Begini Adab Menuntut Ilmu, Walau Gratisan

Belajar, jadi sangat biasa sejak kecil hingga kuliah. Waktu sekolah dasar hingga menengah lanjutan, suka bosan dengan kelas yang itu-itu aja. Tapi saya suka dengan jurusan kuliah yang saya ambil, meski nilai-nilai saya nggak sempurna dan tugas-tugasnya menggunung.

Ketika saya bekerja hampir sedekade, menikah dan punya anak, saya lupa sejenak dengan menuntut ilmu atau belajar hal baru. Atau, hal baru yang saya pelajari ya mengurus anak saya. Tapi saya lupa rasanya untuk duduk diam, menerima transfer ilmu dari seorang yang lebih tahu, untuk topik yang saya ingin pelajari.

Akhir tahun lalu, saya mulai berjualan online lagi. Saya bertemu dengan seorang yang ‘mirip gula’ karena ‘selalu dikerubuti semut’. Alias, ilmunya banyak dan ia tidak pelit ilmu. Ia selalu bilang jangan berhenti belajar. Mungkin juga sih mentor saya ini juga affiliate kelas-kelas yang ia tawarkan, tapi dia nggak salah kalau bilang jangan berhenti belajar.

Saya jadi ikut banyak sekali kelas Whatsapp sejak itu, lebih banyak yang gratis. Walau gratisan, kelas-kelas itu mengajarkan saya sesuatu: saya nggak tahu apa-apa. Ilmu saya minim. Saya bersyukur sekali, kelas-kelas itu ada, walau saya berjuang untuk membaca ditengah kesibukan menjadi IRT.

Akhirnya, saya mulai ambil kelas diluar lingkup mentor saya. Rata-rata dari semua kelas yang saya ikuti, pesertanya selalu baik. Biasanya didominasi perempuan. Walaupun tidak, masih teratur dan terkontrol oleh moderator.

Baca Juga: “Aku kan Capek Urus Anak, Mana Sempat Ngurus Begitu” Alasan Emak Nggak Mengaktualisasi Diri

Kira-kira dua hari lalu saya dapat tawaran ikut kelas gratis via e-mail dari seorang influencer dan pengusaha muda. Saya masuk ‘perangkap’ dengan menaruh e-mail saya dalam mailing list-nya, karena saya nggak pernah sebelumnya ikut atau tertarik dengan influencer ini, walau sesekali nama dia ada dalam iklan di sosmed saya. Singkat kata, saya masuk dalam kelas Telegram gratisan.

Ternyata, kelas itu sudah diisi ratusan orang. Yang bikin saya pusing, pesertanya gemar memberikan spam di grup. Ya spam jualan, chat protes ‘kapan mulainya?’, yang parah ada chat dengan kata makian. Saya nge-chat protes minta yang lain untuk sopan. Tapi chat saya dan beberapa orang lain tertutup oleh ratusan spam lain.

Pusing, saya mute kelas itu. Begitu saya buka lagi, isinya sudah hampir 5.000 peserta. Angka yang luar biasa, tapi bikin saya bertanya-tanya bagaimana admin dan moderator mengaturnya. Atau, kenapa mereka tidak membagi peserta ke beberapa kelas jadi tidak kewalahan?

Akhirnya kelas itu di lock oleh admin sehingga tidak ada yang bisa kirim chat. Sampai sekarang, kelas itu masih dimasuki peserta-peserta baru hingga jumlahnya 7.000-an orang.

Jadi ingat, saya sudah beberapa kali buat kelas sharing. Muridnya memang segelintir, tapi saya senang banget dengan peserta yang mau belajar. Sejujurnya saya menikmati sih jadi pengajar. Cuma suka puyeng sama peserta yang nggak pada tempatnya. Sejauh ini sih nggak pernah parah-parah banget pesertanya. Saya ngerti sih kalau pesertanya ibu-ibu. Karena aktivitasnya banyak dan prioritasnya keluarga.

Baca Juga: Menemukan Aplikasi Canva, Jatuh Cinta Hingga Buat Kelas Sharing-nya

Adab Menuntut Ilmu

Sebuah kelas, gratis atau nggak, tetap saja sebuah ruang transfer ilmu. Mungkin karena kelas itu gratis, peserta lupa kalau pengajar juga meluangkan waktu dan energi untuk mengajar di kelas itu. Mengesampingkan seabrek hal lain.

Untuk itu, cobalah menghargai dan cobalah untuk aktif. Kelas ini hadir diantaranya demi menambah ilmu, buat muridnya. Jangan lupa, kamulah yang memutuskan untuk ikut kelas itu. Ujung-ujungnya, kalau nggak berpartisipasi ya kamu juga yang rugi.

Dilain pihak kalau malah kasih spam, itu juga kurang beradab. Kenapa? Karena bukan pada tempatnya. Buatlah lapak dan kelas sendiri, jika ingin menawarkan barang atau jasa. Hargai admin dan pembuat kelasnya. Meskipun gratis, bukan berarti peserta bisa bebas bertingkah. Bisa saja lho, peserta di-kick dari kelas karena berlaku tidak sopan.

So, buat pembaca yang sedang menuntut ilmu, belajar juga ada adabnya. Bagaimana kamu mau belajar ilmu baru, kalau adabmu kurang? Bagaimana mau maju, kalau belum bisa menghargai orang lain? Ketika kamu ikut kelas, serap ilmu sebanyak-banyaknya. Bukannya setengah-setengah atau punya motif jualan atau kepentingan pribadi lain.

Nggak kerasa, panjang juga ya tulisan ini 🤭 Semoga berguna dan membuka mata.

Pengalaman Jualan Dengan Akun Facebook Personal

Artikel ini mengandung konten promosi

Sudah sejak akhir Oktober 2019, aku mulai berjualan baju anak, setelah sebelumnya jual mukena mewah. Nah, disitu aku ‘kenalan’ dengan banyak orang yang juga sehari-harinya berdagang online. Banyak pribadi dan banyak karakter yang disitu aku ‘lihat’ dan ‘rasa’ sampai terkagum, salah satunya kegigihan seorang ibu yang juga mencari nafkah demi keluarga.

Serunya, aku juga bisa ikut kelas-kelas Whatsapp gratis tentang jualan dan mindset. Aku belum berani invest untuk kelas berbayar. Alhamdulillah, suatu saat ada kesempatan dimana aku bisa ‘bayar’ dengan cara lain, yaitu dengan mendesain flyer kelas Facebook Rame Anti-Sepi (FRAS). Desain aku terpilih, dan aku bisa ikut kelas itu free tanpa charge.

It’s the first time aku attend kelas berbayar. Tentu saja rasanya berbeda. Yang ikut kelasnya lebih determined, lebih berpengalaman berjualan online, lebih expert dibanding mereka yang ikut kelas yang free. Beda lho, jika kamu udah invest dan bayar untuk sesuatu, kamu pasti lebih ‘terpecut’ dan lebih ‘melek’. Iyalah, karena kamu udah keluar duit. Tentu saja, buat aku yang bisa masuk kelas tanpa charge, nggak mau juga aku kurang melek. Ini namanya rejeki. Gak dipraktekkan, jatohnya buang rejeki.

Kenapa memilih jualan dengan akun Facebook personal? Soalnya, Facebook aku juga udah garing, ga banyak interaksi dengan orang-orang yang jadi temanku disitu. Jadi ya sekalian ajalah, daripada nganggur akunnya.

Kalau profesional mah, buat khusus ya akun toko online dengan Facebook page atau instagram. Tapi jujur deh, pasti butuh waktu dan dana untuk mendapatkan follower. Yang ngga punya dana, bisa sih bangun pelan-pelan, tapi akan lambat jalannya. Buat emak-emak yang ga mau ribet, jual dengan FB personal itu udah paling oke.

Jualan di FB personal pasti udah pernah lihat deh ya dari mungkin akun temen atau akun orang. Seringnya modelnya plek, pajang foto-foto dagangan. Kadang tanpa penjelasan, atau cuma taruh nama produk dan harga. Menurut kelas FRAS, ini nggak efektif. Orang ngga suka diliatin lapak mendadak gitu, bisa-bisa kita di block kalo keseringan.

Apa tips yang aku dapat dari dari kelas itu? Pertama, agar ‘bersih-bersih’ akun teman yang udah gak aktif dan sudah meninggal. Algoritma Facebook itu cuma kasih lihat postingan kita ke 10 persen teman kita, itupun kalau kita suka interaksi dengan mereka. Terdengar sedikit kejam awalnya. Tapi setelah aku praktekkan, ternyata lumayan banyak aku ‘sapu-sapu’ akun facebook yang gak aktif. Banyak yang temannya teman, akun dagang teman yang ga aktif, yang sudah meninggal dan mereka yang sudah setahunan lebih gak update lagi. Habis aku bebersih akun-akun itu, tiba-tiba di timeline aku muncul akun-akun teman-teman yang sebelumnya nggak pernah kelihatan. Wah, ngaruh juga ya.

Kedua, add akun target market anda. Karena aku jual baju anak, jadi aku add akun ibu-ibu yang udah punya anak. Gak cuma add, kita juga harus jalin kedekatan dengan mereka. Istilahnya, bagaimana seseorang mau beli produk dari kita kalau nggak kenal? Yah, kenalan dulu.

Alhamdulillah, hingga kini aku malah senang melihat akun-akun baru yang akrab di timeline. Kadang nemu yang kesukaannya sama, ada juga yang akunnya suka bercanda. Ya, kaya ada teman baru aja gitu. Banyak juga yang jualan di Facebook. Aku lihat juga yang juga ngerti ‘aturan’ jualan di FB yang benar. Aku tiap hari jadi terbiasa dan nagih lihat mereka di timeline tiap hari. Mereka juga ramah dan seru, ya sama-sama ngerti kalau jualan di FB.

Ketiga, jangan posting jualan melulu. Nggak ada yang suka dibombardir iklan terus. Yang ada mesti di-unfriend atau unfollow. Ibaratnya kayak lagi nonton TV, masa nonton iklannya terus 😦

Keempat, kalau berjualan produk nggak usah dengan menawarkan. Loh, kaya gimana ya? Jadi, kita nggak bilang, “Beli produk ini ya” atau “Order ya” Gunakan teknik covert selling, yang berarti berjualan secara halus. Nah, yang ini tuh mesti praktek langsung. Di kelas FRAS, kita dikasih tugas jualan teknik ini dan diberi bimbingan. Seru, deh. Karena aku memang suka copywriting.

Dalam prakteknya, aku masih dalam tahap penyempurnaan jualan dengan optimal karena jumlah pertemanan FB aku yang belum ribuan. Cuma, akun Facebook aku nggak garing lagi. Banyak yang likes, banyak yang respon postingan aku. Alhamdulillah, ada silaturahmi yang terjalin kembali baik dari berdagang ataupun nggak. Orderan? Yes, udah ada dong. Aku bahkan dapat reseller aku juga dari pertemanan FB ini.

Mau ikutan kelas FRAS ini? You’re in luck karena akan ada kelasnya tanggal 24 Februari 2020 ini. Book your seat! Kelas ini nggak cuma buat yang dagang produk, tapi juga personal branding dan jasa.

Update: kelas FRAS selanjutnya tanggal 9 Maret 2020

Flyer Kelas Facebook Rame Anti Sepi
yang aku desain

Mau infonya atau mau ikutan bisa klik link ini langsung https://wa.me/6285155090148

Kalau ibu-ibu sendiri, punya pengalaman jualan di Facebook atau sosmed nggak? Share yah komentar atau opininya.