Ngomongin Pengalaman Paling Memalukan

img_20170418_065007

Akhir-akhir ini aktivitas jadi ibu dan lain-lain padet, nih. Jadi nge-blog agak dikesampingkan. Si Samuel sudah lebih aktif lagi dan gampang bosenan. Tapi sebenarnya agak males juga dengan postingan selanjutnya 15 Day Writing Challenge ini: ngomongin pengalaman yang paling memalukan.

Pengalaman memalukan bisa jadi menyakitkan atau justru konyol. Ya, saya pilih yang konyol aja ya. Yang menyakitkan tak perlu diingat-ingat 😉 Pengalaman ini mungkin paling memalukan dari masa kecil saya, tapi lucunya saya waktu itu nggak merasa malu sampai momennya lewat.

Waktu itu usia saya masih TK. Saya lupa awalnya bagaimana, yang jelas tiba-tiba saya sudah ngompol di dekat bangku saya. Dan, seluruh anak di kelas sadar dengan insiden ini. Saya masih ingat mereka ngeliatin saya bengong bahkan berdiri mengelilingi saya. Lucunya saya nggak merasa malu waktu itu.

Tahu-tahu saya sudah ada di ruang luar kelas dan diganti bajunya oleh guru dengan macam-macam seragam, sepertinya berbagai stok seragam yang ada di sekolah. Nah baru melihat kerepotan guru ganti baju saya, saya baru malu.

Pulang sekolah, saudara saya yang waktu itu tugasnya menjaga saya bingung dengan pakaian yang saya pakai beda dengan waktu pagi. Ia pikir sekolah punya seragam baru.

Begitulah satu pengalaman paling memalukan semasa kecil, cukup bikin senyum-senyum kalau diingat lagi.

Advertisements

Cerita Momen Masa Kecil Favorit: Liburan ke Puncak

Lanjutan dari tantangan menulis 15 hari, alias 15 Day Writing Challenge kali ini soal momen favorit masa kecil. 

Kalau ada kumpul-kumpul keluarga saya mainnya juga dengan sepupu yang juga bungsu. Saya justru paling tua diantara mereka. Jadinya saya justru yang suka ajak main ini itu.

Tapi beda dengan waktu saya dan keluarga liburan ke Puncak dengan keluarga saudara dan teman Ibu saya. Kira-kira umur saya masih SD. Tempatnya  di semacam komplek villa yang berbukit-bukit kecil dengan rumput hijau (waktu kecil rasanya indah banget). Nggak cuma sekali liburan wiken ke Puncak waktu kecil, ada beberapa kali dan memorinya hangat dan nyenengin. Saya suka pemandangan, rumahnya dan bunga-bunganya cantik banget.

Saya lupa kenapa sepupu-sepupu bungsu lain nggak ada di ingatan saya di kala liburan itu. Kalau nggak salah, sepupu bungsu saya lebih milih nempel sama Ibunya ketimbang ‘berkelana’ dengan saya, jadi saya sempet kecewa banget. Udah mikir bakal bete di wiken itu.

Akhirnya saya justru ngumpul bareng saudara jauh yang sepantar. Saya nggak kenal mereka sebelumnya. Karena sepantaran itu, tau-tau kita jadi bentuk geng sendiri khusus di acara itu. Sementara orangtua ngobrol-ngobrol ngumpul.

Karena saya ini pemalu dan kalaupun kumpul sama teman, cuma teman sebangku atau 1-2 orang, masuk geng macam ini “berarti” banget. Apalagi geng saya ini kelihatannya ‘vokal’ banget dan gampang akrab dengan siapa saja. Mereka cukup asik mengajak saya main. 

Main apa aja lupa, kalau nggak salah naik kuda bersama-sama. Saya ingat sampai bohong sama Papa saya minta duit untuk naik kuda, bilangnya mau makan bakso (kalau dipikir-pikir aneh juga kejadian ini). 

Saya jarang banget minta duit frontal sama Papa saya seperti itu. Karena pingiiin banget naik kuda sampai begitu. Papa saya kelihatan santai saja, cuma nggak biasa lihat saya begitu excited. Ternyata dia lihat saya naik kuda juga dari kejauhan dan nggak marah saya bohong. 

Maklum, dulu Mama saya galak jadi saking takutnya nggak dibolehin naik kuda saya sampai bohong. Cuma, saya lupa ternyata Papa saya lebih santai. Saya lega Papa saya nggak marah dan malah geli lihat saya sampai begitu. 

Siapa saudara-saudara jauh saya itu, saya udah nggak kontak lagi. Mungkin saya pernah ketemu mereka lagi, mungkin nggak.

Sampai sekarang, kalau mimpi suka tiba-tiba saya ada di salah satu villa Puncak itu, sekelebat aja. Momen masa kecil ini mungkin yang paling indah di masa kecil saya.

15 Fakta Menarik Tentang Sunglow Mama

Room (2015), film tentang Ibu dan anak yang tersekap dalam kamar (image dari The AV Club)

Tantangan pertama dari 15 Day Writing Challenge ini adalah menulis 15 fakta menarik tentang saya, atau sebutan saya di blog ini, Sunglow Mama 🙂 Harusnya pakai judul ‘fakta menarik tentang saya’ tapi kok rasanya narsis banget, hehe (Menurut saya menarik, mudah-mudahan menurut yang lain juga menarik ya). 
Tentang saya-nya saya geser ke saya waktu hamil, jadi ini rada ke-mama-mamaan ya. Soalnya nanti malah merembet ke fakta tentang anak jadi nggak fokus. Nah ini dia:

  1. Muka saya waktu kecil dijuluki karakter kartun Betty Boop karena mirip
  2. Pertama punya blog kalau tak salah di Multiply. Isinya agak-agak curhat, hahaha.. tapi bikin lagi di Multiply isinya foto-foto lomo
  3. Dulu saya doyan blog tentang film, jadi maklum kalo saya suka bahas film
  4. Waktu TK, saya doyan nonton video (film) kartun Disney hampir tiap sebelum masuk sekolah. Dulu masih dalam format kaset VHS
  5. Saya tak suka pedas, tapi waktu hamil jadi doyan pedas. Lebih toleran dengan pedas dari biasanya.
  6. Karena banyak orang lagi menanti film Star Wars terbaru, waktu hamil saya banyak nonton film Star Wars. Di TV ada marathon filmnya. Juga ke bioskop buat nonton Star Wars : Force Awakens.
  7. Hamil trimester pertama, doyan makan ikan lele
  8. Saya kerja di media kira-kira hampir 10 tahun
  9. Waktu hamil, saya merasa sangat terhubung dengan film Room (2015) 
  10. Saya hamil Samuel kira-kira sebulan setelah Papa saya meninggal
  11. Sebelum tahu saya hamil, saya ditanyai 3 orang berbeda yang tidak saling kenal apa saya sedang mengandung. Jadi kode untuk saya untuk cepat cek kehamilan.
  12. …Yang pertama tanya teman lama yang baru ketemu, kedua mbak-mbak di apotek (waktu itu tiba-tiba saya sakit gigi) dan supir gojek yang memilih mengendarai motor bersama saya di aspal rusak
  13. Album musik pertama yang saya punya yaitu band Denmark, MLTR (Michael Learns to Rock)
  14. Ngomongin MLTR, saya juga baru-baru ini merasa connected dengan lagu Sleeping Child. Karena sudah jadi orangtua. Lucu ya, padahal dengar pertama kali masih kira-kira umur 12-13 tahun
  15. Saya didiagnosa preeclampsia ketika hamil tua Samuel (nanti saya ceritain lengkapnya ya)

    Nulis ini awalnya bingung, tapi ternyata banyak faktanya yang saya sempat tulis dan edit.

    Eh iya moms kalau mau ikutan dan komentar, boleeh banget ya…

    Angelina Jolie and Being A Mother

    Pertama kali di posting di sunglowandme.wordpress.com. Saya menulis ini ketika masih hamil baby Sam.

    February’s ending already, so soon! I’ve entered 27 weeks of pregnancy, so many development and I can feel the baby’s movement in my belly. Also heard his heartbeat couple of weeks ago, such an amazing thing.

    There’s a lot of topic to blog. But what comes to my mind this morning, was Angelina Jolie’s statement about how she never wanted to be a mother.

    “It’s strange, I never wanted to have a baby. I never wanted to be pregnant. I never babysat. I never thought of myself as a mother,” the now mother-of-six revealed.

    It was while playing with children at a Cambodian school during an early trip as goodwill ambassador for the U.N. that everything changed for her: “It was suddenly very clear to me that my son was in the country, somewhere.”

    brad-pitt-angelina-jolie-w-magazine-2
    Lovely picture of Angelina Jolie being a mother that was taken by Brad Pitt himself

    Amazing how a mother of 6 kids said that. You always think when you see Angelina Jolie adopting and having a baby thinking, wow she had it (being a mother) in her blood. I never saw Angelina Jolie to be one after seeing her bad ass characters in movies.

    I never actually saw myself as a mother too. Never pictured myself pregnant (except for imagining a bit what married life would be). I babysat for only maybe an hour or two for my sister’s kids, or maybe when she went out for a couple of minutes, like that counts. When I just got married, people asked when or why you’re not pregnant yet. I thought, ‘I just got married.’ I’m not Charlotte from SATC, who mastered everything about being a mother before she even got pregnant. I still amazed on the baby stuffs I should buy when I browsed it the other day.

    When I just found out that I am pregnant, I wondered that if I can be a mother or have the instinct to be. One of my relative said, ‘(Don’t worry) It should come naturally.’ I think when the moment comes, the moment comes.

    a6756a5c1058ed5e863725059e7bbea7
    from the Baby Mama movie, an exaggerated expression when it’s quite weird to eat healthy all the time

    But I experience the baby kick when I played on Coldplay song the other day. When the big thunder blared, he kicked (perhaps surprised with the sound). When the TV aired someone did a bad karaoke singing as well. I feel the connection, which is something I never experience before, which is very beautiful. Or, when my husband feel and kiss the belly affectionately. Or, the urgency to eat everything that did not contain any bad element for the baby.

    Of course it’s hard, being a mother, from the very early of pregnancy (well, I’m not a mother fully yet). I think that’s why women now not eager to be one, considering all the hassle and pain, and the sacrificing, and it goes on for 20 years perhaps. But I wondered though, why some women keep doing it anyway? Like why Angelina Jolie have 6 kids? Or, some families who have 12 kids and keep their sanity at the same time.

    I saw their faces. It’s the joy.

    Yes, motherhood. I always felt when I feel like I’m ready to be a mother, I’ll be a mother. But in some cases in my life, life throws me one before I know I’m ready.

    Babies are pure, we are the ones who messes them. I think, though parents are there to guide them, kids also unconsciously ‘guide’ the parents. Test their patience and their ability (this Indonesian article said it). It’s up to the parents if they chose to be caught by it.

    I said this before being a parent, so perhaps I won’t be as perfect. But it’s important to remember this after opening this new chapter. So Angelina Jolie, it’s an inspiring experience you shared. And bismillah, for me and my hubby to this new chapter.

    Dunia Sebelum Samuel

    Bingung, posting apa untuk ‘membuka’ blog ini. Proses kelahiran Samuel? Ah nanti dulu. Proses ketemu suami? Kejauhan. Hmm, gimana kalau situasi sebelum Baby Samuel lahir?

    Eh, bukan tentang situasi ranjang ya maksudnya 😁

    Hidup seperti dalam persimpangan sebelum saya mengandung


    Tahun 2015, atau akhir 2014, almarhum Papa saya masih ada. Orangtua saya memang bukan tipe yang suka nanya ‘udah isi?’ seperti beberapa saudara saya. Tapi papa saya beberapa kali menganjurkan saya baca ayat Al-Qur’an tertentu untuk memudahkan saya hamil. Ibu saya pernah bilang, nggak usah pikirin pertanyaan udah hamil atau belum. Bahkan kakak saya juga bilang, kalau belum siap ya jangan dulu lah. 

    Sejujurnya, saya bukan tipe wanita yang secara alami punya naluri keibuan dari sebelum punya anak. Saya anak bungsu yang kelamaan diperlakukan sebagai bungsu. Waktu keponakan saya sudah ada pun butuh beberapa waktu untuk saya berperan menjadi ‘tante’. Jadi ketika suami ngomongin punya anak habis nikah, saya masih ragu-ragu. Malah saya agak takut.

    Saya nggak berani bilang nggak mau punya, karena saya nggak yakin 100% juga nggak mau punya seumur hidup. Wallahu’alam, karena hati juga yang atur Allah. Saya cuma lihat repotnya kakak saya mengatur anaknya. Mengingat betapa gampang naiknya emosi Ibu saya ketika pulang kerja kantoran karena capek. Yah, saya cuma fokus ke capeknya aja deh.

    Plus, karena saya doyan nonton film dan serial TV barat yang mempertontonkan wanita yang mandiri atau ‘dipaksa harus punya anak’, yah jadi sedikit banyak terpengaruh.

    Lalu transisi itu datang. Dari kerja kantoran jadi kerja dari rumah, meski kerjanya nggak sepadat kantoran juga. Nggak gampang alami transisi itu, tapi perubahan itu perlu. Saya juga ‘belajar’ dulu peran saya menjadi istri. 

    Kembali ke anjuran papa saya untuk baca ayat Qur’an. Saya mengiyakan, tapi lama kelamaan Papa saya seperti melihat kalau saya dan suami terbilang santai untuk urusan ini. Intinya kalau dikasih, Alhamdulillah. Kalau nggak, ya sudah. Sebenarnya lebih ke mengurangi tekanan saja. Kalau saya sendiri, yah masih nervous jadi ibu. 

    Ketika Papa saya lalu dipanggil oleh-Nya, situasi saya sudah tak terlalu fokus ke karir. Saya seperti bingung apalagi yang mau saya cari. Mengingat sepertinya punya cucu akan sangat membahagiakan beliau, terlintas di kepala kalau saya tak keberatan punya anak kalau itu bisa bahagiakan Papa. Melihat ‘lahan kosong’ dalam hidup saya, saya pikir, ‘Sekalian saja saya punya anak.’

    Dan tak lama, selang kira-kira sebulan dari kepergian Papa, adalah haid terakhir saya sebelum saya mengandung Samuel. Be careful what you wish for, padahal pikiran itu baru seperti segumpal kecil awan dalam kepala. Tahu-tahu, saya sudah hamil.