Renungan Si Ibu Yang Mulai Puasa Lagi Paska Absen 2 Tahun

Halo buibu, gimana kabarnya? Yang berpuasa, udah bolong belum? Moga-moga semua yang dijalani lancar aja ya…

Kebeneran saya baru menjalankan puasa lagi setelah 2 tahun absen. Tahun pertama, Samuel baru lahir jadi ASI sedang sangat eksklusif. Tahun kedua, saya nyoba puasa dan jadi kleyengan pusing. Samuel juga terlihat kurang puas disusui. Akhirnya saya putuskan absen lagi.

Awalnya sebelum puasa tahun ini saya nggak mikirin amat puasa dan nggaknya, karena saya pikir kalau nggak kuat ya sudah jangan dipaksakan. Mungkin juga karena saya baru pindah rumah jadi fokus saya masih bertahap. Lalu saya baca postingan bagus di instagram. Intinya cukup menyemangati saya buat bisa berpuasa.

Saya jadi ingat dulu sempat down karena saya nggak mampu puasa, padahal rasa kangen ibadah itu ada. Saya sempat membandingkan kondisi saya dengan teman lain yang sudah bisa puasa tahun kedua. Tapi saya sadar Islam itu pengertian dalam berbagai kondisi, termasuk jadi Ibu. Lagipula keadaan dan kondisi fisik tiap ibu berbeda. Saya juga pasti ngga bisa nikmatin ibadah Puasa kalau anak saya tidak tercukupi kebutuhannya.

Alhamdulillah semangat itu terkumpul lagi. Tapi nyatanya saya cukup kaget dengan perubahan aktivitas di bulan Puasa. Saya harus tetap fokus dengan kebutuhan anak sembari menahan lapar haus dan nafsu. Belum lagi dengan adaptasi rumah baru, mengurus rumah, lain-lain, saya sempat kewalahan dan cukup merasa stres. Jujur aja, sempat ngerasa pengen cepat kelar bulan puasa, hahaha…

Tapi justru setelah saya ngerasa begitu, saya evaluasi ulang apa yang salah. Ini Ramadhan lho, jangan-jangan saya took it for granted. Setelah saya cermati, saya merasa tercukupi dengan kebutuhan saya sekarang dan saya lupa kalau mungkin ini terjadi karena doa-doa saya dan suami saya yang lampau. Sebelum pindah rumah, ada tahapan masalah yang Alhamdulillah berhasil terlewati dan itu cobaan yang cukup besar buat saya dan suami. Salah satu usaha kami melewatinya dengan berdoa. Alhamdulillah semuanya terlewati dan kami bersyukur.

Seketika saya merasa malu dan merasa punya banyak kekurangan karena sudah merasa semua tercukupi. Mana tahu kalau Yang Maha Kuasa mau, bisa dia putar balik kondisinya (Wallahu’alam). Sepertinya saya belum terbiasa dengan dinamika kesibukan di bulan puasa. Memang secara selintas, makna puasa adalah merasakan kondisi bagi yang tidak mampu. Namun sebenarnya makna puasa adalah meningkatkan takwa (ini juga dari ceramah yang saya lihat di sosmed). Dan InsyaAllah ketakwaan saya lagi ditantang dan mau ditingkatkan.

Sepertinya nih saya lupa menekankan kebutuhan istirahat saya, jadi sekarang saya hampir selalu ikut tidur siang bareng Samuel atau seenggaknya curi-curi tidur sambil jagain dia (dengan catatan dia lagi anteng). Beribadah puasa dan tarawih, insya Allah makin ditingkatkan. Nggak usah juga masak yang keribetan, toh suami saya juga minta masak yang sederhana saja. Jadi saya nggak memaksakan keadaan dan forsir energi saya..

Puasa juga katanya bentuk detox atau melepaskan racun di badan. Jadi katanya sih kita sebenarnya ngga perlu diet, cuma butuh puasa aja.

Oyah saya juga baca tips Ramadhan untuk para ibu ini, bagus juga. Semoga ngebantu ya.

See you later, moms. Be happy ya.

Advertisements

Mengurai Kepala (Ibu) Yang Kusut dan Trik Mengatasinya

mumet kepala ibu
*ilustrasi gambar komik dari aplikasi edit foto xiao mi redmi

Siapa yang udah jadi Ibu tapi kepalanya nggak pernah kusut atau pusing? Mungkin cuma ibu dalam film atau dongeng yang dikisahkan sempurna atau sabar. Tapi in real life, saya rasa nggak ada. Karena tugas Ibu segambreng dan nggak mungkin satu tugas nggak pernah ‘ketimpa’ tugas yang lain.

Kisah saya hari ini, ini hari kedua saya PMS. Menu masak saya rada ngejelimet. Baju setrikaan masih numpuk. Si bayi yang nyaris 2 tahun sepertinya sedang tumbuh gigi dan jadi 3 kali hari ini BAB. Belum pikiran soal rumah yang punya sedikit kekurangan dan pikiran mau cari rumah yang lebih baik lagi. Tiap hari, saya selalu sedikit bingung mikirin gimana saya bisa masak dan lain-lain tanpa bikin anak saya rewel ditinggal saya. Mungkin keribetan saya ini nggak ada apa-apanya dibanding Ibu yang anaknya lebih banyak dari saya, yang juga nggak didampingi ART. Yah saya salut buat ibu-ibu ini, bagi resepnya ya!

Malam ini kala saya menidurkan anak saya, saya ngerasa kepala saya hectic atau ribet. Dan dalam waktu yang cukup lama nggak pernah saya seperti ini lagi, saya nanya ke diri sendiri, kenapa kepala saya ada rasa marah? Jawaban saya, ya karena badan saya lelah tapi saya harus melakukan ini-itu. Kalau saya skip, sistemnya down. Nggak mungkin saya biarkan anak saya lapar nggak ada yang masakin, nggak mungkin saya biarin anak saya nggak tidur karena nggak ada yang ngelonin. Tapi di lain sisi, anak saya lagi pertumbuhan dan kata banyak orang, masa itu cuma sebentar.

Mau nggak mau, kepala memang mesti kusut. Tapi bukan berarti nggak bisa diuraikan. Kalau nggak, yang kena malah anak (bisa dimarah-marahi) atau orang sekitar kita.

Trik buat meredakan kepala kusut buat emak-emak:

  • Ucapkan Istighfar. Ini saya nggak tau istilahnya di agama lain. Kalau di Islam, mengucap Istighfar atau ‘Astaghfirullah hal adziim’ bisa insya Allah merontokkan dosa karena artinya memohon ampun. Bisa jadi kesalahan yang dulu-dulu berimbas ke sekarang. Kepala kusut, mood mau marah-marah bisa reda dengan mengucap doa ini. Coba deh!
  • Break sejenak dari rutinitas. Kalau udah mampet, kesal dan badan capek, mending istirahat. Nanti kalau diteruskan kerjaan jadi setengah hati dan nggak total. Bisa jadi nggak ibadah (tugas ibu itu kan ibadah juga). Ajak juga bercanda si kecil jadi dia nggak merasa dicuekin banget.
  • Mengurai tugas-tugas besar. Saya baca trik ini dari blog ibu luar negri (yang saya lupa sumbernya, maaf). Kalau tugas terasa besar, diurai kecil-kecil dulu. Misalnya mau masak nasi, cuci dulu tempat nasinya. Mau cuci baju, masukin dulu atau pilah-pilih baju kotor dulu yang mau dicuci. Mau masak teri balado, potong-potong dulu cabenya (hehe ini menu saya hari ini ๐Ÿ˜…). Minimal kekejar pelan-pelan tugasnya.
  • Berdoa dan Ibadah. Don’t underestimate the power of prayer! Kadang-kadang ada sesuatu yang nggak kesampaian itu cuma karena lupa nggak didoain aja. Ini bisa juga dengan mengaji Qur’an. Terbukti bisa bikin batin tenang.
  • Belum juga reda kusutnya? Mungkin ini saatnya cari bantuan buat kerjaan rumah.
  • Kalau nggak bisa cari bantuan, ya accept the fact that some days are harder than others. Man up! You can do it ๐Ÿ˜‰ Jangan mau dikalahin sama kerjaan rumah dan tugas jadi Ibu.

Lumayan juga ya nulis ini bisa nyemangatin diri sendiri. Mudah-mudahan tulisan ini ngebantu dan hari emak bahagia ya ๐Ÿ˜‰ Selamat istirahat

Ngomongin Pengalaman Di-Mom-Shaming

mom-shaming.jpg

Ibu-ibu, selamat hari internasional wanita ya ๐Ÿ™‚ Here’s to all women, especially mothers. Paas banget lagi kepingin ngomongin Mom-Shaming.

Apa itu Mom-Shaming? Menurut artikel di Tempo ini, Mom-Shaming adalah sebuah perilaku mempermalukan ibu-ibu lain dengan cara menampilkan diri sebagai ibu yang lebih baik, lebih hebat, kalau tidak mau disebut sempurna. Sound familiar nggak tuh?

Kalau menurut saya sih, Mom-Shaming adalah salah satu bentuk nyinyir dengan label atau level Ibu. Dan seperti efek nyinyir pada umumnya, ya, negatif. Jadi bikin kita merasa nggak baik, dalam kasus ini sebagai ibu. Padahal, image ibu (yang ini juga nggak real tapi sering menghantui ibu-ibu) haruslah sempurna dan yang paling the best dalam ngurus anak dan keluarga. Seenggaknya, kita beri yang terbaik untuk keluarga kita. Terus, di-Mom-Shaming lagi, itu rasanya… aduh…

Kalau saya sih pernah ngerasain di-Mom-Shaming. Untungnya nggak sering-sering, karena efeknya nggak enak. Waktu itu Samuel usianya baru beberapa bulan. Seorang kerabat mengkritik cara saya menggendong Samuel. Ia dengan detil mengatur posisi tangan saya. Ia juga menyuruh saya memposisikan Samuel digendong dengan posisi tiduran.

Maklum deh, sebagai anak bungsu, saya tuh hampir nggak pernah pegang bayi kecuali beberapa menit aja, sebelum punya anak sendiri. Saya selalu menggendong Samuel dengan posisi berdiri, karena inilah senyaman-nyamannya saya menggendongnya. Lagipula, saya ngerasa si bayi nggak betah ditidurin dalam gendongan tangan saya.

It made me feel ashamed dikritik hal se-basic itu, apalagi didengar beberapa orang lain. Hmm, apa harusnya saya kursus gendong anak dulu pas hamil ya?? Kala itu sudah ribet dengan persiapan kelahiran dan lebih-lebih pas tahu saya preeclampsia.

Sambil nahan malu, saya perbaiki cara gendong Samuel. Namun ketika saya posisikan Samuel ke tidur dalam gendongan saya, ia malah rewel. Maunya diberdirikan ๐Ÿ˜…๐Ÿคฃ Nah bener kan. It proves a bit kalo tetep aja yang paling ngertiin bayi si Ibu sendiri, walo Ibunya masih cupu ngurus bayi :”)

Mengutip lagi artikel tadi:

โ€œPara ibu menyerang satu sama lain karena ada sesuatu yang hancur di dalam diri mereka sendiri,โ€ analisis Stephanie Barnhart, pendiri Socialminded Media Group dan editor Mommy Nearest, New York, AS. Sesuatu yang hancur di antara pikiran tentang cucian menggunung, belanja bahan makanan, mainan pasir anak atau baju murah, dan rumah yang berantakan. โ€œSungguh berat tugas seorang ibu. Jadi mengapa kita begitu kejam satu sama lain?โ€

Stephanie Barnhart mengungkapkan beberapa faktor yang membuat seorang ibu menjadi pelaku mom-shaming, antara lain merasa bosan, marah, cemburu, repot, terlalu letih, kehilangan jati diri, dan haus pengakuan.

Bosan karena melakukan aktivitas yang sama setiap hari, marah karena tidak bisa marah pada anak yang sekali waktu menyebalkan, cemburu pada ibu lain yang masih sempat mengurus kecantikan, repot karena terlalu ingin menjadi ibu yang sempurna, terlalu letih karena alasan yang tidak perlu disebutkan lagi, kehilangan jati diri karena tidak bisa lagi bersikap seperti lajang, dan haus pengakuan karena hanya ingin sedikit merasa bangga (bahagia).

Yah seperti yang sudah diduga sih, apapun lontaran negatif dari mulut orang, asalnya dari batinnya sendiri yang kurang hepi. Saya sendiri berusaha menelan momen itu dan move on, tapi selalu ingat bagaimana Samuel lebih memilih posisi gendong berdiri. Suami saya juga selalu bilang ngga usah pikirin lah omongan orang, yang tahu gimananya kan cuma kamu aja.

Kritik kalau memang buat kita jadi lebih baik gapapa. Tapi kalau sehari-hari kerjaan rumah seabrek, ngurus anak udah nguras tenaga, belum hal-hal lain yang nggak boleh dilupain buat dikerjakan, terus apa dengan Mom-Shaming bisa bikin batin lebih bahagia? Yang ada bikin hubungan merenggang dan rasa puas yang nggak real. Apa nggak sebaiknya kita para ibu-ibu dan emak-emak yang lelah ini saling dukung aja ya? Lagipula, versi kita urus anak belum tentu bisa cocok dengan anak lain.

Let’s just support each other, bikin mood satu dan lainnya lebih cerah. Karena tanpa di mom-shaming aja, hari udah rempong ngurus anak dan hal-hal lain. Ya, nggak?

Apa Kabarnya

IMG_20180115_092350.jpg

Assalamu’alaikum, hello again buat yang suka baca blog ini. Punten, maaf nggak pernah update lagi si kecil makin besar makin aktif dan akhirnya mau nggak mau saya nggak bisa lepasin dia gitu saja kecuali pas tidur. Yah, sama-sama ibu sama-sama ngerti lah ya kaya gimana kalau ngurus bayi… Ngurus diri aja kelupaan (curhat).

What’s going on selama kurang dari setahun belakangan? Seneng banget, Samuel sudah bisa mandiri wara-wiri sendiri dan udah bisa sesekali ucap 2 dan 3 kata sekaligus membentuk satu kalimat. Sudah bisa bilang sendiri ‘laper’ atau mau ‘bobo’. Makannya juga udah kurang lebih hampir sama dengan menu ortunya, kecuali yang pedas dan terlalu berbumbu. Selera makannya juga Alhamdulillah bagus… Doyan ngemil juga (ini juga kadang bikin pusing, soalnya kalo perutnya kosong jadi masuk angin dan bisa sakit).

Sebelumnya, saya pernah posting soal yang diharapin 6 bulan mendatang. Hampir semua kejadian, kecuali tetep update blog ๐Ÿ˜ฆ Pernah juga mikir ngeblog dengan micro blogging aja alias lewat instagram, tapi kurang sukses juga ya karena lebih fokus ke fotonya dan tetap aja no time buat nulis. Sayaaang banget ya, tapi keinginan ngeblog harus dikesampingkan karena prioritas tetap anak. Mudah-mudahan nih bakal lebih sering update habis ini. Doain yaa, aamiin…

Ibu-ibu sendiri gimana kabarnya? Umur anaknya berapa dan sedang sibuk apa?

SunGlow Review: Promina Puffs

promina1

Sebagai mami yang doyan icip-icip (ngemil), untuk milih makanan anak saya juga pengen coba hal baru. Saya suka iseng cari produk baru yang cocok untuk Samuel, terutama untuk melatih gigitan giginya. Daripada maminya ngemil sendirian, saya pengennya Samuel juga ikut ngemil. Kadang bingung nih sama opsi cemilan bayi yang rata-rata berupa biskuit. Nah, salah satu produk yang saya pilih untuk si bayi adalah merk Promina.

Promina punya produk lain selain bubur, seperti snack misalnya. Serunya lagi, selain snack biskuit Promina punya produk baru berupa finger snack beras untuk usia bayi 8 bulan ke atas. Pas banget deh, saya soalnya selalu kepengen Samuel coba makan sendiri.

Saya cobain Promina Puffs ke Samuel. Promina Puffs punya 2 rasa yang katanya paling disuka bayi, rasa pisang dan blueberry (kebeneran saya juga suka sama dua rasa ini, walau nggak ngaruh sih yang cobain kan anaknya ya).

promina2

Nyatanya anak ini doyan banget sama Promina Puffs. Dia suka pegang snacknya yang bentuknya seperti bunga kecil. Bahkan kalau disuapin mulutnya sudah terbuka lebar, haha. Kalau ia dikasih, ia akan rogoh tangan ke dalam kemasan dan rasain teksturnya aja lalu diperhatiin (masiiih seperti ini). Maklum Samuel masih senang disuapin, padahal ditangannya udah ada makanannya tapi tetep maunya dari tangan si ibu.

Begitu dicoba, snack ini gampang lumer dan nggak terlalu manis namun pas. Promina Puffs memang mengandung gula tapi hanya satu gram. Rasa buahnya juga terasa alami dan nggak berlebihan. Komposisi lainnya tentunya adalah beras yang dominan, pati gandum dan pilihan buah asli.

Yang saya juga suka dengan cemilan ini adalah kemasannya yang punya seal (penutup) praktis. Setelah dibuka, produk bisa ditutup lagi dengan rapat. Kemungkinan sih cemilan ini bisa dua kali makan ya, jadi kalau mau ditutup nggak perlu repot cari toples atau wadah tertutup. Gampang juga kalau mau dibawa-bawa, ringan dan nggak berat (beratnya cuma 15 gram).

promina3

Mau info lebih lengkap, cek sosmednya:

Facebook: Bayi Sehat Promina

Instagram: @bayisehatpromina

www.promina.co.id

Jika Disuruh Nonton Film Berulang-Ulang Seumur Hidup, Saya Pilih Nonton…

Pastinya pertanyaan ini metafor aja, soalnya nonton film berulang kali bikin eneg lah. Sepertinya ini maksudnya memilih film favorit yang kita ngga keberatan nonton ulang-ulang.

images-1

Kalau disuruh pilih yang favorit, dan berulang kali ditonton mestinya yang bener-bener saya sukaaa sampai sedetil-detilnya. Sampai sekarang saya masih paling suka setiap aspek film 500 Days of Summer (2009). Dari cerita, grafis, aktor, tone, soundtrackย sampai pesan moral.

Yang belum tahu, film ini tentang Tom (Joseph Gordon-Levitt) yang naksir berat rekan kerjanya, Summer (Zooey Deschanel). Meski Summer terang-terangan bilang ia tidak percaya sama cinta dan hubungan serius, Tom berhasil memacarinya. Tapi suatu hari Summer minta putus, Tom susah move on.

Cukup sederhana kalau diceritakan, tapi kalau ditonton jadi seru karena alur ceritanya loncat-loncat. Dari hari pertama bertemu Summer hingga hari ke 500.

Film ini juga cukup disukai teman-teman saya waktu itu dan bahkan suami (dari sebelum pacaran, suami setel soundtrack buat metode PDKT ๐Ÿ˜‚).

Film lain yang saya pilih:

  • The Holiday
  • 13 Going On 30

Kumpulan Kata Kutipan Favorit

1493017788009

Untuk tantangan nulis berikutnya, saya pilih kutipan favorit, alias quotes.

Saya suka banget quote dari film Black Swan (2010), terlepas dari campur tangan Tuhan:

“The only person standing in your way is you.”

Juga quote dari serial How I Met Your Mother yang bisa jadi penyemangat ini:

“When I’m sad, I stop being sad and being awesome instead. True story.” Barney Stinson

Tentang menghadapi kritik:

“To escape criticism: do nothing, say nothing, be nothing.”

Tentang istri:

“In Islam, a woman is considered a homemaker. She is not considered a housewife, because she is not married to the house.” Zakir Naik

Setuju apa nggak setuju, buibu?