Ngomongin Pengalaman Suka Duka Buka Online Shop Sendiri Paska Resign Kantoran

Bismilllah, mau cerita soal pengalaman aku habis resign menuju ke buka online shop sendiri kira-kira akhir tahun 2014 dan 2015.

Sebenarnya nggak lama running online shop-nya sebelum mandeg karena kesalahan management, tapi I don’t regret it at all. Mungkin bisa jadi pelajaran buat yang mampir baca ke sini ya..

Proses menuju keputusan resign sendiri butuh waktu sebelum akhirnya mengiyakan, karena rasanya dunia (alah, lebaynya) atau tepatnya Allah sudah nggak mau aku disitu lagi. Bahkan sebelum resign sempat mau mutasi ke bagian lain, tapi menurut head-nya aku punya banyak kreativitas sehingga kurang cocok ada di bagian itu.

Lalu saya resign. Segala kelegaan dalam diri mengalir, karena kalau boleh jujur saya itu terjebak dalam zona nyaman: pekerjaan tetap, asuransi, prestige pekerjaan. Namun semua itu bohong, karena saya udah nggak hepi lagi jalanin itu semua. Mirip kaya operator lebih tepatnya dan ibarat mesin. Masuk kerja, pulang, begitu aja tiap hari tanpa ada jiwa kalau diistilahkan. Soalnya saya ini punya bibit nyeni, harus ada yang stimulus kreativitas saya. Lingkup dan bidang kerja saya semua sudah terbaca dan terasa monoton. Saya juga udah gak nyambung dengan lingkungan kerja.

Saya masih aktif ngeblog soal film, dan kebenaran ada project dengan bayaran lumayan di waktu yang nyaris bersamaan. Jadi makin pede lah mau resign. Memang sih, ada suami yang bilang tugas cari nafkah ada di dia. Tapi idealisme itu masih ada. Ide running your own shop rasanya seru sekali.

Waktu itu yang tercetus mau produksi bros sendiri untuk hijaber. Saya terkesima lihat berbagai referensi di Pinterest. Mungkin kalau lihat itu lagi jadi kepengen bikin lagi. Tapi, sayangnya pasaran di Indonesia kurang tertarik dengan produk saya. Seorang teman bilang ia miris lihat bros dijual murah kebangetan di pasar atau grosir. Sebenarnya ini bukan pertama kali saya kepentok mental orang kita yang memurahkan pekerjaan kreatif. Dulu saya bahkan sudah mendengar itu dari dosen yang bilang orang di negara lain lebih bisa menghargai kreativitas.

feed jualan bros di @magicmintshop

Yah, akhirnya saya beralih ke jualan produk jilbab. Berhubung sayapun baru kurang lebih setahun memakai jilbab dan sedang semangat-semangatnya mikirin OOTD atau pakai jilbab yang motifnya kekinian. Nah, ketika menjual jilbab ini lumayan banyak pembelinya walau saya belum supply banyak. Seakan mendukung usaha, di dekat rumah satu jasa kurir terkenal buka cabang. Bahkan karyawannya super ramah, tawarkan jasa lewat whatsapp dan membolehkan paket diambil kurir tanpa minimal order. Memudahkan saya yang juga ngurus rumah ini.

Namun saya agak terhambat mencari supplier bagus dengan harga yang reasonable. Ada kesalahan pula dalam me-manage pengeluaran.

Untuk mengakali ini saya beralih jadi reseller. Di saat yang sama saya hamil, juga mengambil pekerjaan sebagai freelancer, jadi cukup kewalahan. Waktu anak lahir, saya sempatkan waktu sebagai reseller. Wah, saya berterima kasih banget hidup di jaman internet ini. Masih bisa kerja sambil menyusui di tempat tidur. Beberapa stok jilbab tersisa dijual secara offline oleh kerabat.

Namun karena gak banyak penjualan, saya stop menjalankan Magic Mint Shop. Namanya dipilih karena saya suka warna toska dan mint (magic mint itu nama warna). Saya fokus ngurus anak bayi baru lahir dan kerja freelancer. Lucunya kala itu, sewaktu-waktu bisa aja ada yang order padahal stoknya gak begitu baru. Itu Alhamdulillah mungkin rejeki anak. Sempat juga jualin produk teman.

Sekarang ini, Magic Mint Shop sudah jalan lagi 2 minggu menjual Mukena dewasa. Gak menampik hal itu terjadi karena kebutuhan. Tapi kreativitas saya tersulut kembali. Bekerja beberapa lama sebagai content creator bikin saya lebih mengolah kata-kata dalam caption foto. Baca-baca lagi cara menjual barang. Main-main grafis lagi. Bahkan saya menemukan scam baru-baru ini. Kalau ada waktu saya ceritain.

Kalau mau buka online shop sendiri, saran saya selalu atur strategi dari berbagai segmen. Memang benar hampir tiap hari harus posting untuk feed dan kuncinya adalah responsif dengan pembeli. Dalam membangun usaha sendiri, kegagalan itu udah pasti. Rugi juga udah ‘makanan’ para pengusaha. So jangan berkecil hati kalau gagal.

Kalau ada yang mau tanya-tanya boleh, saya bantu sebisanya. Doain ya saya online shop saya bisa laris. Stay happy, moms.

Fitur-Fitur Ini Bikin Kamu Wajib Punya ASUS VivoBook Ultra A412A #TheColorfulNotebook

Bete gak sih moms, ketika kita udah ada waktu dan energi untuk melakukan me-time dengan internet ataupun nonton tapi laptop kita lemot? Mau ngelakuin kerjaan sampingan waktu anak berhasil tertidur, tapi perangkat elektronik malah error?

Like it or not, situasi menuntut kita para Ibu untuk efisien dan ringkas dalam melakukan segala sesuatu, termasuk penggunaan elektronik seperti laptop. Ibu masa kini punya banyak ‘syarat’ dalam barang yang ia butuhkan, nggak cuma anak muda aja. Unggul dalam kepraktisan dan performa, tapi dari penampilan juga nggak jadul. Semua sepaket ada di ASUS VivoBook Ultra A412A.

Seri Vivobook keluaran terbaru ini sudah menggunakan prosesor mutakhir AMD Ryzen 3000 series, baik Ryzen 3 atau Ryzen 5 di Indonesia. Prosesor yang paling ringkas di kelasnya, wow! Bisa dipakai untuk main santai dan bekerja untuk menulis bahkan multimedia editing secara leluasa. Ia sudah dilengkapi dual-band Wi-fi 5 yang buat pengalaman berseluncur dunia maya super cepat hingga 867Mbps.

ASUS Vivobook Ultra A412A sudah pre-install Windows dari pabriknya. Sudah dapat Windows 10 Pro, setelahnya tinggal update versi terbarunya aja. Lah, hari gini ngga usah mikirin lagi Windows bajakan.

Colorful notebook ini punya sensor fingerprint dan fitur Windows Hello yang memudahkan kita login ke desktop. Jadi, pasti sistem komputer cepat dan cuma butuh sapu sidik jari kita di permukaan keyboard dan what? Tahu-tahu udah masuk sistem, tinggal klik aplikasi dan memulai aktivitas. Ia juga punya teknologi Numberpad alias pad untuk angka dengan menyentuh ikon touchpad khusus.

Dari segi penampilan, Asus VivoBook Ultra A412A didukung layar NanoEdge 14 inci yang frameless empat sisi dengan sudut 5,7 mm yang tipis. Rasio layarnya saja cakupannya 87% dari seluruh bidang laptop, jadi sangat memanjakan mata dan total dalam menampakkan visual. Nggak akan kelewat deh, detil dari serial drakor kamu, hehehe…

Kamera built-in nya sudah didukung fitur HD alias high definition. Kalau mau video call atau video chat juga streaming video internet HD tampilannya jernih banget.

Masalah biasa kalau memakai laptop adalah tangan yang kelelahan. Pergelangan tanganmu sudah didukung kenyamanannya dengan desain body laptop yang kemiringannya telah diukur sebesar 2° saat dibuka. Keren kan?

Vivobook A412A sudah cukup ringan dengan berat 1,5 kg. Ringkas dan nyaman untuk dibawa saat perjalanan. Tinggal selipkan di tas, disebelah dompet dan mainan si kecil.

Ada empat pilihan warna yang bisa kamu pilih untuk Colorful Notebook ini; Slate Grey yang hitam keabuan, Peacock Blue yang biru keunguan, Transparent Silver yang putih keabuan dan warna kekinian Coral Crush bernuansa merah seru di mata.

Tampilan keyboard-nya juga berbentuk kotak dengan sudut-sudut yang melengkung, secara keseluruhan bikin look laptop jadi lebih modern. Desainnya ergonomis dan comfy untuk banyak mengetik. Tampilan moms mungkin bisa kusut karena ngurus anak, tapi laptop kece bisa upgrade dikit lah hahaha…

Lengkapnya bisa dilihat di abel spesifikasi ASUS VivoBook Ultra A412A di bawah ini:

Dengan fitur-fitur ini, Asus menjuluki VivoBook Ultra A412A “The World’s Smallest 14 Inch Colorful Notebook”. Yah, tentunya bukan tanpa alasan dengan performa kencang, ringkas dan ringan, bentuk dan warna yang nyaman dan modern, fitur fingerprint dan Windows Hello juga sederet fitur unggulan lainnya. Kalau buat aku sih, laptop ini wajib punya 🙂 Menurutmu gimana?

“Nikmati Aja Fase Ini” Mengenang Masa Terrible-Two Si Kecil

Kayak yang udah lama banget, padahal baru jadi anak 3 tahun beberapa bulan 😂😂😂 Itulah ‘tanda’ leganya saya udah lewat masa penuh teka-teki dan rollercoaster terrible-two si kecil.

Mungkin salah satu yang buat saya shock adalah saya nggak tahu-menahu soal fase ini. Sampai saya baca postingan Sabai Dieter, istri Ringgo Agus soal anaknya yang mengalami hal yang sama. Bayangkan bayi yang biasanya nurut dan mau aja dikasih makan dan diajak ini-itu tiba-tiba menolak dan gak jelas nolaknya kenapa. Tak apalah kalau bukan hal yang krusial, tapi kalau soal makan dan mandi nggak mungkin di-skip. Yang paling bikin saya frustasi adalah ketika dia menolak mandi. Bayangkan ketika setiap jam mandi selalu ada drama ini. Wah,… Kalau diilustrasikan mungkin wajah dan kepala saya udah kusut kaya Misae ibunya Shinchan.

Ilustrasi aja – saya nggak maulah sampai cubit si kecil

Soal makan, dia cuma mau makan nasi dan telor ceplok thok. Nggak mau apa-apaan lagi. Memang dari keluarga suami ada riwayat doyan telor ceplok, cuma sebagai ibu saya sempat ngerasa bingung. Soalnya, temperamen si kecil yang keras udah susah dibujuk. Bisa-bisa kalau dipaksa, dia akan trauma dan gak makan sama sekali. Nah ini lebih pusing lagi. Ada curhat seorang teman yang bilang anaknya juga pilih-pilih makan, menurutnya yang penting dia mau makan walau cuma roti atau biskuit.

Ternyata mengakali fase ini memang butuh kesabaran tinggi dan punya seni marketing. Juga harus menyederhanakan opsi buat si kecil agar dia mau melakukan sesuatu (thanks to akun Ibupedia!). Misal mau pakaikan dia baju, langsung aja tanya: “mau pakai baju merah atau biru?” jangan tanya atau sebut, “yuk kita pakai baju/pakai baju sekarang, yuk?” he will say (dan selalu di fase ini: “Nggak mauuu!!” Tetap tenang dan jangan emosi, karena si kecil bisa jadi cuma mau pancing reaksi kita aja.

Buat ibu-ibu yang sedang pertama kali alami fase ini, coba baca-baca tingkah lucu anak-anak lain yang sedang alami terrible two. Lucu banget dan bikin kita ngerasa gak sendirian. Seperti kata teman-teman saya yang lain, nikmati aja fase ini.

Daftar Keberhasilan Di Hari Mager

Today, rasanya saya mau nulis accomplishment saya hari ini, setelah rasa malas menjalar luar biasa. Perkiraan hari ini mau lazy day aja ternyata agak jauh dari perkiraan. Kala semangat lagi low tapi pekerjaan jadi Ibu nggak bisa di-pause, perlu juga mengapresiasi diri. Ini dia:

hot wheels and mager day

foto biar ada aja nih – mainan hot wheel si kecil

  • Saya berhasil masakin si kecil sup telur puyuh sederhana disela-sela kesibukan nyiapin bapaknya siap-siap jalan for an important thing
  • Berhasil juga ngalahin ke-mager-an dengan ngajak si kecil keluar rumah siang bolong biar dia nggak bosan…
  • …Dan juga biar saya bisa jajan es krim to soothe my frizzle mind! Saya jajan es krim cup rasa Arabian limited edition gitu (lupa persisnya namanya) ada rasa kurma madu yang enak sekali
  • Berhasil juga gak ngedumelin si kecil karena dia nggak bobo siang (setelah saya udah pura-pura tidur atau mungkin ketiduran sebentar juga), rupanya dia perlu mpup
  • Berhasil nonton serial TV favorit episode terbaru setelah beberapa hari nungguin waktu yang pas nonton
  • Berhasil nyicil cuci piring
  • Berhasil nggak kepancing emosi ngomongin politik terlalu dalam di salah satu grup Whatsapp (ini kayanya butuh award banget)
  • Berhasil bikin si kecil rapiin sendiri mainannya yang berantakan (ada iming-imingnya memang sih)
  • Berhasil ganti dan nyuci underwear si kecil dan celananya yang kena pipis, setelah dia ketiduran
  • .. with that berhasil juga menghemat popok sekali pakai
  • Berhasil menahan diri gak bersihin semua chaos clutter rumah karena sejujurnya badan dan pikiran lagi gak mau
  • Berhasil bikin dinner dengan bahan seadanya di kulkas, dengan pesan dari suami ‘lain kali bikin sambelnya sama aku ya’ karena kurang sakses bikinnya (maklum lagi nahan kzl si kecil menolak ini itu)
  • With that horee next time bisa masak ama suami di dapur :))
  • Berhasil menghibur pembaca yang baca post ini? Hehe…semoga

Semoga harinya membahagiakan ya, Ibu-ibu 🙂

Serial ‘Obsessive Compulsive Cleaners’ dan Pengalaman Pindahan Waktu Hamil Besar

Sudah berapa lama ini, metode bersih-bersih rumah jadi tren gara-gara Marie Kondo dan serialnya. Saya sendiri lihat pertama kali metode folding baju melalui instagram seorang emak dan amazed. Wah, ternyata ada ‘ilmu’ sendiri loh dari ‘sekedar’ melipat baju.

Monica di serial Friends

Monica Geller di serial Friends dan habit bersih-bersihnya

Saya belum pernah nonton serial Marie Kondo, tapi malah duluan nonton serial di YouTube, ‘Obsessive Compulsive Cleaner‘ melalui saran teman. Secara garis besar, serial ini mempertemukan orang-orang dengan penyakit OCC (tidak tahan kuman dan selalu ingin bebersih rumah) dengan orang yang sangat butuh rumahnya dibersihkan. Orang OCC akan membantu membersihkan rumah yang super kotor itu. Saya udah nonton 3 episode dan Alhamdulillah jadi ‘ketular’ semangat berbenah rumah (LOL).

Kenapa suka, karena serial ini kasih lihat kalau ternyata perilaku bersih-bersih kita itu juga terhubung dengan psikologis kita. Rumah-rumah yang terbengkalai tidak dibersihkan bertahun-tahun oleh yang punya rumah, bukan sekedar karena ‘malas’ tapi ada sesuatu yang lebih dalam lagi disana. Misal, episode pertama yang saya tonton adalah seorang ibu yang setelah melahirkan anak pertama sudah hamil lagi. Ia kewalahan mengurus rumah dan tak tega menyuruh anak balitanya membantu bersih-bersih. Ada juga seorang Bapak yang baru pensiun jadi tentara mengalami post-power syndrome, suami yang sedih kehilangan istri dan lain-lain.

Serial 'Obsessive Compulsive Cleaners'

Serial ‘Obsessive Compulsive Cleaners’

Mungkin ini juga yang nancep ke batin saya, karena saya dulu juga sempat kewalahan ketika hamil besar pindahan rumah dan alhasil rumah yang baru ditempati rasanya disorganized dan kurang total dibenahi. Belum lagi, saya tersadar bahwa ada banyak barang saya yang gak saya pakai lagi, harus di-pack dan mengambil space terbatas di rumah baru.

Dihakimi? Jelas. Waktu itu rasanya saya dapat banyak pahala (insya Allah) karena orang-orang mikir saya nggak pedulian sama rumah. Padahal boro-boro ngurus rumah, me-time aja susah dicari. Alhasil, saya overwhelmed dan lepas kontrol selama beberapa waktu. Ketika akhirnya pindah rumah lagi dan banyak baca soal decluttering, itu momen saya beresin banyak barang yang nggak lagi saya butuhkan.

Nah, nonton serial OCC ini bikin saya sadar stres yang saya alami waktu itu. Hamil besar aja nggak dianjurkan untuk pindah rumah kan, alhasil kalau mau packing pengennya molor dan suami kerepotan ngurus ini-itu sendiri. Alhamdulillah, kalau ingat momen itu udah lewat dan bayi saya sehat. Kalau dulu mikirnya, ‘mending lelet packing daripada bayi gue kenapa-napa’.

Selama ini saya cuma tahu orang dengan OCC cuma dari karakter serial TV seperti Monica di Friends dan di Desperate Housewives (saya masih ingat, satu karakter harus bersihin rumah dulu sebelum mayat suaminya dibawa ke rumah sakit). Orang-orang dengan OCC pun punya latar belakang kenapa mereka berperilaku demikian. Nah, di serial OCC ini tidak terlalu dalam dikupas. Mungkin karena lebih dipusatkan ke yang punya rumah berantakan. Biasanya orang OCC di serial akan dicap rumahnya terlalu bersih hingga terasa terlalu kaku dan tak nyaman ditinggali. Saya suka lihat orang dengan OCC dan pemilik rumah berantakan menyeimbangkan satu sama lain, yang akhirnya yang satu bisa lebih santai beres-beres rumah dan yang lainnya bisa lebih mengurus rumah.

So ibu-ibu, jangan nyinyir duluan ya lihat rumah berantakan acak adut. Siapa tahu ada masalah psikis yang lebih dalam disitu. By the way, kayanya saya harus segera nonton Marie Kondo juga nih. Semoga tulisan saya membantu 🙂