Menulis Surat Untuk Diri 10 Tahun Yang Lalu

Saya menggali-gali postingan blog lama mencari ide ngeblog lalu menemukan topik (yang tampaknya jadi favorit saya, soalnya sudah dua kali bikin): “Menulis Surat Untuk Diri Sendiri 10 Tahun Yang Lalu”.

Karena tahun ini tahun 2020, maka saya menulis untuk diri saya di tahun 2010 (emmm, jangan sebut umur). Di tahun itu, saya masih ngantor dan lagi seru-serunya kerja dan single (belum jadi istri siapa-siapa). Buat mengingat itu, saya sampai scroll foto-foto lama. Iya, sempat blank apa aja yang terjadi di tahun 2010? Ternyata saya banyak ketemuan sama teman-teman, jalan-jalan dan seru-seruan. Teman kecil saya menikah di awal tahun, saya juga travelling ke Ternate yang jadi kota asal keluarga saya.

Well, langsung aja ya. Nanti kantor posnya tutup, hehehe…

Dear Diri Yang Lebih Muda 10 Tahun,

Sekarang saatnya mencoba berbagai pengalaman baru yang positif, bepergian ke tempat-tempat yang belum pernah kamu coba, mempelajari hal-hal baru, mengenal banyak orang dan mengalahkan comfort zone dirimu. Iya, seperti kata kakakmu itu, coba menikmati sedikit hidup mumpung belum menikah.

Hal itu semua nggak salah, selama positif. Tapi jangan lupa menjaga diri. Jaga pikiran, jaga kata-kata. Semua yang kamu ucapkan adalah doa, buang penyakit hati jika ada. Jangan juga terlalu menggantungkan kebahagiaan pada manusia, karena manusia punya kekurangan. Bergantungnya sama Yang Maha Kuasa aja.

Terdengar klise tapi mujarab: Jangan lupa dengan shalat karena segala letih batin jadi ringan. Aku tahu terkadang jenuh dan lelah itu datang. Kamu lelah terlihat kuat, terlihat seolah setiap hari fine aja. Aku tahu kamu jenuh dengan keseharian, makanya kamu berusaha imbangi dengan memaksimalkan waktu senggang dengan ketemu teman-teman dan naikin mood. Bersilaturahmi boleh-boleh saja, asal ingat batas energi dan kemampuan.

Oh ya, ini tahun kamu mulai ngeblog serius soal film. Makanya mulai bersemangat lagi karena ada project pribadi yang bikin hepi. Film-film itu memang menginspirasi, tapi … ah sudahlah, nanti kamu juga belajar di ujung perjalanan, apa yang lebih besar dari itu. It’s just movies, tapi kalau kamu dengar aku ngomong itu, pasti kamu protes. So, mending jalanin sendiri ya. Aku cuma bisa bilang, film dibuat dengan tujuan yang berbeda-beda. Ada yang tulus ingin mengajarkan pesan moral, ada yang buat menang penghargaan, ada yang buat keren-kerenan aja. Menurutku, memang kamu ada passion ke situ, tapi it’s not a good world and can be a misleading to you.

Cari teman yang baik, teman yang akan memberikan pengaruh positif. -Teman-teman yang ada di sekitarmu belum tentu bisa seperti itu. Kamu punya insting, coba didengarkan. Tetap ikuti yang baik menurut batin, kalau temanmu nggak suka ya he/she’s not a keeper.

Oh iya, jangan kebanyakan beli barang yang nggak butuh! Itu lemari baju kepenuhan sama yang nggak butuh-butuh amat. Jadi kalau beli baru, keluarin yang lama. Kasihan si mama mesti kosongin lemari karena kepenuhan. Toh ujungnya dikasih-kasihin orang karena nggak dipake-pake. Karena nantinya kita dihisab dari barang-barang yang kita koleksi, bakal dipake apa nggak. Duit mending ditabung atau dibeliin ke hal lain yang dibutuhin sendiri atau orang lain. Nggak usah tergoda beli kamera lomo selain Holga, karena cari waktu hunting aja susah, belum cuci dan scannya.

Alhamdulillah, bisa ke Ternate sama nyokap sambil anterin almarhum Tante yang sakit. Disana momen yang langka bisa berdua sama nyokap, kalau di rumah kan bertigaan sama kakak. Nikmati jalan-jalannya, dan bersabar dengan mati lampu juga plus jauh dari komputer dan internet. Nanti kalau sudah di Jakarta, dan mamamu ada feeling ingin dekat dengan Tante, bujuk aja ke Ternate. (Almarhum Tante meninggal nggak lama diantarkan)

That is all. Take care of yourself. Ingat ya, jangan terjebak zona nyaman.

Ngomongin Isi Tas Seorang Ibu Anak Balita

Assalamu’alaikum,

New week new horizon nih, alias sudah masuk minggu baru, semangat baru. Insya Allah. Sempat istirahat sejenak dari blogging buat kerjain ‘tugas negara’. Kali ini saya mau ngomongin isi tas seorang emak anak balita.

“Ibu-ibu kalau mau pergi sama anak, bawaannya kaya nginep 3 hari 3 malam.” Begitulah isi meme di instagram yang pernah saya lihat, atau isinya kurang lebih begitu. Yang saya rasain, apalagi pas anak baru lahir, meme itu benar banget.

Tentu saja beda yang perlengkapan alias isi tas seorang ibu dibandingkan dengan bapaknya, atau dengan yang belum menikah. Kadang kala mulusnya perjalanan di luar rumah bergantung dengan kelengkapan isi tas yang dibawa ibu. Makanya jadi ibu mesti dibekali ingatan kuat dan kemampuan mengorganisir yang baik, ihiyyy.

Baca Juga: Sederhana Tapi Ampuh, Lakukan Hal-Hal Ini Untuk Jaga Daya Tahan Tubuh

Meski begitu sekarang saya berusaha bawa barang yang memang perlu, karena meluangkan waktu menyiapkan barang yang nggak butuh-butuh amat bakal jadi kesia-siaan dari energi dan waktu, juga space di dalam tas. Nah, ngerti ya kalau jadi ibu, waktu itu penting banget dipakai agar tidak disia-siakan. Jangankan nyiapin barang, curi tidur kadang susah (lho, curcol 🤭)

Nah, apa aja sih isi tas seorang ibu anak balita? Kalau saya sehari-hari bawa tas selempang kecil. Kenapa, karena ringkes dan ringan. Ini sih buat pergi-pergi dekat aja ya. Dulu waktu belom nikah suka bawa tas handbag, tapi malah jadi bawa kebanyakan. Ini nggak bagus buat pundak dan tubuh karena jadi menambah bobot beban gak perlu.

Tentu saja isi tas seorang ibu terkadang tergantung apa pergi sendirian atau sama suami atau orang lain, dan apakah membawa kendaraan sendiri atau tidak. Soalnya kalau ada kendaraan, isi tas bisa lebih ringan dan dititipkan ke kendaraan dulu. Saya juga kebeneran nggak suka pakai make-up. Bawa juga nggak diapa-apain. Jadi isinya ya gitu-gitu aja.

Isi tas selempang kecil saya:

1. Dompet dengan isinya

2. Tisu (kering utamanya, tapi seharusnya ada juga yang basah)

3. Handphone, ya nggak perlu dijelaskan, Yang pasti buat alat komunikasi. Harus ada paket data.

4. Hand Sanitizer, menjadi barang wajib karena di jalan bisa jadi si kecil atau ibu harus memegang benda-benda yang diragukan kebersihannya dan lagi nggak bisa cuci tangan

Baca Juga: Cerita Momen Masa Kecil Favorit: Liburan ke Puncak

Kebiasaan juga saya bawa terpisah, tas makanan si kecil. Kalau perginya rada jauh, biasanya ganti tas dengan yang lebih besar bisa mencakup semuanya. Isinya:

1. Botol/termos air minum

2. Snack biskuit

3. Peralatan makan (kalau pergi jauh udah sama makanan)

4. Payung (kalau musim hujan) : simply karena nggak muat di tas selempang

5. Obat, jika anak sedang tidak fit atau ada gejala sakit

Bawaan ekstra kalau perginya rada jauh

1. Baju Ganti, atasan bawahan dan baju dalam. Karena anakku baru belajar potty training masih harus siap-siap popok

2. Snack dan Makanan tambahan, karena kalau si kecil lapar akan lebih gampang rewel

3. Minyak telon, jaga-jaga jika si kecil merasa nggak enak badan, kulit mungkin digigit serangga dan sebagainya

4. Sabun, karena mungkin lama di jalan harus mandi melepaskan gerah atau membersihkan diri

5. Handuk kecil, karena kalau bawa sabun harus ada handuk

6. Kantung Plastik, jaga-jaga buat apa saja, termasuk kantung ekstra buat bawa barang

7. Mainan si kecil, karena bisa jadi tempat yang didatangi si kecil nggak betah, harus ada mainan biar dia nggak rewel

Begitulah isi tas saya kalau pergi sama si kecil. Mungkin nggak seribet yang anaknya lebih banyak ya.

Bagaimana dengan ibu-ibu yang lain yang juga punya balita? Barang bawaan apa yang harus dibawa di dalam tas?

Hal Yang Selalu Ingin Tapi Belum Pernah Dilakukan: Travel Solo

Name one thing you always wanted to do but haven’t, tantangan selanjutnya dari 15 Day Writing Challenge.

Yah kalau punya keinginan tapi belum kesampaian ya banyak banget. Dari yang kecil-kecil seperti pengen coba-coba proyek do-it-yourself (DIY) dengan barang-barang yang nggak terpakai sampai pengen ke Lombok atau museum Ghibli di Jepang.

Tapi kalau ada embel-embel ‘always’ berarti dari dulu, ya. Kepinginnya sih, buibu, kepinginnya bisa traveling solo. Ini sebenarnya sudah pengen dari jaman  single alias sebelum menikah, tapi belum berani dan nggak diseriusin.

Pernah saya baca tujuan traveling itu menemukan kembali diri sendiri. Mungkin karena sekarang saya hari-harinya ngurusin orang (anak dan suami), dengan traveling sendiri ya jadi ngurus diri sendiri aja. Mau kemana-mana ya udah tinggal bawa diri. Sedikit egois sebentar, kalau dibolehkan. Pastinya untuk refreshing dari rutinitas.

Image: instagram/nadyahutagalung

Ibu traveling solo yang pernah saya lihat di sosmed itu Nadya Hutagalung. Katanya ini rutin dilakukan, mungkin karena hobby juga. Waktu itu saya lihat di instagram-nya, ia jalan ke Nepal sendirian.

Kayanya sih saya akan tetap mikirin anak dan rumah dan supervisi via telpon/chat. Juga kalau lokasinya shopping friendly, beli oleh-oleh atau barang murah untuk di rumah.


Namanya keinginan, belum tentu kalau dikasih pilihan saya bisa juga :p tentunya harus ada restu keluarga kalau lihat sikon sekarang. Atau kalau dikompromikan, traveling sama suami aja dan bawa anak juga it’s okay.

Mau kemana? Ya sekitaran Asia atau lokasi Indonesia yang sekiranya aman dan memungkinkan bisa belajar budaya. Juga family-friendly kalau bawa anak.

Kalau ibu-ibu punya keinginan apa? Atau sama?