Belajar Pelan-Pelan Jadi Ibu

Moms, jadi ibu itu bisa jadi menakutkan. Iya, tanggung jawabnya besar sekali. Kalau anak bandel, yang disalahin Ibu.  Kalau anak nggak keurus, ibu juga disalahin. Dulu sempat takut punya anak, karena saya takut nggak sabaran dan akhirnya ‘menghukum’ si anak yang nggak ngerti apa-apa. Terus nanti saya jadi ibu nggak becus dan anaknya nggak sabar keluar dari rumah saya. Apalagi beban dosa Ibu yang kasar sama anak itu…wah.

Tapi saya percaya apa yang diberikan Allah itu berarti saya mampu. Makanya waktu saya baru tahu hamil, saya sempat agak panik dan bingung. Saya harus gimana? Hati-hatiii sekali saya makan apapun. Mau ngapa-ngapain hati-hatii banget. Plus juga saya gampang mual dan capek juga sih. 

Pelan-pelan saya baca-baca semua yang berhubungan dengan kehamilan. Saya hindari makanan yang dipantang, dan saya makan yang bisa dimakan (ya apalagi trimester ketiga, laper terus). Lama-lama saya bisa meraba-raba yang baik untuk saya dan janin, selain juga konsultasi dengan dokter dan bidan.

Tapi tentunya, saya nggak mungkin lewati masa-masa kehamilan hingga melahirkan tanpa keyakinan. Iya, yakin kalau semua akan baik kalau niat kita baik. Yakin kalau saya akan dikelilingi support yang saya butuhkan. Yakin saya dan bayi saya sehat. Kenapa? Karena saya nggak mampu mikir sebaliknya. Kalau saya kebanyakan khawatir, bakal bikin saya stress sendiri dan bisa mempengaruhi si bayi juga. Plus, cemas akan apa-apa yang belum terjadi sebenarnya termasuk bentuk tidak percaya dengan-Nya.

Alhamdulillah, Samuel lahir. Semua akhirnya baik-baik saja, setelah lewat beberapa drama dan preeclampsia.

Nah, sekarang telah masuk babak menjadi ibu…itu adalah babak yang cukup ‘tebal’ dan bisa habiskan hampir sisa hidup kita. 

Kekhawatiran jadi ibu tak becus itu tetap ada. Saya bersyukur bayi itu belum bisa menghakimi, karena sejujurnya saya ini otodidak. Belum penilaian orang yang gampangnya menghakimi. 

Ada-lah, hari-hari dimana saya pengen ‘meledak’ atau down. Merasa tidak cukup sebagai ibu. Biasanya yang ngobatin saya cuma berdoa, Samuel yang maunya nempel sayang dengan saya dan nasihat suami.

Tapi pada akhirnya saya juga yang harus maafin diri sendiri. Ya maklum, saya first-time mom. Babak saya baru dimulai sebagai ibu. Tentunya tak ada kesuksesan yang diraih dalam sekejap. Semua terus belajar dan yang penting tidak berpuas diri. Yang penting setelah merasa down, bangkit lagi dan berusaha lagi. 

Advertisements

Kalau Bisa Dinner Dengan 5 Orang, Saya Pilih….

Dan tantangan menulis 15 hari lanjut. Kali ini tentang berkhayal kalau bisa makan malam atau dinner dengan 5 orang, sebut siapa aja…

Ya, kalau topik ini saya sedikit mikir lama makanya posting-nya agak makan waktu (plus masih ribet sama yang lain sih). Kayanya jawaban saya ini mungkin agak boring bagi orang lain, tapi yang jelas nggak muluk-muluk atau ngayal ketinggian. Tapi namanya juga berkhayal, gak usah terlalu apa lah ya..

salad ebirra
enaknya salad salah satu resto di Jakarta :pΒ 

1. Almarhum Papa

Bukan saya nggak ikhlas Papa saya sudah keburu dipanggil, tapi kalau bisa ngobrol lagi dengan dia pengen banget. Apalagi kasih tau cerita tentang Samuel dan perkembangannya. Dari pertama saya ingin punya anak, memang ingin menyenangkan hati Papa juga. Ya, tapi nggak apa-apa sekarang lewat doa aja πŸ™‚

2. BFF / Sahabat

Namanya juga emak ribet, mau ketemu sahabat juga tantangan banget. Pengen juga lepas rindu dengan teman-teman dekat. Ya maklum deh, belum ada waktu pas untuk temu kangen dengan sahabat dekat. Mungkin dinner-nya bisa lanjut dessertΒ dan ngemil lucu saking mau puas ngobrol.

3. Kristina Kuzmic

kristina kuzmic

Siapa Kristina Kuzmic? Saya juga belum lama lihat dia di internet. Vlog-vlog dia menyuarakan isi hati banget sebagai ibu-ibu rempong. Kagum aja dengan gaya frontal dan smart-nya dia, bikin lega karena ngerasa saya nggak sendirian. Maklum, sebagai Ibu, mengeluh soal urus anak rasanya agak sedikit dihakimi. Tapi mbak Kristina ini khas dan juga lucu ditonton. Ia juga terus meyakinkan ibu-ibu dengan pemikiran positif bahwa kita berusaha jadi ibu yang baik. Mungkin saya bisa dapet tips cara bikin konten blog bagus juga dari dia, hehehe…

4. Suami

Nah ini, haha, jadi curcol sedikit bahwa quality time dengan suami itu sedikit terabaikan karena ngurus bayi. Si bayi juga sedang sangat nempel dengan ibunya. Insya Allah deh, semoga waktu untuk berdua semakin dekat.

5. Diri Sendiri

Sesungguhnya saya bingung milih satu poin lagi siapa. Mau nulis bintang film favorit atau idola, kayanya agak terlalu muluk. Jangankan dinner sama orang, makan tenang sendiri aja itu bahagia banget (curcol banget hahaha). Walau bisa makan sendiri, tapi khawatir anaknya lagi ngapain atau baik-baik ajakah. Atau, seringnya buru-buru kelarin makan biar anaknya nggak nangis atau rewel. Keinginan terdalam itu makan di resto favorit sambil makan dengan anggunnya tanpa interupsi :))

Buibu, mau ikutan boleh isi di kolom komentar atau juga kalau mau ikutan tantangan ini boleh banget. Udah dulu edisi yang ini ya

Cerita Momen Masa Kecil Favorit: Liburan ke Puncak

Lanjutan dari tantangan menulis 15 hari, alias 15 Day Writing Challenge kali ini soal momen favorit masa kecil. 

Kalau ada kumpul-kumpul keluarga saya mainnya juga dengan sepupu yang juga bungsu. Saya justru paling tua diantara mereka. Jadinya saya justru yang suka ajak main ini itu.

Tapi beda dengan waktu saya dan keluarga liburan ke Puncak dengan keluarga saudara dan teman Ibu saya. Kira-kira umur saya masih SD. Tempatnya  di semacam komplek villa yang berbukit-bukit kecil dengan rumput hijau (waktu kecil rasanya indah banget). Nggak cuma sekali liburan wiken ke Puncak waktu kecil, ada beberapa kali dan memorinya hangat dan nyenengin. Saya suka pemandangan, rumahnya dan bunga-bunganya cantik banget.

Saya lupa kenapa sepupu-sepupu bungsu lain nggak ada di ingatan saya di kala liburan itu. Kalau nggak salah, sepupu bungsu saya lebih milih nempel sama Ibunya ketimbang ‘berkelana’ dengan saya, jadi saya sempet kecewa banget. Udah mikir bakal bete di wiken itu.

Akhirnya saya justru ngumpul bareng saudara jauh yang sepantar. Saya nggak kenal mereka sebelumnya. Karena sepantaran itu, tau-tau kita jadi bentuk geng sendiri khusus di acara itu. Sementara orangtua ngobrol-ngobrol ngumpul.

Karena saya ini pemalu dan kalaupun kumpul sama teman, cuma teman sebangku atau 1-2 orang, masuk geng macam ini “berarti” banget. Apalagi geng saya ini kelihatannya ‘vokal’ banget dan gampang akrab dengan siapa saja. Mereka cukup asik mengajak saya main. 

Main apa aja lupa, kalau nggak salah naik kuda bersama-sama. Saya ingat sampai bohong sama Papa saya minta duit untuk naik kuda, bilangnya mau makan bakso (kalau dipikir-pikir aneh juga kejadian ini). 

Saya jarang banget minta duit frontal sama Papa saya seperti itu. Karena pingiiin banget naik kuda sampai begitu. Papa saya kelihatan santai saja, cuma nggak biasa lihat saya begitu excited. Ternyata dia lihat saya naik kuda juga dari kejauhan dan nggak marah saya bohong. 

Maklum, dulu Mama saya galak jadi saking takutnya nggak dibolehin naik kuda saya sampai bohong. Cuma, saya lupa ternyata Papa saya lebih santai. Saya lega Papa saya nggak marah dan malah geli lihat saya sampai begitu. 

Siapa saudara-saudara jauh saya itu, saya udah nggak kontak lagi. Mungkin saya pernah ketemu mereka lagi, mungkin nggak.

Sampai sekarang, kalau mimpi suka tiba-tiba saya ada di salah satu villa Puncak itu, sekelebat aja. Momen masa kecil ini mungkin yang paling indah di masa kecil saya.

Ayam Sambal Matah Bali Si Penyelamat

Kira-kira 1 tahun lalu, suami saya sakit dan tak bisa makan nasi. Bingung, lalu saya sarankan makan roti gandum. Sebelumnya sih coba makan oatmeal, tapi ia tidak suka. Beli rotinya sampai dua atau tiga bungkus gara-gara juga buat istrinya ngemil, hihihi..maklum berbadan dua.

Kalau biasanya makan roti itu untuk nyemil atau sarapan. Tapi sebagai makanan utama, saya agak puyeng mikirin menu protein yang harus saya masak. Kalau bikin daging burger, saya mesti ke supermarket lagi. Yang instan juga kurang sehat. 

Berhubung saya juga lagi hamil trimester kedua dan nggak mau ribet, saya coba cari menu yang juga sekalian bisa dimakan dengan nasi dan dengan bahan yang gampang dicari. Yang ada dipikiran sih, ayam yang di suwir-suwir. 

Akhirnya nemu resep ayam sambal matah bali di internet. Caranya mirip dengan bikin bumbu balado, hanya ditambah terasi dan dicampur dengan ayam yang disuwir-suwir. Perfect banget resep ini, karena suami suka menu pedas. Bayi dalam perut juga bikin saya jadi doyan pedas, padahal aslinya saya nggak segitunya lho.

Saking sedapnya menu makanan ini, sampai saya makan lagi malam-malam. Biasanya saya ngemil sebelum tidur waktu hamil. Trus rasanya enaaak bener deh. Pedasnya soalnya bikin selera makan.

Alhamdulillah, sukses bikin menu yang bisa untuk dipadukan dengan nasi dan roti. Kami terus makan menu itu  bahkan sampai suami saya sudah bisa makan nasi lagi. Mungkin ini bisa disebut roti isi ayam sambal matah Bali, alternatif buat kamu yang bosan makan roti isi standar.

Bahan:

500gr ayam

5 siung bawang merah

3 siung bawang putih

10 Cabai merah keriting

2-3 Cabai merah besar

1 buah Terasi udang/bubuk terasi Rempah Indonesiaku secukupnya

Air secukupnya

Minyak goreng secukupnya

Garam secukupnya

Lada secukupnya

Daun jeruk


Cara Membuat:

  • Rebus ayam hingga matang, lalu dinginkan. Setelah matang, daging ayam disuwir-suwir
  • Potong-potong cabai, bawang merah dan bawang putih.
  • Masukkan potongan cabai, terasi dan bawang dalam blender, tambahkan sedikit air. Blender cabai, terasi dan bawang sampai halus
  • Goreng hasil blender hingga agak matang lalu masukkan ayam suwir
  • Tambahkan garam, lada dan daun jeruk
  • Masak hingga matang. Namun jangan sampai terlalu kering (ini tergantung selera)

    *****

    Sunglow Review: Nay’s Baby Soes

    nay's baby soes.jpg

    Welkam to review produk pertama di Sunglow Mama πŸ™‚ awalnya ada produk lain yang mau di-review duluan tapi mau celup-celup jari di produk makanan bayi dulu.

    Samuel sudah 10 bulan dan seharusnya udah bisa makan yang lebih solid dari bubur halus. Saya kepingin Samuel udah bisa makan yang agak keras sekalian dia juga ada cemilan buat iseng-iseng kalau sore atau sebelum makan berat.

    Intip-intip di beberapa online shop, ada produk cemilan soes kering khusus bayi yang namanya Nay’s Baby Soes, produk keluaran Nay’s Cookies & Soes van Malang. Keterangan di toplesnya:

    “We use only the finest ingredients in this product, giving your baby a joyful snacking experience!”

    Ada beberapa varian yang saya temukan di toko online, seperti rasa original, ikan salmon dan yang saya pesan, rasa keju. Menurut packaging-nya, komposisinya hanya telur, tepung, margarine, keju, dan air. Tanpa MSG. Sayangnya, tidak ada keterangan persis berapa takarannya di tiap bahan.

    Bentuknya mungil-mungil seperti bentuk jari bayi. Tapi kalau di keterangan toplesnya disebut caterpillar-shaped (berbentuk ulat). Mungkin itu yang bikin jadi enak dipegang (oleh Samuel). Rasanya juga nggak tawar banget dan nggak keasinan, rasa kejunya terasa tapi tak berlebihan (ibunya tester sambil kasih unjuk ke bayi hihi).

    Sedikit cerita soal perdana kasih ini ke Samuel: Pertama saya kasih dia cuma pegang-pegang aja. Harapan besar saya ia mau masukkan sendiri ke mulut, tapi belum. Ia malah menganalisa bentuk dan tekstur si soes secara seksama. Saya mesti sabarrr nungguin, tapi ujungnya dibuang πŸ˜‚πŸ˜… πŸ’’

    Saya coba masukkan ke mulutnya tapi ia malah merasa aneh sekali. Ya ini saya anggap masih ‘perkenalan’. Tapi berhubung ngeri soes-nya dibuang aja, saya nggak kasih dulu. Lain waktu dipegang suami, ia bisa juga makan soes-nya. Sekarang ia doyan makan, walau belum bisa ambil dan makan sendiri.

    Nay’s Baby Soes saya anggap lumayan sebagai snack bayi, terutama buat bayi belajar pegang dan (lebih bagus lagi) makan sendiri cemilannya. Harganya cukup sepadan dengan banyaknya isi soes (60 gram) dalam toples (Saya beli seharga Rp 30.000). Ini bisa jadi alternatif ibu-ibu buat cemilan si kecil selain biskuit bayi yang beredar di pasaran.

    Mungkin karena packaging-nya berbahasa Inggris bisa sedikit membingungkan ibu-ibu yang nggak paham bahasanya. Tapi bisa jadi targetnya ke ibu-ibu kelas menengah ke atas yang harusnya bisa paham.

    ****

    Nay’s Baby Soes dijual juga di Lazada

    Ceritakan Jenis Pakaian Yang Cukup Terikat Dengan Diri Kita

    4077279e6290618c2d0659e3fdd6cf86
    image: weheartit.com

    Tell me about an article of clothing that you are deeply attached to

    Di tantangan ke tiga 15 Day Writing Challenge ini, topiknya pakaian yang kita rasa sangat dekat dengan diri kita. Kalau 5 tahun lalu,mungkin saya akan jawab celana jins atau cardigan. Cardigan sangat penting buat saya dulu karena kantor saya dingin dan di jalan kalau cuaca mendung atau hujan, cardigan sangat membantu. Apalagi dia tidak seberat jaket bertudung kepala, jadi enteng dibawa. Cardigan juga fashionable sekali dan semakin unik saya semakin suka, cocok buat saya yang senang gaya preppy (oke stop, nanti saya kangennya nambah).

    Tapi sejak tahun 2013, saya putuskan berhijab. Perjalanannya pernah saya ceritakan disini. Intinya, ada panggilan hati. Sekarang saya nggak bisa (dan harus) keluar rumah tanpa pakai hijab, walaupun cuma benerin jemuran atau cuma nyapu-nyapu lucu. Suami menjaga saya karena ia takut ada yang lihat, walau serambi rumah itu sebenarnya 99 persen nggak akan ada laki-laki yang nongol.

    Kalau pas pertama pakai hijab, momennya adalah fashion hijab sedang naik. Jadi ada berbagai tipe dan gaya hijab beredar bikin saya selalu pengen belanja pashmina baru. Tapi seiring waktu, akhirnya saya pakai yang bikin nggak ribet. Apalagi setelah punya anak. Paling aman pakai bergo.

    Memang ibu-ibu banget, tapi saya memang sudah ibu-ibu. Apalagi area main saya cuma sekitar rumah. Keren-keren kalau interaksi cuma situ-situ aja ya buat apa? Habis nikah, tampil cantik juga wajib cuma depan suami. Sekarang, saya punya tipe hijab instan bahan kaus yang masih gaya tapi nggak ribet. Ya sejujurnya, nggak mikirin ‘harus gaya’ itu mengurangi tambahan pikiran. Mungkin bisa disamakan dengan si Mark Zuckenberg yang pakai baju yang setipe tiap hari.

    Cuma lebih mendasar lagi, kalau nggak pakai hijab atau kerudung saya merasa terekspos dan tidak nyaman. Lagipula, sejak pakai hijab, Alhamdulillah jadi otomatis jauh dari yang mau iseng sama kita di jalan. 

    Happy Tuesday, moms. Kalau moms sendiri gimana?

    Tulis Beberapa Memoar Dalam 6 Kata

    Ini tantangan kedua di 15 Day Writing Challenge yang saya ikuti.

    Memoar itu apa ya? Intip-intip, ternyata berhubungan dengan autobiografi. Agak susah nih nulis tantangan ini, apalagi habis baca artikel cara membuat memoar ini. Kira-kira termasuk signifikan, nggak ya? Setelah dua puluhan kali hapus dan tulis kalimat, ini hasilnya:

    • Saya kehilangan ponsel sebulan sebelum menikah
    • Saya didiagnosa preeclampsia sebelum melahirkan Samuel
    • Saya menikah setelah 1 tahun berpacaran
    • Saya nyaris travelling sendirian ke Singapura
    • Wajah Samuel mirip dengan almarhum Papa

      That’s a wrap. Happy Saturday!