Catatan Buat Ibu Yang Kecapekan

“She tried so hard to make everyone happy, that she forgets her own.”

Hai ibu, kalau baca tulisan di atas, sangat mungkin terjadi dalam keseharian ibu. Banyaknya to-do-list hari-hari dalam mengurus rumah dan keluarga, sampai ibu bisa lupa mengurus diri. Apalagi kalau nggak ada asisten rumah tangga.

Sementara melakukan semuanya tidak mungkin, karena namanya manusia punya keterbatasan. Tapi kalau tidak dilakukan, akan menumpuk atau berpengaruh ke yang lainnya. Belum omongan negatif manusia yang menilai sebelah mata.

Ibu, kenapa harus melakukan semuanya? You can do a lot of things, but not everything. Melakukan setitik hal untuk dirimu, atau meluangkan waktu membahagiakan dirimu, juga sebenarnya berpengaruh dalam membuat keluarga lebih bahagia. A happy mom means a happy family.

Biarkan saja setrikaan menumpuk, cucian piring yang banyak dan rumah yang berantakan. If it means a happier you. Tell your inner self yang konstan mengkritik, get a life. I need my own time. Orang yang mengerti banyaknya tanggung jawab ibu akan mengerti dan tidak menghakimi.

Kadang kala saya butuh mendengar hal-hal di atas. Tuntutan pekerjaan rumah sehari-hari bikin saya mengesampingkan kebahagiaan saya. Bahkan saya jadi gak mau ngeblog. Kadang karena sudah kelelahan.

Baru-baru ini saya menderita gatal yang membuat saya harus menjauh dari kegiatan cuci-mencuci. You know kan kalo jadi ibu, identik dengan cleaning-cleaning alias bersih-bersih. Apakah itu cucian piring, mandiin anak dan banyak lagi. Akhirnya saya harus pintar-pintar memanage bebersih agar nggak berlebihan membasahi tangan. Mungkin kejadian ini untuk ingatkan saya untuk istirahat dan tidak terburu-buru melakukan pekerjaan rumah.

Cucian piring akan selalu ada, laundry kotor juga. Tapi melakukan semua dengan setengah hati nggak akan bikin makin hepi. Apalagi kalau di Islam, malah dosa. Paling nggak ingat lagi, kenapa melakukan pekerjaan rumah. Ucap basmalah. Ingat rumah berantakan berarti pahalanya melimpah, aamiin.

Belajar Pelan-Pelan Jadi Ibu

Moms, jadi ibu itu bisa jadi menakutkan. Iya, tanggung jawabnya besar sekali. Kalau anak bandel, yang disalahin Ibu.  Kalau anak nggak keurus, ibu juga disalahin. Dulu sempat takut punya anak, karena saya takut nggak sabaran dan akhirnya ‘menghukum’ si anak yang nggak ngerti apa-apa. Terus nanti saya jadi ibu nggak becus dan anaknya nggak sabar keluar dari rumah saya. Apalagi beban dosa Ibu yang kasar sama anak itu…wah.

Tapi saya percaya apa yang diberikan Allah itu berarti saya mampu. Makanya waktu saya baru tahu hamil, saya sempat agak panik dan bingung. Saya harus gimana? Hati-hatiii sekali saya makan apapun. Mau ngapa-ngapain hati-hatii banget. Plus juga saya gampang mual dan capek juga sih. 

Pelan-pelan saya baca-baca semua yang berhubungan dengan kehamilan. Saya hindari makanan yang dipantang, dan saya makan yang bisa dimakan (ya apalagi trimester ketiga, laper terus). Lama-lama saya bisa meraba-raba yang baik untuk saya dan janin, selain juga konsultasi dengan dokter dan bidan.

Tapi tentunya, saya nggak mungkin lewati masa-masa kehamilan hingga melahirkan tanpa keyakinan. Iya, yakin kalau semua akan baik kalau niat kita baik. Yakin kalau saya akan dikelilingi support yang saya butuhkan. Yakin saya dan bayi saya sehat. Kenapa? Karena saya nggak mampu mikir sebaliknya. Kalau saya kebanyakan khawatir, bakal bikin saya stress sendiri dan bisa mempengaruhi si bayi juga. Plus, cemas akan apa-apa yang belum terjadi sebenarnya termasuk bentuk tidak percaya dengan-Nya.

Alhamdulillah, Samuel lahir. Semua akhirnya baik-baik saja, setelah lewat beberapa drama dan preeclampsia.

Nah, sekarang telah masuk babak menjadi ibu…itu adalah babak yang cukup ‘tebal’ dan bisa habiskan hampir sisa hidup kita. 

Kekhawatiran jadi ibu tak becus itu tetap ada. Saya bersyukur bayi itu belum bisa menghakimi, karena sejujurnya saya ini otodidak. Belum penilaian orang yang gampangnya menghakimi. 

Ada-lah, hari-hari dimana saya pengen ‘meledak’ atau down. Merasa tidak cukup sebagai ibu. Biasanya yang ngobatin saya cuma berdoa, Samuel yang maunya nempel sayang dengan saya dan nasihat suami.

Tapi pada akhirnya saya juga yang harus maafin diri sendiri. Ya maklum, saya first-time mom. Babak saya baru dimulai sebagai ibu. Tentunya tak ada kesuksesan yang diraih dalam sekejap. Semua terus belajar dan yang penting tidak berpuas diri. Yang penting setelah merasa down, bangkit lagi dan berusaha lagi. 

Apa Ada Yang Namanya Super Mom

Image: pinterest

Apa ada yang namanya Super Mom?

Cucian beres, masak makanan 4 sehat 5 sempurna, setrika baju sendiri, rumah rapih dan spotless tanpa debu, tapi penampilannya masih kelihatan seperti keluar dari salon. Dan, masih perlakukan anak penuh cinta. Tanpa ART.

Kalau seperti ini, saya jadi kebayang Stepford Wives, yaitu istri-istri yang pesolek tapi mengerjakan semua pekerjaan rumah dan bisa memanjakan suami. Tentu saja kalau di film, Stepford Wives ternyata bukan benar-benar ‘istri’. Menurut saya sih, film itu mengolok-olok pekerjaan ibu rumah tangga. 

Tapi ada nggak ya, seorang Super Mom?

Kalau saya, ada hari-hari dimana saya merasa seperti Super Mom. Dari bangun tidur mood-nya baik, pekerjaan rumah rampung dan bisa masak makanan untuk suami dan anak. Rumah juga nggak berantakan. Tapi ada hari-hari dimana saya merasa berantakan. Rumah ikut jadi kerasa kacau. Anak rewel. Dan, adaaa aja yang bikin mau ‘meledak’.

Kadang kala kita sudah pikirkan sedetil-detilnya manajemen rumah dan merawat anak, tapi ada aja yang tak terduga. Namanya anak, namanya hidup. Ini bukan game manajemen waktu macam Diner Dash yang punya peringatan intrik game sebelum kita main. Juga, tak ada limit waktu, habis itu bebas ngapain aja.

Iya, pekerjaan istri dan Ibu terutama itu berjalan 24 jam. Kalau seorang Mom bisa menaklukkan prioritasnya, Super Mom bisa menaklukkan kesempurnaan dalam tanggung jawabnya. Plus masih cantik aja. Dan pluuus, masih kalem tanpa emosi.

Ah, masa sih ada? Mungkin cuma dalam film. Atau si Super Mom punya beberapa asisten rumah tangga. Atau, dia minum obat penenang?

Kalau saya, nggak pernah mikir muluk jadi Super Mom. Jadi perfeksionis pernah, tapi akhirnya malah menyiksa diri sendiri kalau target tak tercapai. Cukuplah, jadi seorang Mom.

Yang penting anak terurus sehat, suami juga baik-baik aja, rumah nggak berantakan seperti kapal pecah. Sesuai juga dengan agama saya apa-apa yang saya lakukan. Tidak usah ribet pikirkan omongan orang kalau ‘ininya ngga diurus’ atau ‘itunya kok amburadul banget’. Saya bukan istri politisi yang harus sempurna. Saya manusia. 

Lagipula, kesempurnaan bukan milik manusia. Tapi Tuhan. Yang penting, kita sudah melakukan yang terbaik. Yang penting, prioritas terpenuhi. Yang penting seimbang. Tidak ada yang berat sebelah.

Ya, begitu. Menurut ibu-ibu…?

Tips Jadi Ibu (First-Time Mom) Untuk Awam

Wah, sudah cukup lama saya nggak update di blog ini ya. Jujur, sempet sedikit ngga pede menulis di blog khusus tentang bayi dan ibu, karena saya adalah first-time mom. Juga cukup awam soal bayi.

Sekarang Samuel sudah 9 bulan. Dan, cukup beri saya banyak pengalaman menjadi Ibu. Dia juga sudah mulai makan mpasi. 

Ngomong soal jadi Ibu, ada infographic bagus untuk tips jadi first-time mom atau ibu pertama kali (sumber: Pinterest)

Intinya tak usah terlalu stres dan dinikmati saja ya, moms. Yang penting peduli, sayang anak dan mau belajar. Kepiawaian dan naluri akan menguat seiring dengan waktu (InshAllah). 

Tak usah berlebihan juga menyiapkan perlengkapan bayi, karena belum tentu sesuai dengan anaknya dan juga kemungkinan dipakai hanya sebentar. Be smart on your spending.

Mau semua berikan nasihat ke kita, tetap pilihan ada di kita sendiri. Khususnya, kita (diharapkan) paling tahu kebutuhan anak kita sendiri.

That’s all for now. Have a fab weekend!