Curhatan Pedagang Online Di Tengah Wabah Virus Corona Part 2 dan Membuat Invoice Dengan Canva

Saya sempat mikir kalau masuknya wabah Corona ini mungkin akan berdampak pada sepinya order. Tapi ternyata nggak, malah order banyak banget. Tepatnya, order masker dan cairan pembersih. Alhamdulillah, ada pengalaman baru, tepatnya ada hal-hal baru yang saya pelajari.

Sebelumnya saya curhat kalau banyak yang salah kira harga masker satuan itu harga lusinan, ternyata ada lanjutan cerita. Harga 1 masker turun dan saya mendapat beberapa order untuk masker lusinan. Ada yang belinya 1 lusinan, ada juga yang beli banyak untuk kebutuhan karyawan.

Ternyata… oh ternyata… beberapa supplier menyerah karena kewalahan memproduksi. Demand-nya besar sementara tenaga tidak sesuai. Sebelum mereka menyerah, produksi sedikit molor. Membuat saya sedikit keder menjelaskan ke customer bahwa produsen overload orderan. Alhamdulillah, agen saya bergerak cepat dan mencari produsen lain.

Baca Juga : 6 Kesalahan Pedagang Online, Yang Terakhir Paling Sering Terjadi

Masalah lainnya adalah dari ekspedisi pengiriman. Dengan adanya wabah pandemi Corona dan anjuran social distancing, masyarakat membeli barang online lebih banyak dan berimbas pada membludaknya paket yang dikirim ekspedisi. Ada juga toko yang menutup pelayanan order online.

Beberapa ekspedisi yang saya tahu membatasi jam kerja karyawan dan bahkan menutup ekspedisi sementara. Ada juga yang tidak lagi melayani pengiriman luar pulau. Tentu ini bikin pengiriman jadi lebih lambat. Bahkan sampai sekarang, ada paket customer yang juga belum sampai, hampir seminggu.

Iya, saya menulis ini dengan perasaan harap-harap cemas. Semoga aja paket itu sampai, selain karena yang order itu dari yang masih dalam lingkup dekat hubungannya dengan saya, saya juga mikirin yang membutuhkan masker itu. Semoga Allah melindungi kesehatan mereka.

Mudahnya Membuat Invoice Dengan Canva

Nah sekarang saya kembali menulis tentang Canva. Kali ini topiknya soal membuat invoice atau nota pembelian yang biasanya dibuat untuk keperluan supply perusahaan.

Kira-kira lima tahun lalu saya pernah buat invoice atas nama blog lama saya untuk order backlink dan artikel. Cuma saya buatnya di Microsoft Word. Formatnya lebih sederhana dan secara visual tinggal masukin logo blog aja. Nah untuk Canva, lebih banyak feel design-nya atau estetikanya ya secara visual.

Di postingan ini saya pernah singgung kalau dapat request membuat invoice. Ternyata setelah itu saya kembali mendapatkan order untuk perusahaan dan diminta mengirimkan invoice. Caranya ternyata gampang tapi juga susah.

tampilan invoice order hand sanitizer, informasi tertentu classified ya jadi ditutupi

As you may know, di Canva sudah tersedia berbagai template untuk membuat berbagai kebutuhan grafis, termasuk invoice. Jadi saya memilih dari berbagai pilihan template yang tersedia, karena jujur saya nggak begitu paham sebelumnya. Desain template yang tersedia sangat oke tapi akhirnya saya pilih yang sederhana. Karena waktu itu yang penting invoice itu ada dan butuh cepat.

Susahnya bikinnya kenapa sih? Susahnya yaitu menerjemahkan invoice yang berbahasa Inggris menjadi Indonesia, serta meratakan teks dari layar handphone. (Mohon maaf, emak rempong ini nggak kebagian jatah pegang komputer, selain dari di-book kerjaan paksu dan bakal digelendotin si kecil)

Selain itu, saya pun memasukkan logo online shop saya dalam head halaman namun dalam warna hitam putih. Memasukkan nama order pesanan, jumlah produk dan total pesanan, beserta ongkos kirim.

Sekilas sih cukup gampang, tapi karena ini invoice resmi untuk perusahaan jadi harus ekstra teliti dan nggak boleh ada yang miss atau kelewat. Mungkin sayanya aja ya yang tegang, soalnya first time bikin order resmi. Alhamdulillah, nggak ada komplainnya sih. Paling saya ditanyain akun instagram dagangan saya aja.

That is all for now. Apa yang baca postingan ini punya pengalaman yang mirip? Apa juga order masker atau pernah membuat invoice? Share opininya ya.

Jualan Online Praktis Dengan Avana, E-Commerce Serba Bisa di Indonesia Yang Kelola Toko Facebook Anda

Satu hal yang orang nggak mau jaman now adalah ribet. Karena apa? Ribet itu memakan waktu dan energi. Kalau ada yang mudah dan satu paket, kenapa nggak dipakai?

Riset HootSuite Januari 2020 mengatakan, selain Youtube dan Whatsapp, media sosial yang paling banyak digunakan di Indonesia adalah Facebook. Semua orang, dari segala umur dan kalangan minimal tahu apa itu Facebook. Kebanyakan orang punya akun Facebook. Orang akan dinilai kudet abis adalah yang nggak tahu Facebook. Makanya nggak aneh kalau pedagang online memiliki toko di Facebook, karena potensinya yang besar.

Saya sendiri memiliki toko di Facebook, Instagram dan juga berjualan via Whatsapp. Tidak mudah menjalankan semua platform sekaligus, terutama jika ada produk baru atau menginformasikan promo dan segala sesuatunya. Jujur, saya butuh wadah agar bisa menampung semua toko itu, agar lebih efektif dan menyeluruh dalam mengelola toko.

Nggak hanya itu. Sebagai pedagang, banyak elemen yang harus diperhatikan dalam menjalankan usaha. Satu hal yang penting dalam menjalankan usaha online adalah kecepatan respon toko. Makanya, punya toko online haruslah anti-ribet dan fast response. Benar lho, menjawab cepat itu potensi penjualannya lebih besar daripada yang lambat, karena pelanggan sedang di momen mencari produk ke toko kita. Kalau kita lagi nggak bisa jawab pesan, pelanggan bisa dengan mudah cari ke toko lain.

Tapi, namanya juga manusia. Nggak mungkin kita selalu pegang toko, nggak juga selalu kita punya asisten yang selalu mendampingi. Maunya kita sih sebagai penjual, semua toko di media sosial teroptimasi. Sayangnya sebagai manusia energi kita terbatas, meski memiliki tim bisa saja ada yang miss atau kelewat. Hal ini yang harus dihindari pebisnis, kelewatan poin penting yang berpotensi untuk penjualan.

Eits, nggak perlu memble atau down dengan keterbatasan ini. Saya baru tahu, ternyata ada lho website e-commerce yang menjawab kebutuhan pedagang online ini. Nggak perlu pakai banyak aplikasi, nggak pakai pusing.

Namanya AVANA, platform social e-commerce yang membantu pedagang online berjualan dengan website dan toko Facebook yang dikelola dalam satu dasbor. Dengan Avana, kita mendapatkan 3 toko, Toko Facebook, Webstore dan Messenger Store.

AVANA bisa hubungkan toko anda dengan facebook dan messenger-nya
Banyaknya channel untuk menjual produk atau jasa toko dengan Avana

Ia juga menghubungkan toko anda dengan Whatsapp, E-mail, Line dan Blogspot. Menghubungkan media sosial toko anda dan messenger-nya, jadi lebih mudah mengelola bisnis karena semua sudah all-in-one dalam AVANA.

Penjual dapat mengelola bisnis di media sosial dengan fitur-fitur:

  • Manajemen Stok : Melacak dan menyelaraskan stok dan inventaris produk dalam semua medsos sekaligus
  • Payment Gateway Information : Sistem pembayaran bisa dengan transfer bank maupun dengan AVA Pay. AVANA mendukung sistem transfer pembayaran hingga 10 Bank.
  • Auto PM Reply and Comment : Membalas komentar dan pesan pelanggan secara otomatis
  • Messenger Blast : Menginformasikan pesan dan katalog terbaru dengan pelanggan yang memakai Facebook Messenger

Wow, banyak banget ya fasilitasnya. Untuk harga kampanyenya mulai dari Rp 250.000 aja. Baca fitur AVANA lebih lanjut disini.

Langkah yang harus kita lakukan hanyalah membuat akun, membuka toko dan melakukan penjualan di website Avana. Selanjutnya tinggal lengkapi deskripsi toko, koleksi produk dan memilih plus input sistem pembayaran yang digunakan. Saya sudah coba membuat toko di AVANA dalam hitungan menit saja dan merasakan mudahnya membuat toko.

Toko Facebook memang memiliki fitur menambahkan koleksi produk dan pengunjung bisa ‘langsung’ belanja dengan menekan tombol ‘Shop Now’, cuma sayang fitur berikutnya seperti langkah pembayaran hingga check out dan tracking paket produk tidak didukung.

Dengan Avana, pelanggan bisa membayar produk dari toko Facebook kita tanpa meninggalkan toko atau harus menggunakan platform lain. Bahkan, notifikasi proses pembayaran dan pengiriman bisa secara otomatis dikirimkan ke pelanggan. Wah, toko kita otomatis berbau profesional.

Satu hal yang membuat saya tertarik adalah sistem pembayaran AVA Pay, sistem pembayaran AVANA yang memungkinkan customer membayarkan produk dari toko kita hingga produk terkirim, sehingga meminimalisir kekhawatiran customer akan penipuan dan menambah kepercayaan mereka.

Saya suka fitur pesan otomatis AVANA sehingga bisa dengan cepat membalas pesan dan komentar pelanggan, karena kunci penjualan adalah menjawab pelanggan dengan cepat. Dengan begini, pelanggan merasa selalu diperhatikan dan dilayani.

Dan lagi, sudah ada 60.000 Toko Online dibuat di AVANA, lho. Salah satu testimoninya:

“AVANA adalah sistem terbaik yang pernah saya gunakan. Saya telah mencoba Shopify dan toko web lainnya. Saya bisa mengatakan bahwa AVANA adalah yang paling mudah digunakan di antara semuanya dan yang paling utama, AVANA mempunyai sistem Payment Gateway untuk Webstore dan FB Store. Fitur terbaik yang saya suka adalah Messenger Bot yang berfungsi untuk mengendalikan pesan yang masuk diwaktu sibuk. Ia banyak membantu dan mengurangkan beban tugas saya sebanyak 50%.”


Arnold Neo
Founder of Key It Simple

“AVANA memberi kami situs web terbaik yang mudah digunakan dan terintegrasi dengan Facebook dan Messenger. AVANA memudahkan kami untuk memantau pelanggan dan catatan penjualan kami, database pelanggan itu sendiri dapat berguna bagi kami di masa mendatang.”

Afiq Ikhwan
Funthera

Well, jangan buang waktu anda lagi kerepotan mengurus berbagai media sosial toko dan menjawab pesan pelanggan. Waktu terus berjalan dan selagi berjalan, banyak juga hal bermanfaat yang bisa dilakukan demi hidup yang lebih berkualitas.

Masih ragu? Tenang, kita bisa mencoba GRATIS 14 Hari jadi bisa test drive dulu. Bulan April ini ada potongan voucher paket Rp 100.000, lho. Rasakan manfaat dan keuntungan menggunakan AVANA dengan berbagai fiturnya.

Bye-bye repot, so long ribet. Gunakan AVANA.

Curhatan Pedagang Online Di Tengah Wabah Virus Corona

Wah, wah, memasuki nyaris seminggu masa karantina stay at home karena meluasnya wabah Corona, rasanya kepala sudah mumet. Demam dikit atau batuk sedikit, kepikiran. Mau keluar rumah juga mikir beribu kali.

Ya Allah, semoga nggak apa-apa. Semoga kita semua bisa melalui wabah virus Corona ini dan melakukan segala yang kita bisa agar tetap jaga stamina dan kebersihan.

Hand Sanitizer dan Buat Invoice di Canva

Sebagai pedagang online yang biasanya jualin baju anak, sudah beberapa minggu ini yang saya jualin produk yang on demand seperti hand sanitizer dan masker kain.

Untuk hand sanitizer, ternyata demand tinggi namun barangnya langka. Sehingga produknya beralih ke disinfectant spray. Untuk yang ini saya juga udah stop buka order, karena barangnya juga udah susah dicari dan lain-lain. Ternyata, pedagang besar mengaku bahwa bahan baku jadi sangat mahal jadi mau tetap jual harga murah itu susah.

Baca Juga: 4 Tipe Banner Blog Yang Bisa Dibuat di Aplikasi Canva

Ngejualin hand sanitizer ini membuat saya berkesempatan membuat invoice dengan Canva, lho. Tapi saran saya: buatnya di komputer aja ya karena kalau dengan handphone cukup sulit meratakan dan merapikan teks dan objek di layar HP yang terbatas. Entah kenapa juga agak suka nggak sinkron display dengan objek sebenarnya yang terlihat di layar, harus di refresh terus (mungkin masalah memori handphone juga).

Cara buatnya gampang, tinggal edit saja template invoice yang diinginkan lalu masukkan logo perusahaan kita dan alamat juga nomor yang dihubungi. Tentunya juga isi order dan total dari yang harus dibayar.

Sedikit deg-degan juga sih mengurus barang yang langka begini. Takutnya kehabisan dan ngeri customer batal order karena tidak mau menunggu. Alhamdulillah, customernya mengerti.

Foto dari Twitter @semestasains

Masker Kain dan Harga Selusin

Nah untuk masker kain ini, saya setiap hari dapat message Facebook dari calon customer (karena saya jual di Marketplace). Tapi semua yang japri-in saya menganggap harga yang pajang untuk selusin, padahal itu untuk satu masker. Lalu, mereka akan bilang harganya mahal. Sekarang sih sudah turun harganya ya dan sudah saya update deskripsi produknya (saya tulis HARGA PER SATU MASKER). Maaf ya ngegas.

Mohon maaf juga buat yang beranggapan kalau mungkin saya mahal-mahalin harga atau gimana. Saya jawab, Nggak. Memang sudah begitu harganya dan saya turunin juga karena dari pusatnya diturunkan harganya. Benar, saya nggak segitu teganya ngemahalin barang di masa kaya gini. Nggak juga saya dobel-dobelin harga, aduh nggak ya. Kasihan sama yang butuh.

Baca Juga: Adab Menuntut Ilmu Walau Gratisan

Sedihnya saya beberapa dari yang japriin saya bilang mereka beli dengan harga selusin dengan harga beda sedikit lebih mahal dari harga yang saya iklankan. Waduuh, maaf ya kalau kecewa. Insya Allah bahan dan jahitan memang bagus sesuai kualitas.

Sebagai penulis konten lepas, saya juga ketemu curhatan netizen petugas medis yang bilang alat bantu medis jadi langka seperti masker disposable, sarung tangan plastik dan alchohol swab. Lalu barang-barang itu dijual dengan harga berkali lipat. Miris sekali. Petugas medis jadi harus pakai alat bantu seadanya.

Tolong ya punya hati bagi yang ngejual semahal itu. Kasihan petugas medis. Kalau yang di garis depan gak bertahan, siapa yang mau mengisi posisi mereka?

Segitu dulu ya. Semoga kita semua diberi kesehatan dan keselamatan ya.

Pengalaman Jualan Dengan Akun Facebook Personal

Artikel ini mengandung konten promosi

Sudah sejak akhir Oktober 2019, aku mulai berjualan baju anak, setelah sebelumnya jual mukena mewah. Nah, disitu aku ‘kenalan’ dengan banyak orang yang juga sehari-harinya berdagang online. Banyak pribadi dan banyak karakter yang disitu aku ‘lihat’ dan ‘rasa’ sampai terkagum, salah satunya kegigihan seorang ibu yang juga mencari nafkah demi keluarga.

Serunya, aku juga bisa ikut kelas-kelas Whatsapp gratis tentang jualan dan mindset. Aku belum berani invest untuk kelas berbayar. Alhamdulillah, suatu saat ada kesempatan dimana aku bisa ‘bayar’ dengan cara lain, yaitu dengan mendesain flyer kelas Facebook Rame Anti-Sepi (FRAS). Desain aku terpilih, dan aku bisa ikut kelas itu free tanpa charge.

It’s the first time aku attend kelas berbayar. Tentu saja rasanya berbeda. Yang ikut kelasnya lebih determined, lebih berpengalaman berjualan online, lebih expert dibanding mereka yang ikut kelas yang free. Beda lho, jika kamu udah invest dan bayar untuk sesuatu, kamu pasti lebih ‘terpecut’ dan lebih ‘melek’. Iyalah, karena kamu udah keluar duit. Tentu saja, buat aku yang bisa masuk kelas tanpa charge, nggak mau juga aku kurang melek. Ini namanya rejeki. Gak dipraktekkan, jatohnya buang rejeki.

Kenapa memilih jualan dengan akun Facebook personal? Soalnya, Facebook aku juga udah garing, ga banyak interaksi dengan orang-orang yang jadi temanku disitu. Jadi ya sekalian ajalah, daripada nganggur akunnya.

Kalau profesional mah, buat khusus ya akun toko online dengan Facebook page atau instagram. Tapi jujur deh, pasti butuh waktu dan dana untuk mendapatkan follower. Yang ngga punya dana, bisa sih bangun pelan-pelan, tapi akan lambat jalannya. Buat emak-emak yang ga mau ribet, jual dengan FB personal itu udah paling oke.

Jualan di FB personal pasti udah pernah lihat deh ya dari mungkin akun temen atau akun orang. Seringnya modelnya plek, pajang foto-foto dagangan. Kadang tanpa penjelasan, atau cuma taruh nama produk dan harga. Menurut kelas FRAS, ini nggak efektif. Orang ngga suka diliatin lapak mendadak gitu, bisa-bisa kita di block kalo keseringan.

Apa tips yang aku dapat dari dari kelas itu? Pertama, agar ‘bersih-bersih’ akun teman yang udah gak aktif dan sudah meninggal. Algoritma Facebook itu cuma kasih lihat postingan kita ke 10 persen teman kita, itupun kalau kita suka interaksi dengan mereka. Terdengar sedikit kejam awalnya. Tapi setelah aku praktekkan, ternyata lumayan banyak aku ‘sapu-sapu’ akun facebook yang gak aktif. Banyak yang temannya teman, akun dagang teman yang ga aktif, yang sudah meninggal dan mereka yang sudah setahunan lebih gak update lagi. Habis aku bebersih akun-akun itu, tiba-tiba di timeline aku muncul akun-akun teman-teman yang sebelumnya nggak pernah kelihatan. Wah, ngaruh juga ya.

Kedua, add akun target market anda. Karena aku jual baju anak, jadi aku add akun ibu-ibu yang udah punya anak. Gak cuma add, kita juga harus jalin kedekatan dengan mereka. Istilahnya, bagaimana seseorang mau beli produk dari kita kalau nggak kenal? Yah, kenalan dulu.

Alhamdulillah, hingga kini aku malah senang melihat akun-akun baru yang akrab di timeline. Kadang nemu yang kesukaannya sama, ada juga yang akunnya suka bercanda. Ya, kaya ada teman baru aja gitu. Banyak juga yang jualan di Facebook. Aku lihat juga yang juga ngerti ‘aturan’ jualan di FB yang benar. Aku tiap hari jadi terbiasa dan nagih lihat mereka di timeline tiap hari. Mereka juga ramah dan seru, ya sama-sama ngerti kalau jualan di FB.

Ketiga, jangan posting jualan melulu. Nggak ada yang suka dibombardir iklan terus. Yang ada mesti di-unfriend atau unfollow. Ibaratnya kayak lagi nonton TV, masa nonton iklannya terus 😦

Keempat, kalau berjualan produk nggak usah dengan menawarkan. Loh, kaya gimana ya? Jadi, kita nggak bilang, “Beli produk ini ya” atau “Order ya” Gunakan teknik covert selling, yang berarti berjualan secara halus. Nah, yang ini tuh mesti praktek langsung. Di kelas FRAS, kita dikasih tugas jualan teknik ini dan diberi bimbingan. Seru, deh. Karena aku memang suka copywriting.

Dalam prakteknya, aku masih dalam tahap penyempurnaan jualan dengan optimal karena jumlah pertemanan FB aku yang belum ribuan. Cuma, akun Facebook aku nggak garing lagi. Banyak yang likes, banyak yang respon postingan aku. Alhamdulillah, ada silaturahmi yang terjalin kembali baik dari berdagang ataupun nggak. Orderan? Yes, udah ada dong. Aku bahkan dapat reseller aku juga dari pertemanan FB ini.

Mau ikutan kelas FRAS ini? You’re in luck karena akan ada kelasnya tanggal 24 Februari 2020 ini. Book your seat! Kelas ini nggak cuma buat yang dagang produk, tapi juga personal branding dan jasa.

Update: kelas FRAS selanjutnya tanggal 9 Maret 2020

Flyer Kelas Facebook Rame Anti Sepi
yang aku desain

Mau infonya atau mau ikutan bisa klik link ini langsung https://wa.me/6285155090148

Kalau ibu-ibu sendiri, punya pengalaman jualan di Facebook atau sosmed nggak? Share yah komentar atau opininya.