Atika, Oka dan Hujan (Part 2)

Atika, Oka dan Hujan Part 1

Atika berdesah pelan, sudah keburu merasa lelah melihat lantai yang lengket penuh dengan bekas air minyak, sisa cuci piring dan entah apa lagi yang tersisa di permukaan lantai putih dapur. Lantai yang baru dipasang ketika mereka pindah ke rumah kontrakan ini.

Sungguh enggan ia membersihkan, memikirkan ia juga harus memasak, mengurus anak dan rumah. Kini ada pekerjaan rumah tambahan setiap kali air pembuangan naik di ruang samping. Memang tidak setiap kali air naik waktu hujan besar, namun ia lelah merasa cemas setiap hujan turun.

Mau tidak mau ia mengambil botol berisi cairan pencuci piring dan air, membersihkan dengan menggosok sandal jepitnya di lantai sudah cukup membersihkan lantai dari minyak dan kotoran lain. Kadang kala ia harus berhenti membersihkan, karena Salman anak lelakinya yang masih 2 tahun mencarinya.

Kadang Oka terlihat tenang ketika hujan turun, kadang ia mengajak Atika dan Salman naik mobil. Mereka akan pergi ke rumah nenek Salman di dekat situ, atau hanya berkeliling hingga hujan selesai. Begitulah cara Oka menghindari stres memikirkan banjir di samping rumah. Mereka akan pulang dengan perasaan harap-harap cemas dengan keadaan rumah. Atika selalu khawatir apa lantai seisi rumah akan terisi air. Alhamdulillah, itu cuma sekedar kekhawatiran.

Yang menyedihkan, para tetangga di perumahan itu seakan sudah ‘tahu’. Keadaan rumah mereka sudah jadi rahasia umum. Apalagi penghuni rumah depan kontrakan mereka, Mba Mei dan suaminya, sudah tahu betul keadaan rumah itu. Ia bahkan menceritakan keluarga sebelumnya yang tinggal disana.

“Si bapak sakit-sakitan. Ada istri dan ibunya juga. Mereka kesulitan bayar kontrakan sehingga terpaksa tinggal disitu.”

Atika menyambungkan cerita itu dari ‘wawancara’ si pemilik kontrakan yang menanyakan tentang pekerjaan Oka sebelum mereka pindah, yang sepertinya jadi sebuah persyaratan pindah. Anehnya si pemilik kontrakan tak pernah terlihat ada di rumah itu. Waktu mereka bertemu pertama kalinya adalah di sebuah restoran. Kali mereka menengok rumah itu pertama kalinya, yang ada di rumah itu adalah adiknya, yang tidak terlihat begitu paham dengan rumah selayaknya seorang pemilik.

Atika termenung. Padahal mereka hampir tidak sanggup pindah kontrakan, karena masalah biaya. Atika merelakan cincin pernikahannya demi pindah dari rumah sebelumnya, yang sudah tidak betah mereka tinggali. Sebegitunya Atika ingin pindah, bukan karena ia jatuh hati dengan rumah kontrakan baru ini, tapi ia sudah tak tahan di rumah lama.

Atika merasa pikirannya buntu. Harus mereka tinggal di rumah ini untuk sementara? Tidak adakah jalan lain? Tak lama lagi bulan puasa. Bisakah mereka nyaman beribadah puasa dengan keadaan seperti ini? Atika tidak habis pikir membayangkan ia memasak saat jam sahur maupun menjelang buka puasa dengan kondisi demikian.

Oka yang tadinya berkeras tak mau pindah menjadi berpikir ulang. Karena tinggal seterusnya di rumah itu bisa menjadi masalah yang lebih besar: rusaknya perabot di dapur, masalah kesehatan dan kebersihan, dan tentunya ketidaknyamanan dan kengerian yang bisa datang sewaktu-waktu.

Keadaan diperparah dengan pemasangan conblock di perumahan, membuat tanah semakin tinggi di jalan depan rumah. Oka jengkel karena penghuni perumahan sekitar seolah tidak peduli dengan rumah mereka. Namun, jalan perumahan memang tidak rata dan juga berbatu.

Atika lalu mendapat ide. Ia meminta Oka agar merelakan uang THR nanti demi membiayai kepindahan mereka. Oka tidak menyukai ide itu, karena sebelumnya ia sudah memikirkan alokasi uang THR untuk apa saja. Tapi suka atau tidak, tiap hujan datang, perasaan Oka berkecamuk. (Bersambung)

3 thoughts on “Atika, Oka dan Hujan (Part 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s