Ngomongin Pengalaman Di-Mom-Shaming

mom-shaming.jpg

Ibu-ibu, selamat hari internasional wanita ya 🙂 Here’s to all women, especially mothers. Paas banget lagi kepingin ngomongin Mom-Shaming.

Apa itu Mom-Shaming? Menurut artikel di Tempo ini, Mom-Shaming adalah sebuah perilaku mempermalukan ibu-ibu lain dengan cara menampilkan diri sebagai ibu yang lebih baik, lebih hebat, kalau tidak mau disebut sempurna. Sound familiar nggak tuh?

Kalau menurut saya sih, Mom-Shaming adalah salah satu bentuk nyinyir dengan label atau level Ibu. Dan seperti efek nyinyir pada umumnya, ya, negatif. Jadi bikin kita merasa nggak baik, dalam kasus ini sebagai ibu. Padahal, image ibu (yang ini juga nggak real tapi sering menghantui ibu-ibu) haruslah sempurna dan yang paling the best dalam ngurus anak dan keluarga. Seenggaknya, kita beri yang terbaik untuk keluarga kita. Terus, di-Mom-Shaming lagi, itu rasanya… aduh…

Kalau saya sih pernah ngerasain di-Mom-Shaming. Untungnya nggak sering-sering, karena efeknya nggak enak. Waktu itu Samuel usianya baru beberapa bulan. Seorang kerabat mengkritik cara saya menggendong Samuel. Ia dengan detil mengatur posisi tangan saya. Ia juga menyuruh saya memposisikan Samuel digendong dengan posisi tiduran.

Maklum deh, sebagai anak bungsu, saya tuh hampir nggak pernah pegang bayi kecuali beberapa menit aja, sebelum punya anak sendiri. Saya selalu menggendong Samuel dengan posisi berdiri, karena inilah senyaman-nyamannya saya menggendongnya. Lagipula, saya ngerasa si bayi nggak betah ditidurin dalam gendongan tangan saya.

It made me feel ashamed dikritik hal se-basic itu, apalagi didengar beberapa orang lain. Hmm, apa harusnya saya kursus gendong anak dulu pas hamil ya?? Kala itu sudah ribet dengan persiapan kelahiran dan lebih-lebih pas tahu saya preeclampsia.

Sambil nahan malu, saya perbaiki cara gendong Samuel. Namun ketika saya posisikan Samuel ke tidur dalam gendongan saya, ia malah rewel. Maunya diberdirikan 😅🤣 Nah bener kan. It proves a bit kalo tetep aja yang paling ngertiin bayi si Ibu sendiri, walo Ibunya masih cupu ngurus bayi :”)

Mengutip lagi artikel tadi:

“Para ibu menyerang satu sama lain karena ada sesuatu yang hancur di dalam diri mereka sendiri,” analisis Stephanie Barnhart, pendiri Socialminded Media Group dan editor Mommy Nearest, New York, AS. Sesuatu yang hancur di antara pikiran tentang cucian menggunung, belanja bahan makanan, mainan pasir anak atau baju murah, dan rumah yang berantakan. “Sungguh berat tugas seorang ibu. Jadi mengapa kita begitu kejam satu sama lain?”

Stephanie Barnhart mengungkapkan beberapa faktor yang membuat seorang ibu menjadi pelaku mom-shaming, antara lain merasa bosan, marah, cemburu, repot, terlalu letih, kehilangan jati diri, dan haus pengakuan.

Bosan karena melakukan aktivitas yang sama setiap hari, marah karena tidak bisa marah pada anak yang sekali waktu menyebalkan, cemburu pada ibu lain yang masih sempat mengurus kecantikan, repot karena terlalu ingin menjadi ibu yang sempurna, terlalu letih karena alasan yang tidak perlu disebutkan lagi, kehilangan jati diri karena tidak bisa lagi bersikap seperti lajang, dan haus pengakuan karena hanya ingin sedikit merasa bangga (bahagia).

Yah seperti yang sudah diduga sih, apapun lontaran negatif dari mulut orang, asalnya dari batinnya sendiri yang kurang hepi. Saya sendiri berusaha menelan momen itu dan move on, tapi selalu ingat bagaimana Samuel lebih memilih posisi gendong berdiri. Suami saya juga selalu bilang ngga usah pikirin lah omongan orang, yang tahu gimananya kan cuma kamu aja.

Kritik kalau memang buat kita jadi lebih baik gapapa. Tapi kalau sehari-hari kerjaan rumah seabrek, ngurus anak udah nguras tenaga, belum hal-hal lain yang nggak boleh dilupain buat dikerjakan, terus apa dengan Mom-Shaming bisa bikin batin lebih bahagia? Yang ada bikin hubungan merenggang dan rasa puas yang nggak real. Apa nggak sebaiknya kita para ibu-ibu dan emak-emak yang lelah ini saling dukung aja ya? Lagipula, versi kita urus anak belum tentu bisa cocok dengan anak lain.

Let’s just support each other, bikin mood satu dan lainnya lebih cerah. Karena tanpa di mom-shaming aja, hari udah rempong ngurus anak dan hal-hal lain. Ya, nggak?

Belajar Pelan-Pelan Jadi Ibu

Moms, jadi ibu itu bisa jadi menakutkan. Iya, tanggung jawabnya besar sekali. Kalau anak bandel, yang disalahin Ibu.  Kalau anak nggak keurus, ibu juga disalahin. Dulu sempat takut punya anak, karena saya takut nggak sabaran dan akhirnya ‘menghukum’ si anak yang nggak ngerti apa-apa. Terus nanti saya jadi ibu nggak becus dan anaknya nggak sabar keluar dari rumah saya. Apalagi beban dosa Ibu yang kasar sama anak itu…wah.

Tapi saya percaya apa yang diberikan Allah itu berarti saya mampu. Makanya waktu saya baru tahu hamil, saya sempat agak panik dan bingung. Saya harus gimana? Hati-hatiii sekali saya makan apapun. Mau ngapa-ngapain hati-hatii banget. Plus juga saya gampang mual dan capek juga sih. 

Pelan-pelan saya baca-baca semua yang berhubungan dengan kehamilan. Saya hindari makanan yang dipantang, dan saya makan yang bisa dimakan (ya apalagi trimester ketiga, laper terus). Lama-lama saya bisa meraba-raba yang baik untuk saya dan janin, selain juga konsultasi dengan dokter dan bidan.

Tapi tentunya, saya nggak mungkin lewati masa-masa kehamilan hingga melahirkan tanpa keyakinan. Iya, yakin kalau semua akan baik kalau niat kita baik. Yakin kalau saya akan dikelilingi support yang saya butuhkan. Yakin saya dan bayi saya sehat. Kenapa? Karena saya nggak mampu mikir sebaliknya. Kalau saya kebanyakan khawatir, bakal bikin saya stress sendiri dan bisa mempengaruhi si bayi juga. Plus, cemas akan apa-apa yang belum terjadi sebenarnya termasuk bentuk tidak percaya dengan-Nya.

Alhamdulillah, Samuel lahir. Semua akhirnya baik-baik saja, setelah lewat beberapa drama dan preeclampsia.

Nah, sekarang telah masuk babak menjadi ibu…itu adalah babak yang cukup ‘tebal’ dan bisa habiskan hampir sisa hidup kita. 

Kekhawatiran jadi ibu tak becus itu tetap ada. Saya bersyukur bayi itu belum bisa menghakimi, karena sejujurnya saya ini otodidak. Belum penilaian orang yang gampangnya menghakimi. 

Ada-lah, hari-hari dimana saya pengen ‘meledak’ atau down. Merasa tidak cukup sebagai ibu. Biasanya yang ngobatin saya cuma berdoa, Samuel yang maunya nempel sayang dengan saya dan nasihat suami.

Tapi pada akhirnya saya juga yang harus maafin diri sendiri. Ya maklum, saya first-time mom. Babak saya baru dimulai sebagai ibu. Tentunya tak ada kesuksesan yang diraih dalam sekejap. Semua terus belajar dan yang penting tidak berpuas diri. Yang penting setelah merasa down, bangkit lagi dan berusaha lagi. 

Apa Ada Yang Namanya Super Mom

Image: pinterest

Apa ada yang namanya Super Mom?

Cucian beres, masak makanan 4 sehat 5 sempurna, setrika baju sendiri, rumah rapih dan spotless tanpa debu, tapi penampilannya masih kelihatan seperti keluar dari salon. Dan, masih perlakukan anak penuh cinta. Tanpa ART.

Kalau seperti ini, saya jadi kebayang Stepford Wives, yaitu istri-istri yang pesolek tapi mengerjakan semua pekerjaan rumah dan bisa memanjakan suami. Tentu saja kalau di film, Stepford Wives ternyata bukan benar-benar ‘istri’. Menurut saya sih, film itu mengolok-olok pekerjaan ibu rumah tangga. 

Tapi ada nggak ya, seorang Super Mom?

Kalau saya, ada hari-hari dimana saya merasa seperti Super Mom. Dari bangun tidur mood-nya baik, pekerjaan rumah rampung dan bisa masak makanan untuk suami dan anak. Rumah juga nggak berantakan. Tapi ada hari-hari dimana saya merasa berantakan. Rumah ikut jadi kerasa kacau. Anak rewel. Dan, adaaa aja yang bikin mau ‘meledak’.

Kadang kala kita sudah pikirkan sedetil-detilnya manajemen rumah dan merawat anak, tapi ada aja yang tak terduga. Namanya anak, namanya hidup. Ini bukan game manajemen waktu macam Diner Dash yang punya peringatan intrik game sebelum kita main. Juga, tak ada limit waktu, habis itu bebas ngapain aja.

Iya, pekerjaan istri dan Ibu terutama itu berjalan 24 jam. Kalau seorang Mom bisa menaklukkan prioritasnya, Super Mom bisa menaklukkan kesempurnaan dalam tanggung jawabnya. Plus masih cantik aja. Dan pluuus, masih kalem tanpa emosi.

Ah, masa sih ada? Mungkin cuma dalam film. Atau si Super Mom punya beberapa asisten rumah tangga. Atau, dia minum obat penenang?

Kalau saya, nggak pernah mikir muluk jadi Super Mom. Jadi perfeksionis pernah, tapi akhirnya malah menyiksa diri sendiri kalau target tak tercapai. Cukuplah, jadi seorang Mom.

Yang penting anak terurus sehat, suami juga baik-baik aja, rumah nggak berantakan seperti kapal pecah. Sesuai juga dengan agama saya apa-apa yang saya lakukan. Tidak usah ribet pikirkan omongan orang kalau ‘ininya ngga diurus’ atau ‘itunya kok amburadul banget’. Saya bukan istri politisi yang harus sempurna. Saya manusia. 

Lagipula, kesempurnaan bukan milik manusia. Tapi Tuhan. Yang penting, kita sudah melakukan yang terbaik. Yang penting, prioritas terpenuhi. Yang penting seimbang. Tidak ada yang berat sebelah.

Ya, begitu. Menurut ibu-ibu…?

Video: Jada Pinkett Smith – Take Care of YOU, First (Moms)

Moms, jangan lupa urus diri kita sendiri ya.

Memang, mengurus diri sendiri masih jadi sebuah hal yang harus saya sempat-sempatkan nyaris setiap hari. Mandi, harus buru-buru. Pakai cologne pun, cepat-cepat. Tak selalu, tapi itu bukan hal yang aneh lagi.
Lalu saya nonton klip ini dan mengerti logika untuk tak lupa urus diri sendiri, karena itu dibutuhkan demi mengurus orang lain (dalam hal ini si kecil). Dan tak lupa, merawat diri juga demi suami.

Have a good day. Hope this clip brighten your day!

Tips Jadi Ibu (First-Time Mom) Untuk Awam

Wah, sudah cukup lama saya nggak update di blog ini ya. Jujur, sempet sedikit ngga pede menulis di blog khusus tentang bayi dan ibu, karena saya adalah first-time mom. Juga cukup awam soal bayi.

Sekarang Samuel sudah 9 bulan. Dan, cukup beri saya banyak pengalaman menjadi Ibu. Dia juga sudah mulai makan mpasi. 

Ngomong soal jadi Ibu, ada infographic bagus untuk tips jadi first-time mom atau ibu pertama kali (sumber: Pinterest)

Intinya tak usah terlalu stres dan dinikmati saja ya, moms. Yang penting peduli, sayang anak dan mau belajar. Kepiawaian dan naluri akan menguat seiring dengan waktu (InshAllah). 

Tak usah berlebihan juga menyiapkan perlengkapan bayi, karena belum tentu sesuai dengan anaknya dan juga kemungkinan dipakai hanya sebentar. Be smart on your spending.

Mau semua berikan nasihat ke kita, tetap pilihan ada di kita sendiri. Khususnya, kita (diharapkan) paling tahu kebutuhan anak kita sendiri.

That’s all for now. Have a fab weekend!