“Aku Kan Capek Urus Anak, Mana Sempat Ngurus Begitu” Alasan Emak Nggak Mengaktualisasi Diri

Apakah ada yang pernah berucap atau dengar kalimat itu? Jadi Ibu punya segudang tanggung jawab dan kalau tidak ditunaikan, yang kena jangka panjangnya, anak, titipan Tuhan kepada kita. Karena begitu banyaknya tanggung jawab ini, aktivitas Ibu pun padat. Seringnya, Ibu suka kecapekan dan nyaris tak punya waktu selain mengurus rumah dan keluarga.

Sudah beberapa waktu ini diriku mulai menggeluti jual barang online lagi, ternyata diriku ini punya beberapa step backs alias kemunduran. Hal ini perlahan nggak disadari karena kesibukan hari-hari lantas memantaskan diri karena ‘udah capek ngurus anak’. Bener, jadi ibu banyak bejibun tanggung jawabnya tapi insya Allah berpahala berlimpah. Tapi bukan berarti nggak bisa sama sekali melakukan apa-apa.

Ini beberapa keminusan aku selama ini yang baru disadari:

1. Berhenti belajar

I read a lot of things almost daily, mencari konten sebagai pembuat konten di sosmed. Namun belajar hal baru? Ternyata udah lama banget. Did you forget that human itu nggak pernah puas? Sibuk melakukan rutinitas hari-hari, lupa kalau sekarang bisa hanya melalui ponsel untuk belajar hal baru. Begitu diriku mencoba cari tahu for the sake of my little shop, ternyata baru sadar banyak banget yang berubah dalam beberapa tahun.

Kalau nggak tergerak untuk baca-baca bagaimana agar bisa sukses jalanin online shop, mata bakal terus tertutup. Bisa-bisa segala usaha yang kita lakuin dengan waktu minim kita karena punya tanggung jawab ibu, sia-sia.

2. Memiskinkan diri dengan pikiran ‘sudah terlalu capek urus anak’

Nggak bund, gak ada yang nyalahin seabreknya tanggung jawab ibu. Tentu saja anak harus dipikirkan kebutuhan dasarnya seperti makanan, baju, belajar dan segalanya. Tapi pastinya ibu punya ketertarikan dan minat satu bidang, kan? Hmmm, kenapa nggak diberi makan otaknya biar makin keren wawasannya.

5-10 menit setiap hari, selagi anak tidur, selagi anak sekolah atau kapan ketika lowong. Ternyata itu menyegarkan otak banget. Tapi tentu saja, prioritas tetap anak dan suami.

Kelas-kelas belajar pun available dalam banyak media, bahkan menjangkau Whatsapp. Tinggal cari dan pilih yang ibu mau.

3. Ada hak anak dan suami

Oke, jadi ibu udah punya minat dan bidang yang ingin dicemplungi. Tapi nyuekin kebutuhan anak, suami, menelantarkan rumah? Nggak berkah kesibukan barunya.

Memang asyik ya, kita punya hal baru yang kita suka dan impikan akhirnya berjalan. Tapi kalau kita habiskan waktu dengan kesibukan kita hingga telantarkan keluarga, jadi kecapean dan jadi marah-marah sama anak, nggak berfaedah deh itu bidang baru yang ibu suka. Malah nggak dikasih lagi nikmatnya aktivitas baru Ibu sama Yang Di Atas. Jadi kalau hak anak dan suami tetap dikasih, baru deh manfaatnya lebih kerasa.

Aku jalanin online shop aku juga kerasa begitu. Ketika nggak terlalu mikirin dagangan dan fokus ngurus anak dan rumah, ternyata malah dapat order.

4. Rezeki Bukan Diatur Dari Usaha Aja, Tapi Dari Yang Maha Kuasa

Biar segala hal kita kerahkan buat nambah penghasilan, menambah waktu kerja, nggak tidur-tidur misalnya atau bayar ahli untuk menjalankan bisnis, tetap aja yang menentukan yang Di Atas. Tetap aja yang punya kendali itu Tuhan.

Tentu nggak gampang ketika we’ve got bills to pay untuk nggak memikirkan bagaimana besok. Tapi kalau kita udah usaha dan beribadah, yakin aja ya semua akan kejadian (ini sebenarnya topik bercabang lain). Intinya ingat yang punya kendali itu Allah.

5. Tidak Meluruskan Niat

Niat berjualan untuk apa? Kalau mau cari untung aja nggak cukup. Luruskan niat kalau berjualan itu demi keluarga, buat pendapatan yang dipakai bersama. Takutnya kalau kita dikemudikan niat untuk cari untung saja, arahnya akan negatif.

Itu aja sih, sharing tentang hal-hal yang nggak seharusnya aku lakuin. Mudah-mudahan ibu-ibu nggak niru ya 😀 Main-main juga ya ke toko online aku, siapa tahu ada yang cucok di hati (haha iya tetep aja promotion ujungnya).

Semoga bermanfaat and stay happy ya moms

Ngomongin Pengalaman Suka Duka Buka Online Shop Sendiri Paska Resign Kantoran

Bismilllah, mau cerita soal pengalaman aku habis resign menuju ke buka online shop sendiri kira-kira akhir tahun 2014 dan 2015.

Sebenarnya nggak lama running online shop-nya sebelum mandeg karena kesalahan management, tapi I don’t regret it at all. Mungkin bisa jadi pelajaran buat yang mampir baca ke sini ya..

Proses menuju keputusan resign sendiri butuh waktu sebelum akhirnya mengiyakan, karena rasanya dunia (alah, lebaynya) atau tepatnya Allah sudah nggak mau aku disitu lagi. Bahkan sebelum resign sempat mau mutasi ke bagian lain, tapi menurut head-nya aku punya banyak kreativitas sehingga kurang cocok ada di bagian itu.

Lalu saya resign. Segala kelegaan dalam diri mengalir, karena kalau boleh jujur saya itu terjebak dalam zona nyaman: pekerjaan tetap, asuransi, prestige pekerjaan. Namun semua itu bohong, karena saya udah nggak hepi lagi jalanin itu semua. Mirip kaya operator lebih tepatnya dan ibarat mesin. Masuk kerja, pulang, begitu aja tiap hari tanpa ada jiwa kalau diistilahkan. Soalnya saya ini punya bibit nyeni, harus ada yang stimulus kreativitas saya. Lingkup dan bidang kerja saya semua sudah terbaca dan terasa monoton. Saya juga udah gak nyambung dengan lingkungan kerja.

Saya masih aktif ngeblog soal film, dan kebenaran ada project dengan bayaran lumayan di waktu yang nyaris bersamaan. Jadi makin pede lah mau resign. Memang sih, ada suami yang bilang tugas cari nafkah ada di dia. Tapi idealisme itu masih ada. Ide running your own shop rasanya seru sekali.

Waktu itu yang tercetus mau produksi bros sendiri untuk hijaber. Saya terkesima lihat berbagai referensi di Pinterest. Mungkin kalau lihat itu lagi jadi kepengen bikin lagi. Tapi, sayangnya pasaran di Indonesia kurang tertarik dengan produk saya. Seorang teman bilang ia miris lihat bros dijual murah kebangetan di pasar atau grosir. Sebenarnya ini bukan pertama kali saya kepentok mental orang kita yang memurahkan pekerjaan kreatif. Dulu saya bahkan sudah mendengar itu dari dosen yang bilang orang di negara lain lebih bisa menghargai kreativitas.

feed jualan bros di @magicmintshop

Yah, akhirnya saya beralih ke jualan produk jilbab. Berhubung sayapun baru kurang lebih setahun memakai jilbab dan sedang semangat-semangatnya mikirin OOTD atau pakai jilbab yang motifnya kekinian. Nah, ketika menjual jilbab ini lumayan banyak pembelinya walau saya belum supply banyak. Seakan mendukung usaha, di dekat rumah satu jasa kurir terkenal buka cabang. Bahkan karyawannya super ramah, tawarkan jasa lewat whatsapp dan membolehkan paket diambil kurir tanpa minimal order. Memudahkan saya yang juga ngurus rumah ini.

Namun saya agak terhambat mencari supplier bagus dengan harga yang reasonable. Ada kesalahan pula dalam me-manage pengeluaran.

Untuk mengakali ini saya beralih jadi reseller. Di saat yang sama saya hamil, juga mengambil pekerjaan sebagai freelancer, jadi cukup kewalahan. Waktu anak lahir, saya sempatkan waktu sebagai reseller. Wah, saya berterima kasih banget hidup di jaman internet ini. Masih bisa kerja sambil menyusui di tempat tidur. Beberapa stok jilbab tersisa dijual secara offline oleh kerabat.

Namun karena gak banyak penjualan, saya stop menjalankan Magic Mint Shop. Namanya dipilih karena saya suka warna toska dan mint (magic mint itu nama warna). Saya fokus ngurus anak bayi baru lahir dan kerja freelancer. Lucunya kala itu, sewaktu-waktu bisa aja ada yang order padahal stoknya gak begitu baru. Itu Alhamdulillah mungkin rejeki anak. Sempat juga jualin produk teman.

Sekarang ini, Magic Mint Shop sudah jalan lagi 2 minggu menjual Mukena dewasa. Gak menampik hal itu terjadi karena kebutuhan. Tapi kreativitas saya tersulut kembali. Bekerja beberapa lama sebagai content creator bikin saya lebih mengolah kata-kata dalam caption foto. Baca-baca lagi cara menjual barang. Main-main grafis lagi. Bahkan saya menemukan scam baru-baru ini. Kalau ada waktu saya ceritain.

Kalau mau buka online shop sendiri, saran saya selalu atur strategi dari berbagai segmen. Memang benar hampir tiap hari harus posting untuk feed dan kuncinya adalah responsif dengan pembeli. Dalam membangun usaha sendiri, kegagalan itu udah pasti. Rugi juga udah ‘makanan’ para pengusaha. So jangan berkecil hati kalau gagal.

Kalau ada yang mau tanya-tanya boleh, saya bantu sebisanya. Doain ya saya online shop saya bisa laris. Stay happy, moms.

Ceritakan Jenis Pakaian Yang Cukup Terikat Dengan Diri Kita

4077279e6290618c2d0659e3fdd6cf86

image: weheartit.com

Tell me about an article of clothing that you are deeply attached to

Di tantangan ke tiga 15 Day Writing Challenge ini, topiknya pakaian yang kita rasa sangat dekat dengan diri kita. Kalau 5 tahun lalu,mungkin saya akan jawab celana jins atau cardigan. Cardigan sangat penting buat saya dulu karena kantor saya dingin dan di jalan kalau cuaca mendung atau hujan, cardigan sangat membantu. Apalagi dia tidak seberat jaket bertudung kepala, jadi enteng dibawa. Cardigan juga fashionable sekali dan semakin unik saya semakin suka, cocok buat saya yang senang gaya preppy (oke stop, nanti saya kangennya nambah).

Tapi sejak tahun 2013, saya putuskan berhijab. Perjalanannya pernah saya ceritakan disini. Intinya, ada panggilan hati. Sekarang saya nggak bisa (dan harus) keluar rumah tanpa pakai hijab, walaupun cuma benerin jemuran atau cuma nyapu-nyapu lucu. Suami menjaga saya karena ia takut ada yang lihat, walau serambi rumah itu sebenarnya 99 persen nggak akan ada laki-laki yang nongol.

Kalau pas pertama pakai hijab, momennya adalah fashion hijab sedang naik. Jadi ada berbagai tipe dan gaya hijab beredar bikin saya selalu pengen belanja pashmina baru. Tapi seiring waktu, akhirnya saya pakai yang bikin nggak ribet. Apalagi setelah punya anak. Paling aman pakai bergo.

Memang ibu-ibu banget, tapi saya memang sudah ibu-ibu. Apalagi area main saya cuma sekitar rumah. Keren-keren kalau interaksi cuma situ-situ aja ya buat apa? Habis nikah, tampil cantik juga wajib cuma depan suami. Sekarang, saya punya tipe hijab instan bahan kaus yang masih gaya tapi nggak ribet. Ya sejujurnya, nggak mikirin ‘harus gaya’ itu mengurangi tambahan pikiran. Mungkin bisa disamakan dengan si Mark Zuckenberg yang pakai baju yang setipe tiap hari.

Cuma lebih mendasar lagi, kalau nggak pakai hijab atau kerudung saya merasa terekspos dan tidak nyaman. Lagipula, sejak pakai hijab, Alhamdulillah jadi otomatis jauh dari yang mau iseng sama kita di jalan. 

Happy Tuesday, moms. Kalau moms sendiri gimana?