‘Pemaaf’-nya Bayi

Waktu saya baru melahirkan, satu dari banyak hal yang saya takutkan adalah merawat bayi itu sendiri. Saya tak tahu banyak soal mengurus bayi, selain dari baca-baca dan tanya sana-sini. Tentunya nggak ada yang ngalahin pengalaman. 

Alhamdulillah, suami saya pernah membantu ibunya merawat adik-adiknya. Ketenangan suami dan pengalamannya menenangkan saya. Tapi tetap saja, saya yang sering memegang bayi. Bukan karena suami bekerja (ia bekerja di rumah), tapi karena saya yang harus menyusui dan memang sudah tanggung jawab seorang ibu. 

Sumber: Pinterest

Kerepotan sudah jadi satu paket kalau baru melahirkan bayi. Dan, sudah pasti kamu bakal panik dan buat kesalahan (yang bikin panik). Tapi yang saya syukuri (mengesampingkan wanti-wanti orang yang lebih tua) adalah bagaimana ‘pemaaf’-nya bayi.

Kata ‘pemaaf’ saya pinjam dari sebuah artikel yang saya baca saat masih hamil baby Samuel. Saya lupa judul persisnya, tapi artikel itu intinya ingin memberi sedikit ketenangan untuk para ibu baru. Artikel itu bilang kalau bayi itu ‘pemaaf’. 

Pemaaf disini adalah kondisi bayi yang tidak akan menghakimi cara kita dalam merawatnya. Ia akan tetap tersenyum jika nyaman atau kenyang. Ia cuma akan menangis jika ada sesuatu yang tidak beres. Ya, bayi (menurut saya) cuma butuh disayang, dan itu akhirnya termasuk dirawat dengan baik. 

Tentu saja, bukan berarti kita bisa manfaatkan polos dan ketidaktahuan si bayi dengan slacking off atau malas, sehingga tidak belajar. Semakin lama, ya kita tahu yang paling baik untuk si bayi dan kita memperbarui cara-cara yang lama jadi lebih baik. 

Pernah saya salah potong kuku baby Samuel hingga berdarah. Selain dari teguran suami, saya ngerasa bersalah lihat Sam menangis karena perih. Memang salahnya saya maksa potong kuku di penerangan yang kurang maksimal. Dan juga kurang tenang dalam memotong kukunya. 

Setelah memeluknya dan bilang ‘maaf ya’ berulang kali, tetap rasanya masih nggak bisa lepas dari rasa bersalah. Tapi sorenya, Samuel tersenyum dan tertawa lagi melihat saya dengan kuku yang sudah terbalut penutup luka.

Ada beberapa kesalahan kecil saya yang lain, tapi yang buat saya terenyuh bayi selalu akhirnya tersenyum lagi. Bahkan ngajak saya bercanda. Yah tapi sekarang-sekarang dia sudah bisa ngambek kecil kalau saya sibuk di dapur atau lagi urus rumah dan terpaksa ‘nyuekin’ dia. Tapi usai itu dia balik ceria lagi.

So mommies, mari bersyukur dengan ‘pemaaf’-nya bayi. Dan, jangan lupa terus belajar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s