Seri Syar’i: 3 Tipe Gamis Yang Harus Ada Di Lemarimu

Artikel ini mengandung konten promosi barang

Perkenalkan ada seri baru di blog ini: Seri Syar’i. Isinya tentang dunia syar’i dan perempuan muslimah.

Insya Allah yang saya tulis bermanfaat ya. Soalnya kalau ngomongin syariat Islam, saya merasa harus berhati-hati. Takutnya ada yang miss atau salah informasi, takut sama pertanggung jawabannya nanti. Gapapa ya kalau ada yang salah, kita saling kasih masukan.

Saya juga nggak pernah lihat blog lokal yang menulis soal syar’i. Apa sayanya aja yang belum ketemu? Moga-moga serinya layak baca.

Bicara soal syar’i, yuk kita telusuri dulu maknanya:

Syariat Islam (Arab: شريعة إسلامية Kata syara’ secara etimologi berarti “jalan yang dapat di lalui air”, maksudnya adalah jalan yang ditempuh manusia untuk menuju Allah. Syariat Islam adalah hukum atau peraturan yang mengatur seluruh sendi kehidupan umat Islam, baik di dunia maupun di akhirat.

Wikipedia

Sementara berpakaian syar’i tentunya berarti berpakaian yang sesuai dengan syariat Islam. Bagaimana tuh yang sesuai syariat Islam? Nah, jangan lupa ayat di kitab suci kita yang menyebutkan ketentuan berhijab:

Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka ….”

(QS. An-Nuur: 31)

(Sebenarnya cuma mau nulis soal gamis tapi ternyata menuju ke sana kudu bahas dasarnya dulu. Lha kok jadi terasa kaku yaa)

Tapi cukup jelas di ayat An-Nuur itu disebutkan bahwa wanita sebaiknya menutup aurat dan tubuhnya. Karena itu sebaik-baiknya baju yang tidak menampakkan lekuk tubuh, adalah gamis dan kerudung yang menutup dada.

Bagi muslimah hal ini sudah jadi pengetahuan dasar. Namun, jika kamu baru mau pakai pakaian syar’i, ada baiknya kamu tahu jenis gamis yang harus ada di lemarimu. Ini dia:

1. Gamis Sehari-Hari Atau Gamis Daily

Namanya juga pakaian sehari-hari, maka itu gamisnya harus nyaman dipakai, menyerap keringat, lentur dan terlihat santai. Biasanya cuma dipakai ke sekitaran rumah, seperti warung, tetangga atau mini market. Biasanya bahannya adem seperti katun.

2. Gamis Polos

Ketika baru mau pakai baju syar’i, biasanya kita suka lihatin toko gamis dan silau dengan berbagai model dan motif cantik. Padahal, jangan lupa kalau gamis bercorak harus dipasangkan dengan hijab yang sesuai. Selain itu, coraknya belum tentu cocok dengan acara/tempat yang mau kamu datangi dengan memakai gamis itu. Jadi, gamis polos harus ada di lemari. Karena gamis polos lebih mudah dipadupadankan.

Cek videonya di https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10157304263829624&id=542169623

3. Gamis Semi-Formal

Sewaktu-waktu, misal ada acara semi-formal atau bahkan formal, kamu udah punya gamisnya. Disini, walau acaranya formal sekalipun, masih bisa dipakaikan hijab formal dan sepatu pesta. Jadi, kamu nggak perlu cari gamis formal karena udah ada gamis semi-formal.

Dengan begini, kamu nggak kebanyakan koleksi baju. Karena menurut pengalamanku, baju formal lebih sering dianggurin di lemari. Sementara kita nggak boleh kebanyakan koleksi barang karena bakal dipertanggungjawabkan juga alias dihisab barang-barang yang kita punya tapi nggak dipakai.

Semua jenis gamis ini ada di brand Nibras loh, bahkan ada juga koleksi buat anak laki dan perempuan, juga lelaki dewasa. Mau nanya-nanya soal Nibras bisa kontak ke aku aja ke https://wa.me/6285155090148.

Nah, menurut ibu-ibu apa ada jenis gamis lain yang harus ada di lemari baju kita?

Referensi:

https://rumaysho.com/18422-faedah-surat-an-nuur-19-perintah-berjilbab-syari.html

Wikipedia

Ngomongin Pengalaman Suka Duka Buka Online Shop Sendiri Paska Resign Kantoran

Bismilllah, mau cerita soal pengalaman aku habis resign menuju ke buka online shop sendiri kira-kira akhir tahun 2014 dan 2015.

Sebenarnya nggak lama running online shop-nya sebelum mandeg karena kesalahan management, tapi I don’t regret it at all. Mungkin bisa jadi pelajaran buat yang mampir baca ke sini ya..

Proses menuju keputusan resign sendiri butuh waktu sebelum akhirnya mengiyakan, karena rasanya dunia (alah, lebaynya) atau tepatnya Allah sudah nggak mau aku disitu lagi. Bahkan sebelum resign sempat mau mutasi ke bagian lain, tapi menurut head-nya aku punya banyak kreativitas sehingga kurang cocok ada di bagian itu.

Lalu saya resign. Segala kelegaan dalam diri mengalir, karena kalau boleh jujur saya itu terjebak dalam zona nyaman: pekerjaan tetap, asuransi, prestige pekerjaan. Namun semua itu bohong, karena saya udah nggak hepi lagi jalanin itu semua. Mirip kaya operator lebih tepatnya dan ibarat mesin. Masuk kerja, pulang, begitu aja tiap hari tanpa ada jiwa kalau diistilahkan. Soalnya saya ini punya bibit nyeni, harus ada yang stimulus kreativitas saya. Lingkup dan bidang kerja saya semua sudah terbaca dan terasa monoton. Saya juga udah gak nyambung dengan lingkungan kerja.

Saya masih aktif ngeblog soal film, dan kebenaran ada project dengan bayaran lumayan di waktu yang nyaris bersamaan. Jadi makin pede lah mau resign. Memang sih, ada suami yang bilang tugas cari nafkah ada di dia. Tapi idealisme itu masih ada. Ide running your own shop rasanya seru sekali.

Waktu itu yang tercetus mau produksi bros sendiri untuk hijaber. Saya terkesima lihat berbagai referensi di Pinterest. Mungkin kalau lihat itu lagi jadi kepengen bikin lagi. Tapi, sayangnya pasaran di Indonesia kurang tertarik dengan produk saya. Seorang teman bilang ia miris lihat bros dijual murah kebangetan di pasar atau grosir. Sebenarnya ini bukan pertama kali saya kepentok mental orang kita yang memurahkan pekerjaan kreatif. Dulu saya bahkan sudah mendengar itu dari dosen yang bilang orang di negara lain lebih bisa menghargai kreativitas.

feed jualan bros di @magicmintshop

Yah, akhirnya saya beralih ke jualan produk jilbab. Berhubung sayapun baru kurang lebih setahun memakai jilbab dan sedang semangat-semangatnya mikirin OOTD atau pakai jilbab yang motifnya kekinian. Nah, ketika menjual jilbab ini lumayan banyak pembelinya walau saya belum supply banyak. Seakan mendukung usaha, di dekat rumah satu jasa kurir terkenal buka cabang. Bahkan karyawannya super ramah, tawarkan jasa lewat whatsapp dan membolehkan paket diambil kurir tanpa minimal order. Memudahkan saya yang juga ngurus rumah ini.

Namun saya agak terhambat mencari supplier bagus dengan harga yang reasonable. Ada kesalahan pula dalam me-manage pengeluaran.

Untuk mengakali ini saya beralih jadi reseller. Di saat yang sama saya hamil, juga mengambil pekerjaan sebagai freelancer, jadi cukup kewalahan. Waktu anak lahir, saya sempatkan waktu sebagai reseller. Wah, saya berterima kasih banget hidup di jaman internet ini. Masih bisa kerja sambil menyusui di tempat tidur. Beberapa stok jilbab tersisa dijual secara offline oleh kerabat.

Namun karena gak banyak penjualan, saya stop menjalankan Magic Mint Shop. Namanya dipilih karena saya suka warna toska dan mint (magic mint itu nama warna). Saya fokus ngurus anak bayi baru lahir dan kerja freelancer. Lucunya kala itu, sewaktu-waktu bisa aja ada yang order padahal stoknya gak begitu baru. Itu Alhamdulillah mungkin rejeki anak. Sempat juga jualin produk teman.

Sekarang ini, Magic Mint Shop sudah jalan lagi 2 minggu menjual Mukena dewasa. Gak menampik hal itu terjadi karena kebutuhan. Tapi kreativitas saya tersulut kembali. Bekerja beberapa lama sebagai content creator bikin saya lebih mengolah kata-kata dalam caption foto. Baca-baca lagi cara menjual barang. Main-main grafis lagi. Bahkan saya menemukan scam baru-baru ini. Kalau ada waktu saya ceritain.

Kalau mau buka online shop sendiri, saran saya selalu atur strategi dari berbagai segmen. Memang benar hampir tiap hari harus posting untuk feed dan kuncinya adalah responsif dengan pembeli. Dalam membangun usaha sendiri, kegagalan itu udah pasti. Rugi juga udah ‘makanan’ para pengusaha. So jangan berkecil hati kalau gagal.

Kalau ada yang mau tanya-tanya boleh, saya bantu sebisanya. Doain ya saya online shop saya bisa laris. Stay happy, moms.

Ngomongin Hijrah dan #AyoHijrah Dari Bank Muamalat

Kayaknya kok nulis soal hijrah rasanya malu sendiri. Soalnya sampai sekarang saya nggak pernah berani memproklamirkan ‘sudah hijrah’, walau pakaian saya dan jilbab saya sudah lebih tertutup dan panjang. Yang saya tahu, saya sudah nggak nyaman lagi pakai baju yang pendek, memperlihatkan lekuk badan dan aurat.

Kalau ceritanya mau ditarik mundur, saya memang disekolahkan sekolah Islam sejak TK oleh orangtua. Namanya juga masih kecil, pelajaran tentu menempel di kepala tapi secara sadar benar-benar mau berjilbab itu di tahun 2013.

Waktu itu saya ada di titik dimana rasanya nggak punya tempat untuk ‘bersandar’. Rasanya ‘it’s me Vs the world’. Sampai saya merasa begitu sesak dengan dunia yang rasanya nggak nerima saya, saya ‘kabur’ ke masjid. Masjid satu-satunya tempat netral yang nggak melihat apa-apa kecuali keseriusan dalam beribadah. Dan saya merasa cuma tempat itu yang ‘nggak bikin hati saya panas’. Begitu pula dengan solat. Kalau nggak, mungkin saya sudah lebih stres dari yang saya rasakan. Alhamdulillah saya juga bertemu lingkungan yang ‘ngademin hati’ di masjid itu.

Alhamdulillah juga saya akhirnya bertemu dengan ‘imam’ saya, suami saya. Kami menikah setelah melewati ujian yang cukup berat, mendapatkan restu dan mengurus pernikahan semua sendiri. Paska menikah, sisi suami saya yang sangat Islami baru terlihat.

Setelah resign kerja, saya banyak menghabiskan waktu di rumah. Karena ringkas, saya suka pakai bergo panjang kalau keluar rumah sekedarnya. Lama-lama, jadi terbiasa dengan jilbab panjang. Aneh rasanya, kok di sekitar rumah pakai jilbab panjang tapi kalau mau pergi-pergi jilbabnya pendek.

Pengalaman hamil dan melahirkan bikin saya makin sadar betapa semua lancar karena izin Allah. Jelang melahirkan, saya terkena preeclampsia. Hal ini sempat bikin suasana ‘genting’. Sadar bahwa sewaktu-waktu, darah tinggi bisa membuat kondisi kejang-kejang dan nyawa saya dan calon bayi terancam.

Sebelum saya di operasi caesar, saya merasa sendiri diantara sekumpulan suster-suster dan dokter (diantaranya lelaki yang bikin saya jengah). Karena saya masuk ruang ICU yang nggak boleh banyak orang masuk, suami dan keluarga hanya dikasih waktu sedikit menjenguk. Hubungan saya dengan ibu juga tengah merenggang.

Pilihan saya cuma berserah diri, karena nggak ada pilihan lain. Akhirnya anakku lahir. Alhamdulillah, ia sehat. Seketika ia berhenti menangis didekatkan ke wajah saya. Masya Allah, berjuta rasanya melihat ‘makhluk’ ini. Alhamdulillah persalinannya berjalan lancar.

masjid dan si kecil

jadi ibu dan mengurus anak bikin makin mendekatkan diri ke Tuhan

Segala kekhawatiran saya sebagai calon ibu dan akhirnya jadi ibu seperti dimuluskan. Masa-masa dimana rasanya tanggung jawab sebagai ibu dan istri begitu banyak kadang buat saya kewalahan. Tapi ketika mengadu pada-Nya, bersyukur dan berserah diri rasanya jauh lebih tenang. Bisa melewati semua itu buat saya berpikir lagi-lagi bahwa semua atas izin-Nya.

Masa sih, dengan segala kemudahan dan rizki yang saya dapat, saya nggak menjalankan aturan-Nya?

Namun aktivitas memiliki anak dan mengurus rumah tanpa ART buat saya lupa belajar lagi soal agama. Lupa kalau meski sudah berjilbab sesuai yang diharuskan di Al-Qur’an bahwa harus tetap belajar agama. Salah satunya dalam mengurus keuangan.

Jujur, hidup di era kini banyak sekali jebakan ‘batman’ alias segala yang kita konsumsi meski semua melakukannya dan begitu mudah teknologi dan ketersediaannya, belum tentu baik dalam Islam. Karena banyak yang mengiming-imingi kita dalam membeli atau menggunakan jasa atas nama uang, tapi belum tentu bisa dipertanggungjawabkan. Untuk itu, penting memilih jasa seperti bank yang sesuai syar’i atau Islami.

Alhamdulillah waktu saya bersekolah di sekolah Islam hingga SMP, transaksi pembayarannya menggunakan Bank Muamalat dan tak pernah ada masalah.

Kini telah ada program #AyoHijrah yang baru di-launching Oktober 2018. Rasanya nggak salah kalau sebagai seseorang yang ingin dan sudah hijrah memilih bank yang sesuai dengan nilai-nilai islami. Ada berbagai program tabungan hijrah dan deposito giro hijrah. Wah, boleh juga ya.

Menjalankan hijrah tentu banyak tantangannya dan sebagai manusia tentu nggak sempurna. Maka dari itu penting untuk memilih lingkup yang juga sesuai syariah. Salah-salah, malah jadi nggak hijrah. Wah, semoga nggak ya..

Buat yang mikir mau hijrah dan sudah hijrah, semoga makin dimantapkan ya. Jangan lupa minta di-istiqomah-kan dan dikuatkan ke depannya. Aamiin…

Ceritakan Jenis Pakaian Yang Cukup Terikat Dengan Diri Kita

4077279e6290618c2d0659e3fdd6cf86

image: weheartit.com

Tell me about an article of clothing that you are deeply attached to

Di tantangan ke tiga 15 Day Writing Challenge ini, topiknya pakaian yang kita rasa sangat dekat dengan diri kita. Kalau 5 tahun lalu,mungkin saya akan jawab celana jins atau cardigan. Cardigan sangat penting buat saya dulu karena kantor saya dingin dan di jalan kalau cuaca mendung atau hujan, cardigan sangat membantu. Apalagi dia tidak seberat jaket bertudung kepala, jadi enteng dibawa. Cardigan juga fashionable sekali dan semakin unik saya semakin suka, cocok buat saya yang senang gaya preppy (oke stop, nanti saya kangennya nambah).

Tapi sejak tahun 2013, saya putuskan berhijab. Perjalanannya pernah saya ceritakan disini. Intinya, ada panggilan hati. Sekarang saya nggak bisa (dan harus) keluar rumah tanpa pakai hijab, walaupun cuma benerin jemuran atau cuma nyapu-nyapu lucu. Suami menjaga saya karena ia takut ada yang lihat, walau serambi rumah itu sebenarnya 99 persen nggak akan ada laki-laki yang nongol.

Kalau pas pertama pakai hijab, momennya adalah fashion hijab sedang naik. Jadi ada berbagai tipe dan gaya hijab beredar bikin saya selalu pengen belanja pashmina baru. Tapi seiring waktu, akhirnya saya pakai yang bikin nggak ribet. Apalagi setelah punya anak. Paling aman pakai bergo.

Memang ibu-ibu banget, tapi saya memang sudah ibu-ibu. Apalagi area main saya cuma sekitar rumah. Keren-keren kalau interaksi cuma situ-situ aja ya buat apa? Habis nikah, tampil cantik juga wajib cuma depan suami. Sekarang, saya punya tipe hijab instan bahan kaus yang masih gaya tapi nggak ribet. Ya sejujurnya, nggak mikirin ‘harus gaya’ itu mengurangi tambahan pikiran. Mungkin bisa disamakan dengan si Mark Zuckenberg yang pakai baju yang setipe tiap hari.

Cuma lebih mendasar lagi, kalau nggak pakai hijab atau kerudung saya merasa terekspos dan tidak nyaman. Lagipula, sejak pakai hijab, Alhamdulillah jadi otomatis jauh dari yang mau iseng sama kita di jalan. 

Happy Tuesday, moms. Kalau moms sendiri gimana?