5 Film Layak Tonton Tentang Perasaan Terisolasi

Di masa harus stay at home atau work from home karena mencegah pandemi Corona, bisa membuat diri merasa jenuh dan bosan, bahkan jadi merasa terisolasi. Segala rutinitas harus dilakukan di dalam rumah atau ruang yang itu-itu saja. Mungkin kita sudah melakukan segala upaya agar kebosanan pergi. Tapi sayangnya, demi melindungi diri dan orang-orang lain agar terhindar dari virus Corona, hal ini harus dilakukan. Setidaknya sampai wabah ini pergi, segera Insya Allah.

Daripada meratapi diri atau merasa down karena harus mengisolasi diri di rumah, mungkin kita bisa melihat bagaimana karakter-karakter film menghadapi situasi yang mirip. Setidaknya ada 5 film yang menurut saya layak ditonton mengenai perasaan terisolasi :

The Truman Show (1998)

Film yang bercerita tentang kehidupan sempurna Truman Burbank (Jim Carrey) ternyata hanyalah kehidupan yang diatur demi jadi tontonan sebuah reality show. Truman kemudian merasa terjebak dalam kehidupannya sendiri.

Menurut saya film ini sangat menyindir kehidupan publik figur atau aktris dan aktor yang sederet kejadian dalam kehidupannya tidak benar-benar nyata alias telah di-setting agar layak konsumsi orang banyak, atau agar populer. Pada suatu titik, si publik figur akan merasa terjebak atau kesepian dalam kebahagiaan yang semu.

The Diving Bell and The Butterfly (2007)

Berdasarkan memoar Jean-Dominique Bauby, editor majalah Elle, dengan nama yang sama, film ini menceritakan tentang kehidupan Bauby setelah mengalami stroke besar yang membuatnya mengalami kondisi yang dikenal sebagai sindrom terkunci, dimana membuat seluruh tubuhnya lumpuh. 

Film yang menurut saya menginspirasi karena di kondisi badan lumpuh, Jean-Dominique perlahan-lahan berusaha menata dirinya dan hidupnya, memperbaiki karakternya sembari menulis memoar dalam peristirahatannya.

Penelope (2007)

Kisah seorang gadis muda bernama Penelope (Christina Ricci) yang terisolasi di rumah besarnya karena rupanya (tepatnya hidungnya aja sih) yang mirip seekor babi. Agar kutukan di rupanya hilang, orangtuanya mengupayakan Penelope ‘berkenalan’ dengan pria-pria.

Meskipun ada beberapa kekurangan dalam setting cerita, film Penelope punya makna yang cukup dalam tentang menerima dan mencintai diri sendiri.

127 Hours (2009)

Diangkat dari kisah nyata yang bercerita tentang seorang pendaki gunung, Aron Ralston (James Franco) yang terjebak dalam tebing selama 127 jam sebelum ia akhirnya diselamatkan.

Dari cerita dalam film, Aron terkesan sangat terfokus pada kegiatan mendakinya sehingga mengacuhkan hubungannya dengan orang lain, juga aspek lain dalam kehidupannya. Namun yang jadi sorotan di film ini adalah di titik klimaksnya. Aron melakukan hal ekstrim yang orang biasa tak mungkin lakukan demi keselamatan dirinya. Pastinya adegan ini akan membuat setiap yang menonton selalu teringat film ini.

Room (2015)

Berdasarkan novel berjudul sama, Room bercerita tentang kehidupan ibu (Brie Larson) dan anaknya yang disekap dalam rumah kecil. Si Ibu diculik lalu memiliki anak dari si penyekap. Akhirnya Ibu merencanakan melarikan diri dari penyekapan tersebut dengan mengandalkan anaknya.

Saat menonton ini saya tengah hamil, jadi mungkin jiwa keibuan saya sedikit terusik melihat kehidupan ibu dan anak yang tertekan tersebut. Brie Larson sendiri membawakan peran ibu dengan sangat alami hingga langsung membawanya menyabet penghargaan Oscar. Bagaimanapun jeleknya orangtua, anak tetap lahir dalam keadaan bersih lahir batin tanpa tahu apa-apa.

Itulah 5 film layak tonton tentang perasaan terisolasi. Ternyata setiap karakter punya pembelajaran dari kisahnya sendiri, dibalik hidup yang terisolasi.

Apa ada yang sudah ditonton? Bagaimana pendapat ibu-ibu?

Perjalanan Blogging: Dari Blogger Foto, Blogger Film Sampai Parenting

Wow, lagi-lagi saya menulis menyahut dari topik yang diangkat komunitas blogging. Kali ini dari Blogger Perempuan. Bulan ini membahas tentang perjalanan blogging pribadi. Mulai darimana ya?

Kalau mau diusut, pertama kali blogging seingat saya di Multiply (bagi yang nggak tahu, Multiply sudah nggak ada lagi). Lupa tahun berapa. Waktu itu nggak jelas mau nulis apa. Mau curhat tapi jadinya kesana kemari dan berakhir ngegantung, hihihi. Akhirnya gak nulis lagi.

Habis itu kalau gak salah bikin Multiply baru, kali ini fokus untuk pamer foto hasil dari hunting pakai kamera Lomo. Maklum, dulu keikutan jadi anak kekinian Jakarta, beli kamera Lomo tahun 2007 di toko buku aksara pakai duit THR pertama 😁 Kamera pertama aku, namanya Holga. Jadi yang follow dan baca ya anak-anak lomo juga. Tapi nggak gitu terkonsep juga sih, malu-malu dan jaim malah.

Salah satu venue screening Europe on Screen

Karena aku udah cukup lama ngantor dan jenuh, tercetus kepengen bikin blog khusus review film. Kali ini serius banget nih. Pengen fokus sama film-film yang bikin aku terinspirasi. Ngeblognya pakai bahasa inggris dong, padahal bahasa inggris aku sebenarnya nggak sempurna. Kepedean juga setelah aku pikir-pikir, tapi niatnya dong menggebu-gebu 😆

Baca Juga: ‘Ketukan’ Dari Masa Lalu

Pertama, bikin blognya di wordpress. Ternyata nama blog aku udah ada yang pakai oleh sebuah brand. Akhirnya pakai nama baru dan pindah ke blogspot. Nah, di blogspot ini aku sampai join LAMB, komunitas film blog internasyenel (ciyeh). Jadi habis join LAMB ini jadi lebih banyak interaksi dengan film blogger luar. Blog aku di-review sama podcast LAMB, karena memang aku yang submit. Deg-degan, blog aku dikritik tapi juga dipuji. Jadi makin semangat setelah itu.

Karena pengen serius banget ya ngeblog soal film, aku pindah ke self-hosted wordpress. Nah disini mulai ngulik soal web yang diurus sendiri. Sebenarnya diriku sangat ingin dibantu oleh yang mengerti soal hosting web dan script-nya. Tapi bingung ke siapa dan dimana. Alhasil nanya-nanya doang sama teman-teman yang ngerti.

Sebulan aku bisa nonton sampai 10an film (itu sedikit ya dibanding yang sampai 20an). Aku selalu berusaha nonton film terbaru karena film baru biasanya banyak yang kepo sama reviewnya. Kendalanya, nggak semua film masuk ke Indonesia dan kesibukanku ngantor. Aku juga banyak interaksi dengan blogger film luar, mengajak mereka isi fitur blog aku dan aku juga kadang ikut fitur blog mereka. Seru deh, ketika kita banyak interaksi dengan yang minat dengan blog kita. Sedihnya, terkendala ketemu dengan teman-teman blogger film ini karena mereka tersebar di belahan dunia lain. Tapi kopdar dengan film blogger Indonesia juga pernah. Oh iya, aku juga punya dua kontributor blog, lho.

Baca Juga: Jika Disuruh Nonton Film Berulang-Ulang, Saya Akan Nonton…

Blog aku berat dibuka dan diakses, tapi banyak tawaran untuk di-monetize dan aku juga udah pakai Google Adsense. Tawarannya lumayan banyak yang datang, tapi sedikit yang beneran dan yang mau aku terima. Banyaknya tawaran dari produk yang nggak halal, walaupun dibayar besar tapi aku nggak mau. Alhamdulillah, aku sempat juga jadi kontributor untuk situs film online.

Nah, udah jalan tahun ke berapa ya, aku mulai datang ke screening film lokal. Pertama kali yang aku datengin itu screening film Sang Penari. Lalu, undangan screening film dan festival juga ada. Ada juga sih yang dikasih sama rekan blogger lain. Festival film yang langganan aku datengin itu Europe Film Festival. Karena banyak pilihan dan gratisan. Pernah juga aku review film indie yang baru rilis dan di-screening sama festival film lokal, lalu review aku di-retweet sama sutradaranya plus twitter blog aku di-follow sama aktrisnya (kalo nggak salah aktrisnya ini yang isi suara Dora The Explorer). Seingatku pernah juga aku dibalas twitnya sama Garin Nugroho.

Oh well, itu masa lalu. Lama-lama nonton film jadi nggak fun. Dan, entah kenapa jadi nggak menginspirasi kaya dulu. Mungkin terlalu banyak referensi atau aku aja yang udah nggak sama lihat film.

Gencar nulis film bikin jenuh juga, aku akhirnya bikin blog lain buat cerita hal-hal umum dan keseharian aja. Sempat juga mikir bikin blog berbahasa inggris untuk hijaber, tapi ragu karena masih baru pakai hijab juga. Habis nikah aku jadi jarang ngeblog karena banyak yang diurusin selain juga mulai buka online shop. Apalagi setelah punya anak, semakin nggak kepegang.

Baca Juga: Ngomongin Pengalaman Suka Duka Buka Online Shop Paska Resign Kerja Kantoran

Berubah juga sih value hidup aku. Bukannya aku nggak senang ya nonton film dan nge-review isinya, tapi aku jadi mulai memfilter apa aja yang aku konsumsi dari tontonan hingga makanan. Karena apapun yang kamu konsumsi lama-lama bakal mempengaruhi mindset kamu. Apalagi kalau filmmaker-nya punya beda value dan budaya, nah itu jadi clash pada akhirnya.

Ngeblog setelah punya anak sekali-kali aja. Tapi akhirnya aku bikin Sunglow Mama karena aku ingin ngerekam keseharian aku sebagai ibu dan punya anak. Tapi lama-lama aku cuma mau nulis aja apa yang sedang jadi interest aku. Mungkin karena keseharian sudah berperan jadi ibu, ngeblog jadi tempat untuk mikirin hal lain.

Sering ikut kelas sharing di Whatsapp, aku iseng ikutan kelas sharing Website. Ternyata kelas ini untuk belajar membuat blog. Ketika disuruh buat blog, langsung muter otak mau bikin apa. Tercetuslah Ummi Kerja Dari Rumah, blog buat ibu-ibu yang ingin kerja dari rumah.

Dan disinilah kita, lagi baca salah satu postingan ODOP 🙂

Itu aja ya moms. Berliku dan bosen, ngga, bacanya? 😆 Gimana menurut ibu-ibu? Bagaimana pengalaman blogging moms?

Jika Disuruh Nonton Film Berulang-Ulang Seumur Hidup, Saya Pilih Nonton…

Pastinya pertanyaan ini metafor aja, soalnya nonton film berulang kali bikin eneg lah. Sepertinya ini maksudnya memilih film favorit yang kita ngga keberatan nonton ulang-ulang.

images-1

Kalau disuruh pilih yang favorit, dan berulang kali ditonton mestinya yang bener-bener saya sukaaa sampai sedetil-detilnya. Sampai sekarang saya masih paling suka setiap aspek film 500 Days of Summer (2009). Dari cerita, grafis, aktor, tone, soundtrack sampai pesan moral.

Yang belum tahu, film ini tentang Tom (Joseph Gordon-Levitt) yang naksir berat rekan kerjanya, Summer (Zooey Deschanel). Meski Summer terang-terangan bilang ia tidak percaya sama cinta dan hubungan serius, Tom berhasil memacarinya. Tapi suatu hari Summer minta putus, Tom susah move on.

Cukup sederhana kalau diceritakan, tapi kalau ditonton jadi seru karena alur ceritanya loncat-loncat. Dari hari pertama bertemu Summer hingga hari ke 500.

Film ini juga cukup disukai teman-teman saya waktu itu dan bahkan suami (dari sebelum pacaran, suami setel soundtrack buat metode PDKT 😂).

Film lain yang saya pilih:

  • The Holiday
  • 13 Going On 30