Dunia Sebelum Samuel

Bingung, posting apa untuk ‘membuka’ blog ini. Proses kelahiran Samuel? Ah nanti dulu. Proses ketemu suami? Kejauhan. Hmm, gimana kalau situasi sebelum Baby Samuel lahir?

Eh, bukan tentang situasi ranjang ya maksudnya ๐Ÿ˜

Hidup seperti dalam persimpangan sebelum saya mengandung


Tahun 2015, atau akhir 2014, almarhum Papa saya masih ada. Orangtua saya memang bukan tipe yang suka nanya ‘udah isi?’ seperti beberapa saudara saya. Tapi papa saya beberapa kali menganjurkan saya baca ayat Al-Qur’an tertentu untuk memudahkan saya hamil. Ibu saya pernah bilang, nggak usah pikirin pertanyaan udah hamil atau belum. Bahkan kakak saya juga bilang, kalau belum siap ya jangan dulu lah. 

Sejujurnya, saya bukan tipe wanita yang secara alami punya naluri keibuan dari sebelum punya anak. Saya anak bungsu yang kelamaan diperlakukan sebagai bungsu. Waktu keponakan saya sudah ada pun butuh beberapa waktu untuk saya berperan menjadi ‘tante’. Jadi ketika suami ngomongin punya anak habis nikah, saya masih ragu-ragu. Malah saya agak takut.

Saya nggak berani bilang nggak mau punya, karena saya nggak yakin 100% juga nggak mau punya seumur hidup. Wallahu’alam, karena hati juga yang atur Allah. Saya cuma lihat repotnya kakak saya mengatur anaknya. Mengingat betapa gampang naiknya emosi Ibu saya ketika pulang kerja kantoran karena capek. Yah, saya cuma fokus ke capeknya aja deh.

Plus, karena saya doyan nonton film dan serial TV barat yang mempertontonkan wanita yang mandiri atau ‘dipaksa harus punya anak’, yah jadi sedikit banyak terpengaruh.

Lalu transisi itu datang. Dari kerja kantoran jadi kerja dari rumah, meski kerjanya nggak sepadat kantoran juga. Nggak gampang alami transisi itu, tapi perubahan itu perlu. Saya juga ‘belajar’ dulu peran saya menjadi istri. 

Kembali ke anjuran papa saya untuk baca ayat Qur’an. Saya mengiyakan, tapi lama kelamaan Papa saya seperti melihat kalau saya dan suami terbilang santai untuk urusan ini. Intinya kalau dikasih, Alhamdulillah. Kalau nggak, ya sudah. Sebenarnya lebih ke mengurangi tekanan saja. Kalau saya sendiri, yah masih nervous jadi ibu. 

Ketika Papa saya lalu dipanggil oleh-Nya, situasi saya sudah tak terlalu fokus ke karir. Saya seperti bingung apalagi yang mau saya cari. Mengingat sepertinya punya cucu akan sangat membahagiakan beliau, terlintas di kepala kalau saya tak keberatan punya anak kalau itu bisa bahagiakan Papa. Melihat ‘lahan kosong’ dalam hidup saya, saya pikir, ‘Sekalian saja saya punya anak.’

Dan tak lama, selang kira-kira sebulan dari kepergian Papa, adalah haid terakhir saya sebelum saya mengandung Samuel. Be careful what you wish for, padahal pikiran itu baru seperti segumpal kecil awan dalam kepala. Tahu-tahu, saya sudah hamil.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s