisa malamnya susah tidur. Kalau nggak tidur siang, biasanya nggak apa-apa juga. Ngantuk-ngantuk dikit aja.

Lain kalau sudah punya anak. Saya nggak bisa dengan gampangnya tidurkan si bayi dan lalu berkegiatan lain. Sangat random, saya nggak bisa nebak apa dia bisa tidur. Atau, bisa tidur lama atau tidak.

Seringnya sih dia tertidur dan saya sibuk kerja melalui handphone. Tau-tau ia sudah terbangun lagi, atau sudah sore. Tapi nikmatnya, kalau saya capek dan ingin tidur siang. Ya, suasana kamar kadang mengundang juga untuk tidur.

Samuel atau mungkin juga banyak bayi lain tahu kalau ibunya jauh. Jadi amannya saya nggak jauh-jauh dari dia. Makanya, kalau saya juga tidur siang, aktivitas tidur siang jadi nikmat banget. 

Merasa ada makhluk mungil lucu yang butuh kita saat istirahat, di atmosfir yang comfy di kamar tidur, itu sangat joyful. Lalu kita juga sedang dalam mode cuddling, atau berpelukan. Belum melihat si bayi tertidur lelap dengan wajah polos. Wah, rasanya nikmat banget hehe. 

Itu salah satu hal yang membahagiakan mungkin saat punya bayi. Ia nggak nuntut banyak selain keberadaan kita, itu sudah cukup. Sederhana tapi fulfilling sekali. Mungkin juga karena ada efek bonding dari menyusui. Kalah deh kongkow seru di cafe ibukota, karena kadang kegiatan diluar nggak seseru kelihatannya. 

Cuma kalau si bayi malah mau main ceria dan kitanya cape berat mau tidur siang, itu pe-er banget…

Bagaimana pengalaman tidur siang kamu dengan si kecil?

Advertisements

Sekeping Pikiran di Pagi Hari

Akhir-akhir ini doyan minum teh susu buat sarapan

Pagi ini saya bangun kepagian. Maksudnya, kepagian dari harapan saya. Karena si kecil gelisah meski sekali-sekali ia tersenyum. Tapi badannya goyang ke kiri dan ke kanan terus. Ia tidak lapar. Saya pikir, pasti gara-gara popok.

Semalam saya berusaha tidurkan dia jam 9, tapi ia baru tidur jam setengah sebelas. Yah, semakin sedikit waktu me time saya sebelum tidur. 

Sebenarnya saya nggak pernah berharap bisa ada me time sejak ia lahir, setidaknya sampai ia lebih besar. Tapi beberapa kali, ajaibnya, ia sudah tertidur jam 9 malam. Habis itu malah saya bingung mau ngapain. Tapi habis itu senang, karena Tuhan sisakan sedikit waktu buat saya sendiri.

Eh, tapi sejak malam takbiran Idul Adha, yang buat ia terbangun-bangun, ia jadi tidur lebih malam. Dan setelah itu, saya sering kecewa karena waktu me time saya semakin sempit. Saya jadi dilema mau tidur saja atau me time. Seringnya saya pilih me time. Meski begitu, saya hargai sedikit waktu itu. 

Ya wajarlah. Katanya tahun pertama punya anak, orangtuanya kehilangan waktu tidur sampai berapa persen gitu. Ya memang gak cuma pas jadi orangtua, saya kehilangan waktu tidur. Jadi nggak gitu kaget atau nafsu pengen ganti jam tidur.

Tapi sebenarnya mau ngapain sih? Sisa waktu sedikit itu paling buat nonton TV atau kadang menyempurnakan kerjaan saya. Atau nonton Youtube sama suami sesekali. Kadang, ngobrol serius. Tapi sedikit waktu itu berharga sekali, walau kadang saya sudah ngantuk untuk bisa menikmati waktu.

Sekarang, habis saya ganti popok si bayi, saya sarapan sambil ditemani dia. Gak rewel, cuma kadang bengong lihatin saya dan bikin saya ngga enak karena sambil nonton TV. Habis jemur nanggung karena mendung, saya susui dan sekarang ia tertidur. Terus saya kembali bingung mau apa, maksudnya mau ngerjain apa dulu.

Malasnya ketika mendung untuk terlalu aktif. Saya pikir, ngeblog aja deh, sambil stand by kalau si kecil nangis. Lalu mikir, sudah tulis ajalah yang mau ditulis.

Cuma sekeping pikiran di pagi hari. Bagaimana dengan pagi kamu?

‘Pemaaf’-nya Bayi

Waktu saya baru melahirkan, satu dari banyak hal yang saya takutkan adalah merawat bayi itu sendiri. Saya tak tahu banyak soal mengurus bayi, selain dari baca-baca dan tanya sana-sini. Tentunya nggak ada yang ngalahin pengalaman. 

Alhamdulillah, suami saya pernah membantu ibunya merawat adik-adiknya. Ketenangan suami dan pengalamannya menenangkan saya. Tapi tetap saja, saya yang sering memegang bayi. Bukan karena suami bekerja (ia bekerja di rumah), tapi karena saya yang harus menyusui dan memang sudah tanggung jawab seorang ibu. 

Sumber: Pinterest

Kerepotan sudah jadi satu paket kalau baru melahirkan bayi. Dan, sudah pasti kamu bakal panik dan buat kesalahan (yang bikin panik). Tapi yang saya syukuri (mengesampingkan wanti-wanti orang yang lebih tua) adalah bagaimana ‘pemaaf’-nya bayi.

Kata ‘pemaaf’ saya pinjam dari sebuah artikel yang saya baca saat masih hamil baby Samuel. Saya lupa judul persisnya, tapi artikel itu intinya ingin memberi sedikit ketenangan untuk para ibu baru. Artikel itu bilang kalau bayi itu ‘pemaaf’. 

Pemaaf disini adalah kondisi bayi yang tidak akan menghakimi cara kita dalam merawatnya. Ia akan tetap tersenyum jika nyaman atau kenyang. Ia cuma akan menangis jika ada sesuatu yang tidak beres. Ya, bayi (menurut saya) cuma butuh disayang, dan itu akhirnya termasuk dirawat dengan baik. 

Tentu saja, bukan berarti kita bisa manfaatkan polos dan ketidaktahuan si bayi dengan slacking off atau malas, sehingga tidak belajar. Semakin lama, ya kita tahu yang paling baik untuk si bayi dan kita memperbarui cara-cara yang lama jadi lebih baik. 

Pernah saya salah potong kuku baby Samuel hingga berdarah. Selain dari teguran suami, saya ngerasa bersalah lihat Sam menangis karena perih. Memang salahnya saya maksa potong kuku di penerangan yang kurang maksimal. Dan juga kurang tenang dalam memotong kukunya. 

Setelah memeluknya dan bilang ‘maaf ya’ berulang kali, tetap rasanya masih nggak bisa lepas dari rasa bersalah. Tapi sorenya, Samuel tersenyum dan tertawa lagi melihat saya dengan kuku yang sudah terbalut penutup luka.

Ada beberapa kesalahan kecil saya yang lain, tapi yang buat saya terenyuh bayi selalu akhirnya tersenyum lagi. Bahkan ngajak saya bercanda. Yah tapi sekarang-sekarang dia sudah bisa ngambek kecil kalau saya sibuk di dapur atau lagi urus rumah dan terpaksa ‘nyuekin’ dia. Tapi usai itu dia balik ceria lagi.

So mommies, mari bersyukur dengan ‘pemaaf’-nya bayi. Dan, jangan lupa terus belajar.

Angelina Jolie and Being A Mother

Pertama kali di posting di sunglowandme.wordpress.com. Saya menulis ini ketika masih hamil baby Sam.

February’s ending already, so soon! I’ve entered 27 weeks of pregnancy, so many development and I can feel the baby’s movement in my belly. Also heard his heartbeat couple of weeks ago, such an amazing thing.

There’s a lot of topic to blog. But what comes to my mind this morning, was Angelina Jolie’s statement about how she never wanted to be a mother.

“It’s strange, I never wanted to have a baby. I never wanted to be pregnant. I never babysat. I never thought of myself as a mother,” the now mother-of-six revealed.

It was while playing with children at a Cambodian school during an early trip as goodwill ambassador for the U.N. that everything changed for her: “It was suddenly very clear to me that my son was in the country, somewhere.”

brad-pitt-angelina-jolie-w-magazine-2
Lovely picture of Angelina Jolie being a mother that was taken by Brad Pitt himself

Amazing how a mother of 6 kids said that. You always think when you see Angelina Jolie adopting and having a baby thinking, wow she had it (being a mother) in her blood. I never saw Angelina Jolie to be one after seeing her bad ass characters in movies.

I never actually saw myself as a mother too. Never pictured myself pregnant (except for imagining a bit what married life would be). I babysat for only maybe an hour or two for my sister’s kids, or maybe when she went out for a couple of minutes, like that counts. When I just got married, people asked when or why you’re not pregnant yet. I thought, ‘I just got married.’ I’m not Charlotte from SATC, who mastered everything about being a mother before she even got pregnant. I still amazed on the baby stuffs I should buy when I browsed it the other day.

When I just found out that I am pregnant, I wondered that if I can be a mother or have the instinct to be. One of my relative said, ‘(Don’t worry) It should come naturally.’ I think when the moment comes, the moment comes.

a6756a5c1058ed5e863725059e7bbea7
from the Baby Mama movie, an exaggerated expression when it’s quite weird to eat healthy all the time

But I experience the baby kick when I played on Coldplay song the other day. When the big thunder blared, he kicked (perhaps surprised with the sound). When the TV aired someone did a bad karaoke singing as well. I feel the connection, which is something I never experience before, which is very beautiful. Or, when my husband feel and kiss the belly affectionately. Or, the urgency to eat everything that did not contain any bad element for the baby.

Of course it’s hard, being a mother, from the very early of pregnancy (well, I’m not a mother fully yet). I think that’s why women now not eager to be one, considering all the hassle and pain, and the sacrificing, and it goes on for 20 years perhaps. But I wondered though, why some women keep doing it anyway? Like why Angelina Jolie have 6 kids? Or, some families who have 12 kids and keep their sanity at the same time.

I saw their faces. It’s the joy.

Yes, motherhood. I always felt when I feel like I’m ready to be a mother, I’ll be a mother. But in some cases in my life, life throws me one before I know I’m ready.

Babies are pure, we are the ones who messes them. I think, though parents are there to guide them, kids also unconsciously ‘guide’ the parents. Test their patience and their ability (this Indonesian article said it). It’s up to the parents if they chose to be caught by it.

I said this before being a parent, so perhaps I won’t be as perfect. But it’s important to remember this after opening this new chapter. So Angelina Jolie, it’s an inspiring experience you shared. And bismillah, for me and my hubby to this new chapter.

Dunia Sebelum Samuel

Bingung, posting apa untuk ‘membuka’ blog ini. Proses kelahiran Samuel? Ah nanti dulu. Proses ketemu suami? Kejauhan. Hmm, gimana kalau situasi sebelum Baby Samuel lahir?

Eh, bukan tentang situasi ranjang ya maksudnya 😁

Hidup seperti dalam persimpangan sebelum saya mengandung


Tahun 2015, atau akhir 2014, almarhum Papa saya masih ada. Orangtua saya memang bukan tipe yang suka nanya ‘udah isi?’ seperti beberapa saudara saya. Tapi papa saya beberapa kali menganjurkan saya baca ayat Al-Qur’an tertentu untuk memudahkan saya hamil. Ibu saya pernah bilang, nggak usah pikirin pertanyaan udah hamil atau belum. Bahkan kakak saya juga bilang, kalau belum siap ya jangan dulu lah. 

Sejujurnya, saya bukan tipe wanita yang secara alami punya naluri keibuan dari sebelum punya anak. Saya anak bungsu yang kelamaan diperlakukan sebagai bungsu. Waktu keponakan saya sudah ada pun butuh beberapa waktu untuk saya berperan menjadi ‘tante’. Jadi ketika suami ngomongin punya anak habis nikah, saya masih ragu-ragu. Malah saya agak takut.

Saya nggak berani bilang nggak mau punya, karena saya nggak yakin 100% juga nggak mau punya seumur hidup. Wallahu’alam, karena hati juga yang atur Allah. Saya cuma lihat repotnya kakak saya mengatur anaknya. Mengingat betapa gampang naiknya emosi Ibu saya ketika pulang kerja kantoran karena capek. Yah, saya cuma fokus ke capeknya aja deh.

Plus, karena saya doyan nonton film dan serial TV barat yang mempertontonkan wanita yang mandiri atau ‘dipaksa harus punya anak’, yah jadi sedikit banyak terpengaruh.

Lalu transisi itu datang. Dari kerja kantoran jadi kerja dari rumah, meski kerjanya nggak sepadat kantoran juga. Nggak gampang alami transisi itu, tapi perubahan itu perlu. Saya juga ‘belajar’ dulu peran saya menjadi istri. 

Kembali ke anjuran papa saya untuk baca ayat Qur’an. Saya mengiyakan, tapi lama kelamaan Papa saya seperti melihat kalau saya dan suami terbilang santai untuk urusan ini. Intinya kalau dikasih, Alhamdulillah. Kalau nggak, ya sudah. Sebenarnya lebih ke mengurangi tekanan saja. Kalau saya sendiri, yah masih nervous jadi ibu. 

Ketika Papa saya lalu dipanggil oleh-Nya, situasi saya sudah tak terlalu fokus ke karir. Saya seperti bingung apalagi yang mau saya cari. Mengingat sepertinya punya cucu akan sangat membahagiakan beliau, terlintas di kepala kalau saya tak keberatan punya anak kalau itu bisa bahagiakan Papa. Melihat ‘lahan kosong’ dalam hidup saya, saya pikir, ‘Sekalian saja saya punya anak.’

Dan tak lama, selang kira-kira sebulan dari kepergian Papa, adalah haid terakhir saya sebelum saya mengandung Samuel. Be careful what you wish for, padahal pikiran itu baru seperti segumpal kecil awan dalam kepala. Tahu-tahu, saya sudah hamil.

Halo :)

Hai, Halo, Assalamu’alaikum,

Sunglow Mama ditujukan untuk menceritakan pengalaman motherhood saya. Sebelumnya saya punya blog personal bernama Sunglow & Me. Terpikir untuk bikin blog khusus tentang menjadi Ibu, bingung cari nama, ya sudah jadinya pakai nama Sunglow Mama.

Rasanya kalau bikin posting tentang anak terus di blog lama akan mengganggu mereka yang sudah join sebelum saya jadi Ibu. Kayaknya akan lebih total bikin blog khusus tentang motherhood. Plus, kesempatan ‘bertemu’ blogger mama lain lebih mungkin.

Bayi saya sekarang sudah berumur 3 bulan, tepatnya 14 minggu. I’ll call him Baby Samuel in this blog. Or, baby Sam. Dia lahir dengan berat 2,8 kg dan panjang 47,5 cm dengan operasi caesar tanggal 16 Mei 2016 jam 20.00. I’ll tell him more ya on the next post!

Stay tune 🙂