Mengurai Kepala (Ibu) Yang Kusut dan Trik Mengatasinya

mumet kepala ibu
*ilustrasi gambar komik dari aplikasi edit foto xiao mi redmi

Siapa yang udah jadi Ibu tapi kepalanya nggak pernah kusut atau pusing? Mungkin cuma ibu dalam film atau dongeng yang dikisahkan sempurna atau sabar. Tapi in real life, saya rasa nggak ada. Karena tugas Ibu segambreng dan nggak mungkin satu tugas nggak pernah ‘ketimpa’ tugas yang lain.

Kisah saya hari ini, ini hari kedua saya PMS. Menu masak saya rada ngejelimet. Baju setrikaan masih numpuk. Si bayi yang nyaris 2 tahun sepertinya sedang tumbuh gigi dan jadi 3 kali hari ini BAB. Belum pikiran soal rumah yang punya sedikit kekurangan dan pikiran mau cari rumah yang lebih baik lagi. Tiap hari, saya selalu sedikit bingung mikirin gimana saya bisa masak dan lain-lain tanpa bikin anak saya rewel ditinggal saya. Mungkin keribetan saya ini nggak ada apa-apanya dibanding Ibu yang anaknya lebih banyak dari saya, yang juga nggak didampingi ART. Yah saya salut buat ibu-ibu ini, bagi resepnya ya!

Malam ini kala saya menidurkan anak saya, saya ngerasa kepala saya hectic atau ribet. Dan dalam waktu yang cukup lama nggak pernah saya seperti ini lagi, saya nanya ke diri sendiri, kenapa kepala saya ada rasa marah? Jawaban saya, ya karena badan saya lelah tapi saya harus melakukan ini-itu. Kalau saya skip, sistemnya down. Nggak mungkin saya biarkan anak saya lapar nggak ada yang masakin, nggak mungkin saya biarin anak saya nggak tidur karena nggak ada yang ngelonin. Tapi di lain sisi, anak saya lagi pertumbuhan dan kata banyak orang, masa itu cuma sebentar.

Mau nggak mau, kepala memang mesti kusut. Tapi bukan berarti nggak bisa diuraikan. Kalau nggak, yang kena malah anak (bisa dimarah-marahi) atau orang sekitar kita.

Trik buat meredakan kepala kusut buat emak-emak:

  • Ucapkan Istighfar. Ini saya nggak tau istilahnya di agama lain. Kalau di Islam, mengucap Istighfar atau ‘Astaghfirullah hal adziim’ bisa insya Allah merontokkan dosa karena artinya memohon ampun. Bisa jadi kesalahan yang dulu-dulu berimbas ke sekarang. Kepala kusut, mood mau marah-marah bisa reda dengan mengucap doa ini. Coba deh!
  • Break sejenak dari rutinitas. Kalau udah mampet, kesal dan badan capek, mending istirahat. Nanti kalau diteruskan kerjaan jadi setengah hati dan nggak total. Bisa jadi nggak ibadah (tugas ibu itu kan ibadah juga). Ajak juga bercanda si kecil jadi dia nggak merasa dicuekin banget.
  • Mengurai tugas-tugas besar. Saya baca trik ini dari blog ibu luar negri (yang saya lupa sumbernya, maaf). Kalau tugas terasa besar, diurai kecil-kecil dulu. Misalnya mau masak nasi, cuci dulu tempat nasinya. Mau cuci baju, masukin dulu atau pilah-pilih baju kotor dulu yang mau dicuci. Mau masak teri balado, potong-potong dulu cabenya (hehe ini menu saya hari ini 😅). Minimal kekejar pelan-pelan tugasnya.
  • Berdoa dan Ibadah. Don’t underestimate the power of prayer! Kadang-kadang ada sesuatu yang nggak kesampaian itu cuma karena lupa nggak didoain aja. Ini bisa juga dengan mengaji Qur’an. Terbukti bisa bikin batin tenang.
  • Belum juga reda kusutnya? Mungkin ini saatnya cari bantuan buat kerjaan rumah.
  • Kalau nggak bisa cari bantuan, ya accept the fact that some days are harder than others. Man up! You can do it 😉 Jangan mau dikalahin sama kerjaan rumah dan tugas jadi Ibu.

Lumayan juga ya nulis ini bisa nyemangatin diri sendiri. Mudah-mudahan tulisan ini ngebantu dan hari emak bahagia ya 😉 Selamat istirahat

Advertisements

Jika Disuruh Nonton Film Berulang-Ulang Seumur Hidup, Saya Pilih Nonton…

Pastinya pertanyaan ini metafor aja, soalnya nonton film berulang kali bikin eneg lah. Sepertinya ini maksudnya memilih film favorit yang kita ngga keberatan nonton ulang-ulang.

images-1

Kalau disuruh pilih yang favorit, dan berulang kali ditonton mestinya yang bener-bener saya sukaaa sampai sedetil-detilnya. Sampai sekarang saya masih paling suka setiap aspek film 500 Days of Summer (2009). Dari cerita, grafis, aktor, tone, soundtrack sampai pesan moral.

Yang belum tahu, film ini tentang Tom (Joseph Gordon-Levitt) yang naksir berat rekan kerjanya, Summer (Zooey Deschanel). Meski Summer terang-terangan bilang ia tidak percaya sama cinta dan hubungan serius, Tom berhasil memacarinya. Tapi suatu hari Summer minta putus, Tom susah move on.

Cukup sederhana kalau diceritakan, tapi kalau ditonton jadi seru karena alur ceritanya loncat-loncat. Dari hari pertama bertemu Summer hingga hari ke 500.

Film ini juga cukup disukai teman-teman saya waktu itu dan bahkan suami (dari sebelum pacaran, suami setel soundtrack buat metode PDKT 😂).

Film lain yang saya pilih:

  • The Holiday
  • 13 Going On 30

Yang Saya Nantikan 6 Bulan Mendatang

images
Ini Raisa di film Terjebak Nostalgia, bukan saya ya 😉

Selamat minggu baru 🙂 Semoga semua dalam keadaan sehat ya. Masih kelanjutan dari 15 Day Writing Challenge, tantangan selanjutnya ngomongin yang dinantikan dalam 6 bulan mendatang.

  • Nggak jauh-jauh dari peran Ibu, saya berharap sih Samuel sudah bisa jalan. Sekarang ia sudah merambat dan masih pegangan untuk berdiri
  • Pengennya juga ia sudah bisa ucap lebih banyak kata dari ‘mama’ dan ‘papa’
  • Moga-moga kami bisa ketemu rumah baru yang lingkungannya lebih kondusif. Ya, saya dan suami sedang punya keinginan pindah rumah
  • Sebagai seorang penyuka film, saya berharap film terakhir yang saya tonton bukan Terjebak Nostalgia lagi (yang saya baru nonton semalam). Saya jauh​ ketinggalan film-film baru.
  • Insya Allah blog ini lebih baik dalam konten dan kualitas, juga lebih banyak pengunjung. Pengennya blog ini lebih berkembang. Siapa tahu bisa dapet job dari nulis juga
  • Saya berharap bisa silaturahmi dengan teman-teman dan keluarga lebih lagi
  • Makin lebih baik jadi Ibu 🙂

That’s all sih. Ibu-ibu punya harapan apa dalam 6 bulan?

Hal Yang Tidak Mau Dirubah Dari Diri

instagram.com/andinzki

Kalau ditanya hal apa yang tidak mau dirubah dari diri, mungkin saya jawab ‘punya hati’. Ada kan kata-kata, ‘Saya tak punya hati membiarkan dia begitu‘ atau ‘Hatimu dimana sih?’ Mungkin bisa dibilang ‘simpati’ atau ’empati’ ya. Karena saya rasa sekarang ini orang susah sekali punya hati.

Nggak bisa dibilang saya juga manusia paling berempati sih, ada juga kadarnya dan juga kadang saya masih harus lebih peka. Hanya saya lega atau bersyukur saya masih punya ‘hati’.

Contoh kasus sekarang ini banyak banget ‘bukti’ manusia tak punya hati. Paling gampang lihat di sosmed. Di sosmed sangat gampang beropini nyinyir. Atau yang paling kentara, banyak banget berita ‘menjatuhkan’ di masa Pilkada. Ya memang sih saya juga bisa kebawa kadang-kadang tapi ujung-ujungnya malu. Iya malu, karena bersikap seolah kita sendiri tanpa cela.

Nggak bisa sama sekali disalahkan kalau masa sekarang manusia suka kelihatan seperti ngga punya hati. Karena banyak juga manusia yang memanfaatkan empati orang yang akhirnya menipu dan manipulatif demi uang atau dapetin apa yang mereka mau. Yang ngeri itu kalau lama-lama jadi kebal, alias hatinya mengeras. Kalau sudah begini jadi ibarat zombie atau hatinya batu.

Nah gimana caranya biar hati nggak keras? Ya kalau nanya saya, mendekatkan diri dengan Tuhan. Atau sekali-kali coba melihat keadaan orang yang nggak seberuntung kita. Juga lakukan sesuatu dari hati, bukan demi reputasi atau manfaat lain.

Tulisan ini bagian dari tantangan menulis 15 hari.

Menceritakan Hari Terbaik Dalam Hidup

hari terbaik

‘Describe the best day of your life’.

Ada hari-hari yang jauh lebih baik dibanding hari-hari biasa, seperti hari kelulusan, hari jadian, hari diterima kerja dan lain-lain. Yang terbaik menurut saya adalah hari pernikahan saya. Kebetulan hari itu baru saja lewat di bulan Maret kemarin dan sudah masuk tahun ke tiga 🙂

Ini bukan jawaban ‘ya harusnya saya jawab itu’ padahal sebenarnya hari itu saya mangkel. Alhamdulillah, saya benar ngerasa hari itu indah dan memorable. Memang bukan hari yang sempurna, tapi sesuai dengan apa yang saya harapkan.

Nggak cuma saya akhirnya sah jadi pendamping suami yang saya yakini akan jadi imam baik buat saya, tapi karena itu adalah hari puncak dari hari-hari penuh stres mempersiapkan hari pernikahan dalam waktu singkat, juga melewati drama-drama sebelum nikah. Ada tangis emosi juga. Nggak perlu saya ceritakan detilnya, yang jelas saya dan suami nyaris persiapkan semua berdua aja.

Hari itu saya bangun tidur dengan perasaan yang anehnya tenang. Prosesnya berjalan lancar dan khidmat. Lalu kami sah sebagai suami istri. Bersalam-salaman dengan keluarga dan tamu. Foto-foto dan fisik batin selalu tersenyum. Indah banget rasanya, sekaligus plong karena prosesi berjalan lancar.

Gimana dengan hari lahirnya anak saya? Hari itu memang hari membahagiakan karena proses kelahirannya lancar dan kami berdua sehat, juga hari dimana saya akhirnya jadi Ibu. Sesayangnya saya pada anak saya, hari itu juga disisipi rasa tak nyaman karena proses operasi dan kesembuhan badan saya. Sedikit khawatir sana sini juga soal ASI yang mungkin tak keluar dan lain-lain.

Begitu aja, Buibu. Oh iya, ini bagian dari tantangan menulis 15 hari yang saya ikuti.

Menyebutkan ‘The Good, The Bad and The Ugly’ Dari Diri Saya

 

20170407_110902

Ini juga istilah yang belum pernah saya benar-benar ngerti, tantangan selanjutnya dari 15 Day Writing Challenge. Iya, ini judul film Western tahun 1966, cuma tetap agak bingung. Ya udah, saya coba jawab.

The Good: Determined. Kalau sudah niat dan mau raih sesuatu, saya berusaha capai itu.

The Bad: Meski saya berusaha nggak keluarin, cuma ternyata julukan ‘Jutek’ itu keluar juga. Apalagi kalau sedang cranky atau kesal, dan capek, ekspresi ini otomatis keluar tanpa dikontrol dan bisa singgung orang lain (maap yaa..)

The Ugly: Suka memaksakan melakukan semua sekaligus. Kerjaan banyak dan ide melakukan apa-apa banyak, tapi saya suka maksa lakuin kadang tanpa sadar fisik saya nggak mampu.

Begitu, Buibu. Ada juga ibu-ibu (yang sadar) jutek diluar sana?

Buku Rekomendasi: The Help – Kathryn Stockett

Image: https://goo.gl/images/FuoHIC

Minggu baru juga bulan baru, topik baru. Kali ini tantangan 15 hari menulis minta saya rekomendasikan buku. 

Saya hampir pilih Honeymoon With My Brother yang tentang pria ditinggal nikah lalu putuskan honeymoon dengan abangnya lalu malah menemukan pencerahan. Tapi buku itu lebih pas untuk yang jomblo. Nggak apa-apa, kalau kebetulan kamu yang baca tulisan ini jomblo, saya rekomendasikan juga novel itu kok.

Saya pilih untuk direkomendasikan ke ibu-ibu adalah novel The Help, oleh Kathryn Stockett. Mungkin banyak yang tahu kalau novel ini sudah difilmkan tahun 2011. Olivia Spencer menang Oscar untuk peran pendukung wanita terbaik karenanya. Selain itu, Emma Stone dan sederet aktris terkenal juga ikut main.

Cerita The Help adalah tentang asisten rumah tangga berkulit hitam, Aibileen dan Minny yang didiskriminasi oleh majikan berkulit putih yang marak di tahun ’60an di Amerika. Kisah mereka lalu ditulis oleh teman majikan-majikan sendiri yang berkulit putih, Eugenia ‘Skeeter’. Nggak gampang buat Eugenia bujuk mereka awalnya karena mereka takut keselamatan mereka terancam.

Perlakuan tak adil pada ART ini bikin miris karena Aibeleen, Minny dan ART lain bekerja merawat anak dan rumah majikan mereka dengan hati dan juga rajin. Yang buat makin miris, ketika mereka dipecat karena hal sepele atau kecurigaan berlebihan adalah perpisahan ART ini dengan anak-anak majikan mereka yang sudah terikat dengan mereka.

Ini juga dialami Eugenia ketika kecil, berpisah dengan pengasuhnya yang berkulit hitam yang ia sangat sayangi. Eugenia ingin masyarakat lebih menghargai para ‘The Help’ ini. Ia juga baru lulus kuliah jurnalistik dan ingin membuktikan diri. Apalagi diantara teman-temannya, cuma dia yang belum menikah.

Kutipan terkenal dari film ini adalah ucapan motivasi dari Aibeleen ke anak yang ia asuh ketika anak itu merasa down:

Sumber: Pinterest

Ada juga ART yang sangat disayang dan diperlakukan baik seperti Minny yang majikan barunya punya pribadi hangat. Majikan Minny diasingkan ibu-ibu sekitar karena suaminya adalah mantan kekasih Ibu yang cukup berkuasa di sana. 
Sebenarnya permasalahan utama cerita novel ini adalah diskriminasi ras. Tapi yang juga disorot adalah ironi ibu rumah tangga yang memperlakukan sewenang-wenang pembantu yang membantu merawat anak mereka dengan kasih sayang. 

Meski Ibu adalah orangtua yang berhak merawat anak termasuk caranya, banyak yang pada kenyataannya terlalu menggantungkan pekerjaannya pada ART lalu memperlakukan mereka semena-mena. Akhirnya mereka juga tidak punya ikatan emosional yang sama dengan anak mereka sendiri dibanding anak mereka dengan si ART. Ibu bisa lupa memberi motivasi pada anak dan justru mengecilkan diri anak tersebut. Si anak justru dapat encouragement atau motivasi dari orang lain, di cerita novel ini, orang yang dibayar untuk mengasuh mereka. Lebih menyakitkan bagi anak ketika lalu si pengasuh diberhentikan.

Ceritanya cukup bikin emosional dan menginspirasi. Intinya agar ikuti kata hati jika ada yang tidak wajar di mata kita, termasuk perlakuan tidak adil orang kepada kita. Tidak ada yang berbeda di antara sesama manusia, tidak perlu ada yang merasa lebih tinggi dan lebih rendah. 

Disini di kacamata anak yang polos, warna kulit dan ras tidak masalah selama ia disayang dan diperlakukan tulus. 

Kalau menurut saya sih bagusan versi buku karena lebih detil. Versi film ada yang sedikit dibumbui. Standard-nya memang buku selalu lebih bagus karena kita punya imajinasi sendiri. Buat ibu-ibu yang senang buku sarat emosi dan punya nilai inspirasi, bisa coba baca buku ini.

Udah ada yang pernah baca novel ini atau nonton filmnya juga?