Sunglow Review: Snack Bar Soyjoy Almond and Chocolate

1491834343209

Siapa yang nggak suka nyemil? Apalagi setelah saya menyusui, rasanya gampang lapar. Cuma saya juga harus pilih-pilih cemilan karena akan berpengaruh ke kesehatan dan ASI. Ada kalanya kalau mau nyemil gorengan atau yang manis-manis, ada rasa eneg atau merasa bersalah karena berlemak. Pengennya bisa nyemil mengenyangkan dan sehat juga.

Kebeneran nih dapet kesempatan mencoba produk Soyjoy dari Yukcoba.In (horee), Snack Bar Soyjoy Almond and Chocolate. Produk Soyjoy terkenal dengan kandungan tepung kedelai dan snack sehatnya. Katanya sih aman dikonsumsi untuk Ibu hamil dan menyusui (wah ini nilai plus banget).

Jujur, dulu saya pernah coba produk snack bar Soyjoy yang versi buah. Mungkin 5 tahunan lalu, waktu kesadaran makan sehat belum ada. Saya nggak suka rasanya waktu itu, walau saya akui berbeda dan sehat. Berhubung yang ini ada coklatnya jadi saya mau coba.

Warna silver dan coklat gelap di kemasannya cukup bikin kita ngerti secara visual bahwa isinya coklat dan premium. Saya suka sih desain packaging-nya (jadi inget kuliah dulu, maap OOT dulu saya belajar desain). Nggak cuma bisa beli satuan, ada juga yang kemasan isi 8 buah. Di kemasan tertera jelas komposisinya, rasa dan juga cara memanaskannya dengan microwave (wow asik nih bisa dimakan hangat-hangat).

Waktu dicoba, rasanya manis, padat dan renyah. Ada kacang almond-nya, juga tentunya rasa coklat. Tapi mungkin karena dicampur tepung kedelai, jadi nggak berlebihan rasa manisnya, tapi juga nggak kurang feel coklatnya. Rasa tepung kedelai juga nyaris tak terasa karena tertutup coklat. Snack ini cukup bikin kenyang, walau kayanya snack bar ini ukurannya sedikit lebih kecil dari produk Soyjoy yang dulu saya coba.

Cukup recommended untuk cemilan, khususnya kalau buibu mikirin kesehatan. Senengnya sih, tahu bahwa produk Soyjoy ini baik juga buat ibu menyusui dan hamil yang suka serba salah nyemil. Cuma saya baca FAQ-nya bahwa harus diperhatikan kalau kita alergi bahan tertentu.

Kalau ditanya apa mau beli lagi, saya nggak keberatan. Karena dibanding snack coklat yang kandungan gulanya banyak, lebih sehat dan bisa juga lebih mengenyangkan dari snack coklat yang lain. Udah umur segini konsumsi gula kebanyakan nggak bagus juga, Buibu, hehehe. Mari hidup sehat.

Review produk ini juga ada di Yukcoba.in

Advertisements

Yang Saya Nantikan 6 Bulan Mendatang

images
Ini Raisa di film Terjebak Nostalgia, bukan saya ya 😉

Selamat minggu baru 🙂 Semoga semua dalam keadaan sehat ya. Masih kelanjutan dari 15 Day Writing Challenge, tantangan selanjutnya ngomongin yang dinantikan dalam 6 bulan mendatang.

  • Nggak jauh-jauh dari peran Ibu, saya berharap sih Samuel sudah bisa jalan. Sekarang ia sudah merambat dan masih pegangan untuk berdiri
  • Pengennya juga ia sudah bisa ucap lebih banyak kata dari ‘mama’ dan ‘papa’
  • Moga-moga kami bisa ketemu rumah baru yang lingkungannya lebih kondusif. Ya, saya dan suami sedang punya keinginan pindah rumah
  • Sebagai seorang penyuka film, saya berharap film terakhir yang saya tonton bukan Terjebak Nostalgia lagi (yang saya baru nonton semalam). Saya jauh​ ketinggalan film-film baru.
  • Insya Allah blog ini lebih baik dalam konten dan kualitas, juga lebih banyak pengunjung. Pengennya blog ini lebih berkembang. Siapa tahu bisa dapet job dari nulis juga
  • Saya berharap bisa silaturahmi dengan teman-teman dan keluarga lebih lagi
  • Makin lebih baik jadi Ibu 🙂

That’s all sih. Ibu-ibu punya harapan apa dalam 6 bulan?

Hal Yang Tidak Mau Dirubah Dari Diri

instagram.com/andinzki

Kalau ditanya hal apa yang tidak mau dirubah dari diri, mungkin saya jawab ‘punya hati’. Ada kan kata-kata, ‘Saya tak punya hati membiarkan dia begitu‘ atau ‘Hatimu dimana sih?’ Mungkin bisa dibilang ‘simpati’ atau ’empati’ ya. Karena saya rasa sekarang ini orang susah sekali punya hati.

Nggak bisa dibilang saya juga manusia paling berempati sih, ada juga kadarnya dan juga kadang saya masih harus lebih peka. Hanya saya lega atau bersyukur saya masih punya ‘hati’.

Contoh kasus sekarang ini banyak banget ‘bukti’ manusia tak punya hati. Paling gampang lihat di sosmed. Di sosmed sangat gampang beropini nyinyir. Atau yang paling kentara, banyak banget berita ‘menjatuhkan’ di masa Pilkada. Ya memang sih saya juga bisa kebawa kadang-kadang tapi ujung-ujungnya malu. Iya malu, karena bersikap seolah kita sendiri tanpa cela.

Nggak bisa sama sekali disalahkan kalau masa sekarang manusia suka kelihatan seperti ngga punya hati. Karena banyak juga manusia yang memanfaatkan empati orang yang akhirnya menipu dan manipulatif demi uang atau dapetin apa yang mereka mau. Yang ngeri itu kalau lama-lama jadi kebal, alias hatinya mengeras. Kalau sudah begini jadi ibarat zombie atau hatinya batu.

Nah gimana caranya biar hati nggak keras? Ya kalau nanya saya, mendekatkan diri dengan Tuhan. Atau sekali-kali coba melihat keadaan orang yang nggak seberuntung kita. Juga lakukan sesuatu dari hati, bukan demi reputasi atau manfaat lain.

Tulisan ini bagian dari tantangan menulis 15 hari.

Ngomongin Pengalaman Paling Memalukan

img_20170418_065007

Akhir-akhir ini aktivitas jadi ibu dan lain-lain padet, nih. Jadi nge-blog agak dikesampingkan. Si Samuel sudah lebih aktif lagi dan gampang bosenan. Tapi sebenarnya agak males juga dengan postingan selanjutnya 15 Day Writing Challenge ini: ngomongin pengalaman yang paling memalukan.

Pengalaman memalukan bisa jadi menyakitkan atau justru konyol. Ya, saya pilih yang konyol aja ya. Yang menyakitkan tak perlu diingat-ingat 😉 Pengalaman ini mungkin paling memalukan dari masa kecil saya, tapi lucunya saya waktu itu nggak merasa malu sampai momennya lewat.

Waktu itu usia saya masih TK. Saya lupa awalnya bagaimana, yang jelas tiba-tiba saya sudah ngompol di dekat bangku saya. Dan, seluruh anak di kelas sadar dengan insiden ini. Saya masih ingat mereka ngeliatin saya bengong bahkan berdiri mengelilingi saya. Lucunya saya nggak merasa malu waktu itu.

Tahu-tahu saya sudah ada di ruang luar kelas dan diganti bajunya oleh guru dengan macam-macam seragam, sepertinya berbagai stok seragam yang ada di sekolah. Nah baru melihat kerepotan guru ganti baju saya, saya baru malu.

Pulang sekolah, saudara saya yang waktu itu tugasnya menjaga saya bingung dengan pakaian yang saya pakai beda dengan waktu pagi. Ia pikir sekolah punya seragam baru.

Begitulah satu pengalaman paling memalukan semasa kecil, cukup bikin senyum-senyum kalau diingat lagi.

Menceritakan Hari Terbaik Dalam Hidup

hari terbaik

‘Describe the best day of your life’.

Ada hari-hari yang jauh lebih baik dibanding hari-hari biasa, seperti hari kelulusan, hari jadian, hari diterima kerja dan lain-lain. Yang terbaik menurut saya adalah hari pernikahan saya. Kebetulan hari itu baru saja lewat di bulan Maret kemarin dan sudah masuk tahun ke tiga 🙂

Ini bukan jawaban ‘ya harusnya saya jawab itu’ padahal sebenarnya hari itu saya mangkel. Alhamdulillah, saya benar ngerasa hari itu indah dan memorable. Memang bukan hari yang sempurna, tapi sesuai dengan apa yang saya harapkan.

Nggak cuma saya akhirnya sah jadi pendamping suami yang saya yakini akan jadi imam baik buat saya, tapi karena itu adalah hari puncak dari hari-hari penuh stres mempersiapkan hari pernikahan dalam waktu singkat, juga melewati drama-drama sebelum nikah. Ada tangis emosi juga. Nggak perlu saya ceritakan detilnya, yang jelas saya dan suami nyaris persiapkan semua berdua aja.

Hari itu saya bangun tidur dengan perasaan yang anehnya tenang. Prosesnya berjalan lancar dan khidmat. Lalu kami sah sebagai suami istri. Bersalam-salaman dengan keluarga dan tamu. Foto-foto dan fisik batin selalu tersenyum. Indah banget rasanya, sekaligus plong karena prosesi berjalan lancar.

Gimana dengan hari lahirnya anak saya? Hari itu memang hari membahagiakan karena proses kelahirannya lancar dan kami berdua sehat, juga hari dimana saya akhirnya jadi Ibu. Sesayangnya saya pada anak saya, hari itu juga disisipi rasa tak nyaman karena proses operasi dan kesembuhan badan saya. Sedikit khawatir sana sini juga soal ASI yang mungkin tak keluar dan lain-lain.

Begitu aja, Buibu. Oh iya, ini bagian dari tantangan menulis 15 hari yang saya ikuti.

Menyebutkan ‘The Good, The Bad and The Ugly’ Dari Diri Saya

 

20170407_110902

Ini juga istilah yang belum pernah saya benar-benar ngerti, tantangan selanjutnya dari 15 Day Writing Challenge. Iya, ini judul film Western tahun 1966, cuma tetap agak bingung. Ya udah, saya coba jawab.

The Good: Determined. Kalau sudah niat dan mau raih sesuatu, saya berusaha capai itu.

The Bad: Meski saya berusaha nggak keluarin, cuma ternyata julukan ‘Jutek’ itu keluar juga. Apalagi kalau sedang cranky atau kesal, dan capek, ekspresi ini otomatis keluar tanpa dikontrol dan bisa singgung orang lain (maap yaa..)

The Ugly: Suka memaksakan melakukan semua sekaligus. Kerjaan banyak dan ide melakukan apa-apa banyak, tapi saya suka maksa lakuin kadang tanpa sadar fisik saya nggak mampu.

Begitu, Buibu. Ada juga ibu-ibu (yang sadar) jutek diluar sana?

Buku Rekomendasi: The Help – Kathryn Stockett

Image: https://goo.gl/images/FuoHIC

Minggu baru juga bulan baru, topik baru. Kali ini tantangan 15 hari menulis minta saya rekomendasikan buku. 

Saya hampir pilih Honeymoon With My Brother yang tentang pria ditinggal nikah lalu putuskan honeymoon dengan abangnya lalu malah menemukan pencerahan. Tapi buku itu lebih pas untuk yang jomblo. Nggak apa-apa, kalau kebetulan kamu yang baca tulisan ini jomblo, saya rekomendasikan juga novel itu kok.

Saya pilih untuk direkomendasikan ke ibu-ibu adalah novel The Help, oleh Kathryn Stockett. Mungkin banyak yang tahu kalau novel ini sudah difilmkan tahun 2011. Olivia Spencer menang Oscar untuk peran pendukung wanita terbaik karenanya. Selain itu, Emma Stone dan sederet aktris terkenal juga ikut main.

Cerita The Help adalah tentang asisten rumah tangga berkulit hitam, Aibileen dan Minny yang didiskriminasi oleh majikan berkulit putih yang marak di tahun ’60an di Amerika. Kisah mereka lalu ditulis oleh teman majikan-majikan sendiri yang berkulit putih, Eugenia ‘Skeeter’. Nggak gampang buat Eugenia bujuk mereka awalnya karena mereka takut keselamatan mereka terancam.

Perlakuan tak adil pada ART ini bikin miris karena Aibeleen, Minny dan ART lain bekerja merawat anak dan rumah majikan mereka dengan hati dan juga rajin. Yang buat makin miris, ketika mereka dipecat karena hal sepele atau kecurigaan berlebihan adalah perpisahan ART ini dengan anak-anak majikan mereka yang sudah terikat dengan mereka.

Ini juga dialami Eugenia ketika kecil, berpisah dengan pengasuhnya yang berkulit hitam yang ia sangat sayangi. Eugenia ingin masyarakat lebih menghargai para ‘The Help’ ini. Ia juga baru lulus kuliah jurnalistik dan ingin membuktikan diri. Apalagi diantara teman-temannya, cuma dia yang belum menikah.

Kutipan terkenal dari film ini adalah ucapan motivasi dari Aibeleen ke anak yang ia asuh ketika anak itu merasa down:

Sumber: Pinterest

Ada juga ART yang sangat disayang dan diperlakukan baik seperti Minny yang majikan barunya punya pribadi hangat. Majikan Minny diasingkan ibu-ibu sekitar karena suaminya adalah mantan kekasih Ibu yang cukup berkuasa di sana. 
Sebenarnya permasalahan utama cerita novel ini adalah diskriminasi ras. Tapi yang juga disorot adalah ironi ibu rumah tangga yang memperlakukan sewenang-wenang pembantu yang membantu merawat anak mereka dengan kasih sayang. 

Meski Ibu adalah orangtua yang berhak merawat anak termasuk caranya, banyak yang pada kenyataannya terlalu menggantungkan pekerjaannya pada ART lalu memperlakukan mereka semena-mena. Akhirnya mereka juga tidak punya ikatan emosional yang sama dengan anak mereka sendiri dibanding anak mereka dengan si ART. Ibu bisa lupa memberi motivasi pada anak dan justru mengecilkan diri anak tersebut. Si anak justru dapat encouragement atau motivasi dari orang lain, di cerita novel ini, orang yang dibayar untuk mengasuh mereka. Lebih menyakitkan bagi anak ketika lalu si pengasuh diberhentikan.

Ceritanya cukup bikin emosional dan menginspirasi. Intinya agar ikuti kata hati jika ada yang tidak wajar di mata kita, termasuk perlakuan tidak adil orang kepada kita. Tidak ada yang berbeda di antara sesama manusia, tidak perlu ada yang merasa lebih tinggi dan lebih rendah. 

Disini di kacamata anak yang polos, warna kulit dan ras tidak masalah selama ia disayang dan diperlakukan tulus. 

Kalau menurut saya sih bagusan versi buku karena lebih detil. Versi film ada yang sedikit dibumbui. Standard-nya memang buku selalu lebih bagus karena kita punya imajinasi sendiri. Buat ibu-ibu yang senang buku sarat emosi dan punya nilai inspirasi, bisa coba baca buku ini.

Udah ada yang pernah baca novel ini atau nonton filmnya juga?